HomeOpiniIsra’ Mi’raj dan Kepekaan...

Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Oleh Ahmad Hifni
Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Setiap tanggal 27 Rajab umat Islam diingatkan pada momen Isra’ Mi’raj sebagai peristiwa penting berupa diterimanya perintah shalat lima waktu bagi kaum Muslimin. Peristiwa Isra’ Mi’raj juga mengingatkan kita akan perjalanan spiritual Nabi Muhammad Saw yang tidak hanya sulit dijangkau oleh nalar dan logika manusia, tetapi juga pengingat bahwa akal bukan segala-galanya.

Secara eksplisit peristiwa Isra’ Mi’raj telah dibenarkan di dalam al-Quran, bahkan menjadi salah satu nama surat al-Isra’. Peristiwa itu merekam pengalaman luar biasa Rasulullah Saw sebagai penyempurna ajaran Islam. Isra’ adalah perjalanan super kilat Nabi pada suatu malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsa Palestina. Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan lanjutan Nabi dari Masjid al-Aqsa menuju Sidrah al-Muntaha, suatu dimensi ruang dan waktu yang tak terjangkau oleh nalar manusia.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bagian 1)

Karena akal manusia tak mampu mencapat derajat pengetahuan itu, maka kita dituntut memahaminya dengan keimanan. Manusia tidak mungkin mampu mencapai derajat pengetahuan itu, apalagi kemampuan manusia yang sifatnya hanya mampu menguji hal-hal yang bersifat empiris. Pengalaman Nabi itu adalah penegasan bahwa akal manusia tidak akan mampu menjangkau segala-galanya. Maka berarti peristiwa Isra’ Mi’raj adalah simbol mukjizat akal sehingga kita hendaknya tidak terlampau tunduk pada akal.

Dalam sejarah Islam disebutkan, ada dua orang yang sangat berjasa dalam dakwah Nabi di awal-awal perjuangan Islam. Mereka adalah sang istri, Khadijah dan pamannya, Abu Thalib. Khadijah senantiasa memberikan pendampingan, kasih sayang, dan dukungan materi sebagai seorang saudagar kaya. Sementara Abu Thalib begitu keras dan tegas membela Nabi dari para penentangnya. Dua orang tersebut begitu berjasa bagi dakwah Rasulullah ketika mengalami penolakan dan pertentangan dari kalangan masyarakat Makkah.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.2)

Maka ketika Nabi kehilangan dua orang tersebut, Nabi merasakan kepedihan yang sangat mandalam. Kepergian dua orang istimewa ini juga berpengaruh besar terhadap perjalanan dakwah Nabi. Orang-orang Kafir-Quraisy kembali mengancam dan melakukan serangan terhadap Nabi. Sementara itu, Khadijah sebagai penghibur jiwa dan pelipur lara Nabi dan Abu Thalib sebagai penolong, pelindung dan orang yang mati-matian membela Nabi telah meninggal dunia.

Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi setelah Nabi kehilangan dua orang paling berjasa tersebut. Karena itu, peristiwa Isra’ Mi’raj seolah menjadi penghibur Nabi dari duka kejahatan kaum musyrikin dan kepergian dua orang istimewa itu. Setelah ujian demi ujian terjadi, Nabi dibawa pada pengetahuan yang hanya bisa dicapai dengan derajat haqqul yaqin, suatu derajat pengetahuan tertinggi dalam keimanan. Dengan derajat pengetahuan itu, Rasulullah mampu melihat sesuatu di luar jangkauan logika dan nalar manusia yang hanya fenomena saja.

Empati

Itu artinya, momen Isra’ Mi’raj yang selalu diperingati oleh umat Islam hendaknya menjadi pelajaran dari kerisalahan Nabi di atas. Bahwa dalam melihat kebenaran, tidak cukup hanya bersandar pada logika dan akal semata. Setiap manusia membutuhkan keyakinan akan kebenaran Ilahi. Dan yang paling penting adalah memperkuat rasa empati untuk melihat orang lain sebagai sesama ciptaan Allah yang sama-sama membutuhkan hak-hak yang paling dasar dalam kehidupannya.

Baru-baru ini kita patut menyayangkan, kekerasan dalam peperangan kembali terjadi dalam tragedi invasi Negara Rusia terhadap Ukraina. Seluruh pihak tentu memiliki logika dan nalarnya sendiri dalam membenarkan tindakan dan pilihan sikapnya. Namun sebaik apapun logika yang dibangun, tanpa kepekaan nurani dan empati, maka yang terjadi adalah penderitaan bagi para korban kekerasan itu sendiri. Nyawa dan darah yang mengucur adalah korban dari logika-logika yang tak diimbangi oleh nurani kemanusiaan.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.3)

Tak hanya korban peperangan, setiap bentuk kekerasan apapun tak bisa dibenarkan dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Kekerasan terorisme misalnya, juga telah menelan begitu banyak korban yang tak bersalah apa-apa. Kesedihan sudah tentu mereka rasakan. Sebab, kekerasan telah menghilangkan nyawa, membuat korban kehilangan bagian dari tubuhnya, sementara anak-anak menjadi yatim piatu dan terancam kehilangan mimpi dan masa depannya.

Kepekaan empati sangat kita butuhkan untuk melindungi fisik, mental, dan nyawa manusia dari penderitaan yang tidak perlu. Hidup dengan kedamaian adalah kunci membangun peradaban. Sementara hidup dengan permusuhan adalah awal malapetaka. Sikap merendahkan, mencela, mengejek, menggunjing, berburuk sangka, dan mencari-cari kejelekan orang lain adalah tanda-tanda dari matinya kepekaan nurani dan empati kita.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag. 4-terakhir)

Tak jarang salah satu penyebab tragedi kekerasan dan peperangan berawal dari permusuhan dan kebencian. Maka dari itu, persaudaraan yang dibangun atas saling pengertian dan pemahaman harus dikedepankan sesuai ajaran Islam yang suci dan agung. Tugas utama umat Islam adalah menjaga nilai-nilai universal seperti kedamaian dan persaudaraan. Islam tidak membawa kobaran api kekacauan dan kekerasan.

Dengan pelajaran itu, maka peristiwa Isra’ Mi’raj yang kita peringati setiap tahunnya patut menjadi perenungan untuk mengontrol logika kita agar tidak berlebihan serta memperkuat kepekaan empati kita terhadap sesama. Tugas utama dari kenabian Muhammad Saw setelah peristiwa Isra’ Mi’raj itu adalah menjadikan Islam sebagai rahmat yang identik dengan perdamaian, kelembutan, kasih sayang, dan hal-hal lain yang berlawanan dengan kekerasan ataupun peperangan.

Baca juga Istikamah dalam Perdamaian: Support System untuk Mendukung Pertobatan Mantan Pelaku

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Para korban yang terkena dampak serangan terorisme banyak...

Kebahagiaan Merayakan Idul Fitri

Aliansi Indonesia Damai- Syukur alhamdulillah, setelah dua kali merayakan Hari Raya...

Ibroh dari Dialog Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagian orang mungkin memandang perjumpaan antara pelaku terorisme...

Refleksi Akhir Tahun Korban, Pelaku Terorisme, dan Nurani Kita

Oleh Ahmad HifniMahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Menjelang akhir tahun ini,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...