HomeOpiniMetanarasi Agama: Kegagalan...

Metanarasi Agama:
Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.3)

Oleh: Fikri
Master Ilmu Politik Universitas Indonesia

Kegagalan kelompok ekstrem dalam mewujudkan metanarasi atau ide besar tentang komunitas dan sistem legal yang berlandaskan Islam sangat terlihat jelas, meski cita ideal itu tak pernah padam. Nyatanya setiap kelompok ekstrem terus bermunculan. Ibarat pepatah “Mati satu tumbuh seribu.”

Sejak era kemerdekaan Indonesia muncul kelompok bernama Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Usai imam besarnya, SM Kartosuwiryo, ditangkap dan dihukum mati oleh pemerintah, maka muncul generasi penerusnya yang mengibarkan panji Negara Islam Indonesia (NII). Kelompok ini kemudian melahirkan sejumlah faksi dan pecahan, salah satunya yang paling populer adalah Jamaah Islamiyah (JI) di era 90-an.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bagian 1)

Seiring waktu,  JI pun bisa dikatakan lumpuh, setelah para pentolannya harus berhadapan dengan penegakan hukum oleh aparat negara. Sejak munculnya ISIS di Suriah dan Irak pada tahun 2014, di Indonesia muncul kelompok yang mengklaim berafiliasi dengannya, yaitu Jamaah Ansharud Daulah (JAD), di samping kelompok-kelompok kecil lainnya. Dalam hemat penulis, kelompok-kelompok di atas cukup besar ditilik dari jumlah pengikutnya yang terbilang banyak.

Membaca ekstremisme dari metanarasi yang mereka bangun, hampir di setiap aspek mengalami kegagalan. Jika legitimasi, kredibilitas, dan relevansi adalah bahan bakar metanarasi, maka ketiga-tiganya lemah.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.2)

Pertama, legitimasi narasi-narasi ekstremisme masih bersifat multitafsir; a) Jihad dalam konsep Islam tidak hanya diaktualisasikan dengan perang sebagaimana yang selalu digemborkan kelompok ekstrem. Bekerja untuk menafkahi keluarga, melawan hawa nafsu, berdakwah untuk pembangunan manusia, dan masih banyak lagi amal kebaikan yang dikategorikan sebagai jihad asalkan dilandasi dengan niat yang benar.

Aktualisasi jihad mengikuti kondisi pribadi dan sosial yang berbeda-beda. Dalam situasi invasi militer yang mengancam kedaulatan dan marwah bangsa, tentu saja jihad diaktualisasikan dengan perang, sebagaimana terjadi zaman kolonialisme dulu. Dalam situasi yang damai, maka suami yang bekerja keras untuk menafkahi keluarga agar bisa beribadah kepada Allah Swt dan tokoh agama yang berdakwah dengan penuh kerahiman adalah mujahid;

Baca juga Istikamah dalam Perdamaian: Support System untuk Mendukung Pertobatan Mantan Pelaku

b) Hukum bai’at (sumpah setia) harus diputuskan oleh pemimpin umat yang terdiri dari ulama dan umara atau orang-orang yang dihormati lainnya. Tidak bisa diputuskan oleh satu orang saja. Sedangkan pemimpin kelompok ekstrem tidak mewakili mayoritas umat Islam. Oleh karenanya ia tidak memiliki kewenangan untuk mengambil bai’at dari siapa pun;

c) Umat. Istilah umat dalam definisi kelompok ekstrem mengandung overclaim. Terlalu berlebihan mengklaim bahwa kelompok mereka adalah umat yang terpilih dan paling benar;

Baca juga Ekstremisme Berlawanan dengan Fitrah Manusia: Refleksi Mantan Pelaku

d) Takfir. Ini adalah masalah yang sangat serius. Diperlukan kaidah-kaidah dan pengetahuan syar’i untuk memahami masalah ini, karena dampaknya berkaitan dengan tumpahnya darah kaum muslim. Sedangkan kebanyakan ekstremis memiliki pengetahuan sedikit, sehingga yang terjadi adalah pengafiran besar-besaran terhadap orang yang berbeda pendapat dengan mereka; 

e) Kesyahidan. Status ini tidak sesederhana dalam definisi kelompok ekstrem. Apalagi serangan bom bunuh diri. Sepanjang sejarah perjalanan nabi dan sahabat, syahid benar-benar ditujukan bagi orang yang terbunuh di jalan Allah, oleh musuh dan situasi yang jelas:

Baca juga Pendidikan untuk Perdamaian

f) Al wala’ wal bara’ (kesetiaan dan berlepas diri). Konsep ini masih bias di kalangan ekstremis. Salah satu ekspresi al bara’ di kalangan ekstremis misalnya dengan memosisikan aparat negara sebagai musuh. Ini tentu sangat lemah. Pasalnya sebagian besar aparat, khususnya di Indonesia, merupakan muslim yang masih menjalankan rukun Iman dan Islam;

g) Hijrah. Konsep ini sejatinya berkaitan dengan semangat untuk terus maju dan berubah menuju kehidupan yang lebih baik. Jika hijrah secara fisik harus dilakukan, maka hanya bisa dipertimbangkan dalam situasi yang mengerikan, misalnya ketika khawatir adanya ancaman kebebasan beragama atau keamanan hak-hak pribadi dan martabatnya. Selain itu, pertimbangan mengenai keluarga, orang tua, dan anak-anak juga sangat penting. Lebih utama berupaya mengubah tanah kelahirannya menjadi lebih baik, ketimbang lari dari persoalan.

Baca juga Refleksi Akhir Tahun Korban, Pelaku Terorisme, dan Nurani Kita

Legitimasi narasi-narasi ekstremisme tampak literalis dan simplistis. Padahal banyak alternatif tafsir atas teks Al-Quran dan Hadist yang ditawarkan oleh ulama-ulama yang mu’tabar (otoritatif). Masing-masing tafsir mempunyai rujukan yang kuat. Sehingga sangat keliru jika mengklaim hanya pendapatnya yang benar, sedangkan yang lain salah. Ini adalah contoh gamblang kegagalan metanarasi ekstremisme. (bersambung)

Baca juga Distorsi Kaidah Ulil Amri: Upaya Memahami dan Menyikapi Kepemimpinan secara Utuh

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...