HomeOpiniMencari Celah Kebaikan

Mencari Celah Kebaikan

Oleh Kristi Poerwandari
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Tak terasa, tahun 2022 akan segera berlalu. Meski situasi mungkin tidak sesulit di masa pandemi Covid-19, kita masih harus tetap berhati-hati. Dari sisi kesehatan, kita tetap menemukan bahwa di sana-sini, masih ada infeksi Covid-19. Dengan demikian, menjaga kesehatan tetap menjadi prioritas utama.

Sementara itu kita juga perlu memastikan bahwa kehidupan ekonomi keluarga dapat berjalan dengan lancar untuk jangka panjang. Apalagi cukup banyak yang memprediksi bahwa kondisi ekonomi global di tahun mendatang akan cukup suram.

Bagaimanakah hidup kita pada tahun 2023? Dalam situasi apa pun, apalagi bila telah mengantisipasi tantangan, sebagai manusia kita berharap menemukan celah-celah kebaikan. Tujuannya untuk dapat mengatasi rasa cemas dan takut, demi dapat meyakinkan diri sendiri bahwa kita akan mampu menghadapi perjalanan berikutnya –yang entah bagaimana wujudnya.

Baca juga Melawan Rasa Takut

Bagaimana bila kita memang merasa sangat cemas, atau cenderung gampang terpaku pada sisi-sisi yang lebih negatif atau mengecewakan dari hidup kita? Bukankah berpura-pura optimis itu tidak bermanfaat, bahkan terasa tidak otentik dan memuakkan? Bagaimana membawa pola berpikir positif dan optimis dalam menjalani hidup? Bagaimana menemukan celah-celah kebaikan untuk terus dapat menghadirkan harapan?

Satu hal penting adalah menyadari bahwa tantangan yang kita hadapi saat ini, dialami juga oleh banyak orang lain. Di masa sebelum pandemi, rencana-rencana yang kita susun mungkin dapat berjalan dengan lancar. Akan tetapi situasi sekarang tidak lagi sama seperti sebelumnya. Oleh karena itu, bila yang kita rencanakan tidak terlaksana secara mulus, tidak perlu melihatnya sebagai bentuk kegagalan diri, apalagi yang disikapi dengan kemarahan kepada diri sendiri atau orang lain.

Mungkin kita tetap berfokus pada tujuan semula tetapi dengan memperpanjang lini waktunya? Atau menyadari bahwa yang direncanakan menjadi kurang relevan dalam situasi sekarang sehingga memerlukan penyesuaian-penyesuaian?

Baca juga Membangun Budaya Damai Melalui Umpan Balik

Penting untuk tetap mencoba bertekun sekaligus bersabar. Menetapkan tujuan dan membuat rencana kerja tetap amat penting, karena hal tersebut membuka kesempatan bagi kita untuk memberikan perhatian lebih seksama, serta menemukan peluang-peluang baru, atau strategi-strategi berbeda dalam situasi yang tidak lagi sama.

Penetapan tujuan juga dapat diturunkan dalam pilahan-pilahan yang lebih kecil untuk mengukur kemajuan. Bila yang direncanakan tidak berjalan, kita dapat mengevaluasi dan menemukan penjelasan yang lebih baik mengenai apa yang harus dilakukan.

Sikap hidup positif

Satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengamati orang-orang lain yang memiliki sikap hidup positif. Ada banyak orang yang secara obyektif –dalam perbandingan dengan orang-orang lain– mungkin memiliki banyak hal yang perlu disyukuri tetapi tidak melakukannya.

Individu tidak bersyukur karena tidak mampu melihatnya. Bukan sekadar tidak mampu melihat, mereka mungkin bahkan banyak berkeluh kesah, merasa diperlakukan tidak adil.

Baca juga Membangun Komunikasi Damai

Sebaliknya, ada pula orang-orang yang memilih memfokus pada sisi-sisi positif hidupnya. Mereka menghadapi banyak kesulitan dan tantangan, tetapi memutuskan untuk memusatkan perhatian pada hal-hal besar, kecil, hingga yang sangat sederhana sekalipun, sebagai hal istimewa, dan mengucapkan syukur atas hal tersebut.

Sebagai contoh, bersyukur bahwa dalam keadaan sulit, dapat tetap hidup sehat. Atau, bersyukur karena sempat sakit, tetapi memiliki kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan diri. Atau, karena situasi ekonomi sangat sulit, tidak sempat mengambil libur, tetapi mengucapkan terima kasih juga karena masih memiliki pekerjaan dan kesehatan.

Baca juga R20: Catatan dari Forum Perdamaian Dunia ke-8 di Solo

Berdekatan dengan orang-orang yang mampu bersikap demikian, akan terasa berbeda. Kita ingin menyerap energi dari mereka untuk memberi harapan bagi hidup kita sendiri. Mereka menghadirkan suasana nyaman pada diri, orang lain, dan lingkungan bersama. Bila telah berada di lingkaran demikian, kita perlu mensyukurinya dan dapat secara reguler meluangkan waktu berbincang-bincang mengenai persoalan yang kita hadapi.

Minat sosial

Mengingat celah kebaikan seyogyanya dari segala arah, satu pertanyaan yang mungkin dapat kita ajukan pada diri sendiri adalah: apakah selama ini kita cukup peduli untuk menghadirkan suasana yang nyaman bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan? Ataukah kita demikian sibuk dengan ambisi dan agenda-agenda kita sendiri, sehingga sebenarnya justru menghadirkan ketegangan dan suasana negatif dalam pergaulan?

Bila selama ini kita lupa untuk menghadirkan celah kebaikan, kita dapat memulainya sekarang. Tidak perlu berpikir hal-hal besar, karena kita dapat mulai dari hal-hal yang sederhana saja. Tersenyum pada tetangga, menghibahkan barang pada pengambil barang rongsokan, membeli dari orang kecil tanpa menawar berlebihan, berkata sopan dan mengucapkan terima kasih pada orang yang posisinya di bawah kita.

Baca juga R20: Fikih Toleransi dan Rekonsiliasi Konflik

Saya jadi ingat teori sangat klasik dari Alfred Adler, yang mengatakan bahwa orang tanpa minat sosial mungkin berambisi besar tetapi sering merasakan kekosongan. Adler kemudian mengupayakan kesehatan mental kliennya dengan memfasilitasi kepedulian dan minat sosial.

Di masa kini telah sangat berkembang psikologi positif dengan dukungan riset yang meluas mengenai bagaimana memberikan kebaikan itu bermanfaat bukan hanya untuk orang lain, melainkan lebih untuk diri kita sendiri.

*Artikel ini terbit di Kompas.id pada Sabtu, 24 Desember 2022

Baca juga Mazhab Pembinaan versus Mazhab Penjeraan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...