HomeOpiniPrivilese

Privilese

Oleh: Alissa Wahid
Koordinator Jaringan Gusdurian

Pukul empat pagi dalam kondisi kurang tidur, saya terkantuk-kantuk berdiri di antrean panjang validasi surat keterangan bebas Covid-19. Kala itu aplikasi Peduli Lindungi belum berfungsi, dan penumpang harus mendapatkan validasi yang distempel di hasil laboratorium. Butuh waktu cukup lama di antrean.

Tiba-tiba di barisan lain, saya melihat seorang laki-laki menerobos antrean dan membawa beberapa lembaran yang harus divalidasi. Saya menggerutu dalam hati, tidak berbuat apa-apa. Orang-orang di barisan tersebut tampak bersungut-sungut, tetapi tidak bertindak.

Baca juga Pembangunan Karakter Melalui Buku Cerita Anak

Selepas proses validasi selama sekitar 20 menit, saya antre di barisan masuk security area bandara di mana petugas keamanan meminta kita membuka masker sambil mencocokkan data di KTP. Hanya ada satu barisan sehingga proses pun berlangsung lamban.

Mendadak laki-laki yang sama muncul di ujung barisan, menerobos dari samping diikuti beberapa orang yang tampaknya pejabat. Kali ini, sebelum mereka sampai di titik saya menunggu, saya sengaja menggeser koper saya menutup jalan di samping barisan.

Baca juga Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Ketika si laki-laki sampai di titik saya sambil setengah membentak, ”permisi!” saya hanya menoleh sekilas sambil menjawab dengan nada datar, ”Maaf Pak, saya sudah mengantre sejak tadi. Saya keberatan Anda menyerobot saya. Silakan mundur ke belakang.”

Si lelaki bersiap untuk membantah, tetapi sang pejabat memilih untuk mundur. Mungkin menghindari video-video viral bila mereka memaksa dan saya melawan terbuka. Apesnya, orang-orang di belakang saya pun akhirnya bersuara, tidak mau diserobot. Walhasil, mereka terpaksa mundur panjang untuk bisa masuk dalam barisan antre. Orang-orang terus mengomel dengan suara cukup terdengar.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bagian 1)

Belakangan saya tahu mereka adalah anggota parlemen yang hendak berangkat dengan pesawat menuju Indonesia Timur. Mereka pun menyerobot di antrean boarding dan tak ada orang yang menghentikan mereka.

Pengalaman diserobot makin lama makin sering saya alami. Bahkan, di antrean check-in kelas bisnis penerbangan yang lazimnya lebih hati-hati, hari-hari ini sangat sering kita harus bersabar menunggu protokol pejabat sipil maupun Polri-TNI menyerobot barisan antre untuk mengurus tiket penumpang-penumpang istimewanya. Demikian juga turun dari pesawat. Dulu, para penyambut menunggu di area luar. Makin ke sini, semakin banyak tim penyambut menunggu di depan belalai pesawat.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.2)

Soal antre dan sambutan di bandara ini hanya salah satu penanda sikap berhak privilese dari para pejabat kita. Tak jarang di jalan raya Ibu Kota kita bertemu dengan kendaraan-kendaraan yang tidak berpelat pejabat tinggi negara pun menggunakan sirene strobo di jalan raya, hanya karena ingin membuka jalan di tengah kemacetan.

Di Indonesia, agaknya banyak pejabat publik dan selebritas kita merasa bahwa jabatan dan status sosial sama dengan privilese yang melekat, bahkan di ruang publik. Jabatan menjadi gerbang untuk mendapatkan pelayanan ekstra, demikian juga dengan status sosial. Tentu saja, ini menciptakan banyak masalah budaya masyarakat.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.3)

Mark Cole dalam tulisannya, A Leaders Most Dangerous Thought (2019), menyatakan bahwa pikiran pemimpin yang paling berbahaya adalah pikiran ”I Deserve” alias ”saya berhak”. Walaupun posisi kepemimpinan memang membawa beberapa privilese yang layak dilekatkan, mental set berhak privilese ini akan memerangkap seorang pemimpin untuk menganggap dirinya sebagai orang yang paling tahu dan paling berkuasa.

Dan ketika ini terjadi pada pejabat publik, penyalahgunaan wewenang pun menjadi sangat mudah terjadi. Bahkan, hukum rembesan kepemimpinan (trickle down effect) pun akan berlaku: anak buah sang pemimpin pun akan menggunakan relasi kuasa dalam kesehariannya. Saya sering menemukan eselon 3 kementerian/lembaga yang sudah berlagak sebagai pejabat tinggi negara terhadap staf-stafnya, sesuai teladan atasan-atasannya. Contoh paling mudah adalah insiden-insiden satpol PP di berbagai daerah yang beringas menghadapi rakyat.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag. 4-terakhir)

Cole mengingatkan, kepemimpinan adalah sebuah peran, bukan sebuah posisi. Dan kita bisa melihat para mantan pejabat yang mengandalkan kekuasaan dan privilese dari posisinya dulu, selepas hilangnya posisi justru mengalami sindrom sulit beradaptasi dengan gaya hidup rakyat biasa.

Sebagai kontras, banyak kisah terekam tentang Buya Syafii Maarif. Di usianya yang sudah sepuh, beliau menolak diperlakukan istimewa di mana pun dan berkeras mengikuti aturan, tetap antre menunggu giliran, baik di bandara, rumah sakit, maupun tempat umum lainnya. Karena integritas beliau, walaupun tidak memiliki jabatan atau posisi apa pun, masyarakat selalu menghormati beliau.

Baca juga Istikamah dalam Perdamaian: Support System untuk Mendukung Pertobatan Mantan Pelaku

Lepas dari persoalan personal, budaya pejabat dengan mental set berhak privilese ini berdampak besar pada budaya masyarakat yang ada. Pendapat bahwa orang Indonesia sulit diatur tak lepas dari bagaimana para pejabat kita membengkokkan aturan atas dasar hak istimewa pejabat itu.

Dampaknya, peraturan menjadi hal yang tidak lagi meng-atur, karena boleh dilanggar asal kita punya jabatan atau status sosial. Tak heran beredar video-video viral tentang pejabat atau selebritas yang terekam menuntut perlakuan istimewa dan tidak terima diperlakukan sebagaimana rakyat biasa. Kalimat sakti ”kamu tidak tahu saya siapa?” kerap kita temukan dalam video-video seperti ini.

Baca juga Ekstremisme Berlawanan dengan Fitrah Manusia: Refleksi Mantan Pelaku

Alhasil, kepercayaan publik terhadap aturan pun menjadi rendah. Humor klasik kita rupanya masih berlaku dalam kehidupan nyata: di Indonesia, segalanya bisa diatur. Apalagi punya jabatan dan status sosial.

*Artikel ini terbit di Harian Kompas, Minggu 20 Februari 2022

Baca juga Pendidikan untuk Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....