HomeOpiniKekerasan Budaya

Kekerasan Budaya

Oleh: Idi Subandy Ibrahim
Peneliti Budaya, Media, dan Komunikasi. Pengajar Pascasarjana Universitas Pasundan.

Akhir-akhir ini fenomena kekerasan dan tayangan kekerasan sudah seperti polusi udara panas kehidupan kita memasuki abad ke-21. Sekalipun kekerasan sudah setua peradaban manusia, baru pada pergantian abad ini limpahan visualisasi kekerasan dengan bebas membanjiri ruang privasi seperti lewat televisi dan aneka media sosial.

Teknologisasi dan digitalisasi media membuat banjir informasi kekerasan menjadi menu sajian hiburan dalam genggaman dan ruang keluarga. Kejadian-kejadian di luar nalar kemanusiaan, mulai dari pembulian siswa, kekerasan di sekolah, pemerkosaan, penembakan, pembunuhan berencana, aksi begal di siang bolong, aksi-aksi premanisme dan terorisme, mutilasi dan pembunuhan berantai, hingga kekerasan terhadap binatang, dimediakan dengan rinci dan berulang-ulang serta dibagikan bebas di media sosial.

Kekerasan seperti mimpi buruk! Nurani kita terketuk untuk bertanya: mengapa untuk alasan-alasan yang tampak sederhana orang begitu mudah saling menyakiti bahkan melayangkan nyawa? Mengapa bangsa yang terlihat murah senyum seperti murah nyawa manusia?

Baca juga Manusia Digital dan Ke(tidak)bebasan

Dalam masyarakat yang kian stres dan penerapan hukum yang lemah, kekerasan menjadi bahasa atau alat berucap antarmanusia. Kekerasan bahkan bisa menjadi landasan keberadaan seseorang, kelompok, atau suatu rezim lokal, nasional, dan global. Kekerasan menjadi legitimasi kebudayaan: hidupnya budaya kekerasan menjadi kekerasan budaya, untuk meminjam kata-kata Johan Galtung.

Kekerasan mewujud dalam berbagai bentuk dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik. Sebutlah, misalnya, dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, penyeragaman merupakan kekerasan terhadap perbedaan: pemerkosaan terhadap potensi keragaman kreativitas anak didik. Penyeragaman membunuh kekayaan bakat manusia, anugerah Tuhan sejak lahir.

Baca juga Pendidikan Tanggung Jawab Bersama

Kekerasan dalam dunia pendidikan juga bisa mewujud dalam bentuk kebijakan komodifikasi pendidikan yang membuat hilangnya kesempatan anak-anak berbakat dari keluarga miskin dan kurang mampu untuk memasuki dunia pendidikan berbiaya tinggi. Hilangnya akses pendidikan adalah kekerasan terhadap asas keadilan yang bertentangan dengan dasar dan falsafah negara kita.

Kekerasan budaya bisa terasa meski tak terlihat, tetapi bisa juga terlihat meski tak terasa langsung. Kekerasan budaya berlangsung karena kekerasan telah mengalami proses internalisasi dalam jangka waktu cukup panjang. Tak heran kalau media sering menyebut bahwa kekerasan di media hanyalah cermin dari kekerasan yang sudah hidup dalam budaya masyarakat.

Baca juga Ruang Merawat Diri

Beberapa waktu lalu berbagai kalangan dibuat tersentak atas peristiwa penembakan yang menewaskan seorang polisi dan kemudian rincian pemberitaan kekerasan mengenainya yang bahkan hampir mencapai titik jenuh.

Peristiwa tragis tersebut mengetuk nurani kita. Apakah kejadian tersebut hanya gejala jiplak-menjiplak seperti kejadian kekerasan yang banyak ditayangkan lewat produk tontonan impor negeri adidaya?

Selama lebih dari 60 tahun, ilmuwan sosial telah meneliti mengenai akibat kekerasan media, termasuk program TV, film, video game, lirik dan video musik, dan internet. Mereka menemukan tiga bukti berbeda mengenai dampak kekerasan media: 1.) Efek penonton: semakin banyak media kekerasan yang Anda lihat, semakin tidak peka Anda terhadap kekerasan di dunia nyata. 2.) Efek agresor: semakin banyak media kekerasan yang Anda lihat, akan semakin agresif Anda. 3.) Efek korban: semakin banyak media kekerasan yang Anda lihat, semakin takut Anda menjadi korban kekerasan.

Baca juga Internalisasi Kerukunan di Tengah Keragaman

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan kekerasan media berkontribusi bagi peningkatan kekerasan sosial budaya. Di satu sisi, kekerasan media diyakini meningkatkan agresi, ditandai dengan menurunnya kepekaan manusia terhadap efek dari kekerasan nyata. Kekerasan media awalnya menghasilkan ketakutan, rasa jijik, kecemasan, dan keadaan motivasi untuk menghindarinya. Di sisi lain, paparan berulang terhadap kekerasan media, mengurangi dampak psikologisnya dan pada akhirnya menghasilkan motivasi dan mengarahkan pada peningkatan agresivitas seseorang.

Industri kekerasan di era digital mengomodifikasikan aksi agresi dalam aneka permainan (games) dan tontonan (spectacle) bernuansa kekerasan. Persaingan pemberitaan berorientasi viral membuat sebagian media tergoda logika tabloidisasi kekerasan. Kekerasan sebagai tontonan nyata dan fiksi/fantasi kian mendominasi ruang publik. Kejahatan dan perang menjadi hiburan (horrortainment) pada jam tayang utama, mengisi waktu senggang, dan menyesaki pesan gawai. Komedi situasi yang hendak menghibur tak jarang berisi agresi kata-kata berprasangka pada perempuan dan disabilitas serta masyarakat bawah (pembantu, satpam, sopir, pemulung, tukang sapu, dan lain-lain) sebagai bahan olok-olok.

Baca juga Mencari Celah Kebaikan

Sudah tentu, setiap bentuk kekejian mengiris nurani keadilan dan kemanusiaan kita. Mengapa kekerasan masih saja terjadi ketika sila kemanusiaan yang adil dan beradab hendak kita usung jadi karakter manusia Indonesia? Pandangan bapak psikologi Sigmund Freud (1922) mengenai ”naluri aktif (manusia) untuk membenci dan merusak” seperti melegitimasi akar kekerasan peradaban manusia.

Para psikolog komunikasi telah lama mengkhawatirkan efek media kekerasan seperti desensitisasi (hilangnya kepekaan), imitasi (peniruan), atau sosialisasi (pembelajaran sosial). Setelah bertahun-tahun meneliti kekerasan di berbagai media, dalam School for Violence (1964), Fredric Wertham mengingatkan, pada akhirnya media membuat anak muda bukan hanya terlatih menjadi ”korps perdamaian”, melainkan juga ”korps kekerasan”. Dalam Mind Abuse: Media Violence and Its Threat to Democracy, Rose A Dyson (2021) mengingatkan, ketika rumah dan sekolah mulai tidak menjadi tempat yang ramah dan menyenangkan, beberapa anak akan berpaling ke ”guru-guru” dan ”idola-idola” budaya populer yang tidak hanya menawarkan budaya konsumtif, tetapi juga budaya kekerasan.

*Artikel ini terbit di Kompas.id, 4 Februari 2023

Baca juga Melawan Rasa Takut

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...