HomeOpiniRuang Merawat Diri

Ruang Merawat Diri

Oleh: Kristi Poerwandari
Dosen Fakultas Psikologi UI

Bagaimanakah kita mengantisipasi dunia di 2023? Sepertinya kita akan tetap menghadapi banyak tantangan karena berbagai ketidakpastian. Kesehatan masyarakat sudah lebih terjaga dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, kita tetap harus berhati-hati karena kondisi sakit dapat sangat berdampak pada hal-hal lain. Misalnya, keamanan kerja, kemampuan memenuhi kebutuhan dasar diri dan orang-orang terdekat, keberlangsungan keluarga, dan banyak lainnya.

Ketidakpastian tampaknya menjadi tema utama masa kini, akibat perubahan mendasar yang dibawa oleh internet dan teknologi tinggi yang mengubah konstelasi ekonomi, dibarengi pandemi Covid-19 yang syukur sudah cukup teratasi.

Baca juga Internalisasi Kerukunan di Tengah Keragaman

Walau demikian, mengembalikan aktivitas ekonomi bukan perkara mudah, belum lagi dengan situasi politik global maupun dalam negeri yang juga menantang.

Dengan berbagai ketidakpastian, yang terbayang adalah bahwa di bidang ekonomi ada makin banyak pengetatan. Ada usaha dan posisi kerja yang tidak berlanjut dan lulusan baru pun belum tentu cepat memperoleh pekerjaan. Kita harus berkompetisi dengan yang lainnya untuk mencari dan mempertahankan pelanggan. Bahkan, di bidang pendidikan pun, persaingan juga makin kencang terasa.

Secara psikologis, hal di atas menghadirkan tekanan, perasaan cemas dan ketegangan, beserta implikasi-implikasi lanjutannya. Satu orang dan lainnya dapat menampilkan gambaran berbeda. Ada yang masih mampu bekerja dengan gigih, ada yang makin terpacu untuk menampilkan yang terbaik. Ada pula yang saking tegangnya jadi kehilangan konsentrasi, merasa mudah lelah, jadi cepat marah, atau bahkan merasa sedih tak berdaya.

Baca juga Mencari Celah Kebaikan

Memahami implikasi psikologis dari ketidakpastian yang entah akan berlangsung berapa lama, tampaknya kita perlu merespons dengan secara sadar selalu mengingatkan diri sendiri untuk menjaga kesehatan fisik dan psikis kita.

Lingkup pribadi

Dari sisi kebertahanan ekonomi, yang berulang selalu diingatkan adalah untuk mampu berkompetisi. Bagaimana caranya? Dengan menjadi kreatif dan inovatif, pandai mencari peluang, sekaligus tangguh. Tangguh berarti siap bekerja keras menghadapi berbagai situasi sulit dan hambatan, mungkin dengan jam kerja yang sangat panjang tanpa istirahat.

Jika semua di atas dapat dilakukan, tentu akan sangat ideal. Masalahnya, manusia bukan mesin atau makhluk sempurna. Kita memiliki emosi dan keterbatasan. Ada yang kondisi kesehatannya kurang prima, ada yang kecerdasan dan kreativitasnya biasa-biasa saja, ada pula yang mudah menurun kondisi psikisnya bila menghadapi tekanan.

Baca juga Melawan Rasa Takut

Karena itu, meski siap bekerja keras, kita juga perlu meminimalkan ketegangan, serta menjaga kondisi psikis agar tetap sehat dan dapat berfungsi optimal. Bagaimana caranya? Di masa sebelum hadirnya internet, umumnya orang bekerja 8-10 jam sehari. Dengan persaingan sekarang, jam kerja sebanyak itu belum tentu memadai. Meski demikian, tidak ada gunanya bekerja tanpa henti tetapi kemudian jatuh sakit, yang berisiko pada pencarian nafkah juga.

Dari sisi pribadi dan lingkup kecil (misalnya keluarga), kita dapat menciptakan sendiri kesepakatan kita untuk menghadirkan kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang-orang terdekat. Misalnya, menghadirkan nuansa alam dalam rumah, mengatur tempat tinggal agar suasananya nyaman, menyediakan waktu bersantai dan menjalankan hobi, serta saling mengingatkan tentang kapan harus beristirahat.

Kebijakan institusi

Lembaga pemberi kerja adalah yang paling berkepentingan untuk memastikan bahwa pekerja tangguh, bisnis yang ditekuni kompetitif, dan produk ada di garis terdepan. Hal ini dapat dimengerti karena jika tidak demikian, usaha tidak dapat berlanjut dan pekerja pula yang akhirnya kehilangan mata pencarian.

Baca juga Membangun Budaya Damai Melalui Umpan Balik

Walau demikian, tempat kerja (termasuk lembaga pendidikan) perlu menyadari bahwa manusia bukan robot. Karena itu, selain meningkatkan kreativitas, inovasi, dan ketangguhan, institusi juga perlu memfasilitasi agar pekerja sehat secara psikologis dan bahagia. Dengan demikian, pekerja juga merasa betah menjadi bagian dari lembaga dan memberikan nilai tambah bagi usaha yang dijalankan.

Lembaga bisnis umum melaksanakan briefing atau rapat rutin, yang di sebagian tempat dilaksanakan setiap minggu, bahkan di lembaga-lembaga tertentu diselenggarakan singkat setiap pagi. Tujuannya untuk membahas tugas dan target yang harus diselesaikan di hari atau minggu tersebut.

Bayangkan bahwa briefing rutin tersebut –dengan perubahan kecil saja– dapat menghadirkan suatu kebaruan yang mendasar. Daripada hanya membahas target dan koordinasi kerja harian, briefing tetap kita adakan dengan menambahkan, misalnya 15 menit, untuk membahas hal-hal yang tidak langsung terkait dengan pekerjaan, tetapi dapat sangat memengaruhi pekerjaan.

Baca juga Membangun Komunikasi Damai

Misalnya, kita dapat secara singkat saling memberi informasi mengenai bagaimana kondisi kesehatan kita hari ini? Apakah tadi malam dapat tidur nyenyak? Apa yang dikhawatirkan terkait pekerjaan? Apakah ada hal-hal di rumah yang memengaruhi konsentrasi kerja?

Agar pertemuan berdampak positif, kita perlu ingat untuk selalu juga membahas hal yang bersifat positif atau menjadi jalan keluar dari tantangan yang dihadapi pekerja. Para pekerja juga difasilitasi untuk saling memberikan dukungan dan semangat bagi yang lainnya.

Baca juga R20: Catatan dari Forum Perdamaian Dunia ke-8 di Solo

Setelah berbagi cerita mengenai masalah atau tantangan yang dihadapi, tim dapat bersama-sama membahas: apa yang dapat dilakukan untuk mengembalikan semangat kerja? Bagaimana tim dapat bekerja sama mengatasi persoalan? Bagaimana saling mengingatkan untuk memiliki waktu istirahat? Bagaimana memastikan bahwa kesehatan fisik dan psikis tetap dapat terjaga di tengah kesibukan kerja yang ada?

Di tengah hiruk-pikuk ketidakpastian dunia, kita perlu merawat diri sendiri dengan membangun ”Ruang Sehat Jiwa” dalam kehidupan pribadi dan dunia kerja. Yang tampaknya sangat sederhana ini semoga dapat membantu kita menjadi manusia masa kini yang memenuhi tuntutan kreatif inovatif, tangguh sekaligus tetap sehat bahagia.

*Artikel ini terbit di Kompas.id, Sabtu 7 Januari 2023

Baca juga R20: Fikih Toleransi dan Rekonsiliasi Konflik

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...