HomeBeritaMenebar Pesan Damai di...

Menebar Pesan Damai di Sumbar

Aliansi Indonesia Damai- “Peristiwa terorisme yang dialami para korban itu sudah berlalu lama. Namun dampaknya, yaitu sakit, kemudian trauma, itu masih dirasakan oleh para korban. Betapa luar biasanya dampak dari sebuah kekerasan yang namanya aksi terorisme.”

Pernyataan ini disampaikan Muhammad Habibi Ezyoni, mahasiswa Universitas Andalas (Unand) Padang dalam acara Diskusi “Mengukuhkan Peran Mahasiswa dalam Membangun Perdamaian” yang digelar AIDA di kampus Unand Padang, Sumatera Barat, beberapa waktu silam.

Baca juga Pejabat UNP Serukan Mahasiswa Jauhi Ekstremisme

Habibi merupakan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang digelar AIDA beberapa waktu sebelumnya di Padang. Di hadapan puluhan peserta diskusi, Habibi yang bertindak sebagai narasumber berbagi pengalamannya bertemu langsung dengan beberapa mantan pelaku dan korban terorisme dalam kegiatan pelatihan tersebut.

Menurut dia, ideologi terorisme sangat berbahaya dan bisa menyasar siapa pun, tak hanya orang awam namun juga kalangan terpelajar. Habibi mengungkapkan, dirinya pernah bertemu dengan Kurnia Widodo, mantan narapidana terorisme yang terlibat dengan kelompok ekstrem sejak SMA.

Baca juga Aktivis Mahasiswa Padang: Utamakan Perdamaian

Saat kuliah hingga menggondol gelar Sarjana Teknik Kimia dari salah satu perguruan tinggi negeri kenamaan di Bandung, Kurnia masih tetap aktif di jaringan ekstremisme kekerasan. Kurnia bahkan sempat membuat laboratorium perakitan bom. Walhasil dia harus berurusan dengan hukum.

“Rekan-rekan mahasiswa yang sedang masa mencari jati diri atau mencoba banyak hal untuk dipelajari harus tetap waspada dengan paham ekstremisme, karena doktrin-doktrin yang diberikan biasanya mereka ingin mendirikan sistem pemerintahan khilafah,” katanya.

Baca juga Menguatkan Filter Mahasiswa

Selain tentang pertemuannya dengan mantan pelaku terorisme, Habibi juga menuturkan perjumpaannya dengan korban terorisme. Ia mengungkapkan kekaguman atas kebesaran hati sejumlah korban terorisme yang bisa memaafkan para pelaku terorisme, padahal dampak yang ditimbulkan aksi tersebut sangat dalam. “Korban ada yang kehilangan anggota tubuh sampai kehilangan nyawa orang yang disayanginya,” ujarnya.

Habibi membandingkan dengan teman-temannya sesama mahasiswa yang terkadang bermusuhan lama dan tidak saling sapa hanya karena beda pendapat. “Kita bisa mencontoh para korban dan mantan pelaku terorisme yang bahkan bisa saling memaafkan, bisa duduk bersampingan, mereka bisa mempraktikan perdamaian,” ucapnya. [YNWH]

Baca juga Merangkul untuk Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...