HomeBeritaMenggali Makna Damai dari...

Menggali Makna Damai dari Kisah Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Aktivis mahasiswa Universitas Andalas (Unand) mengaku tergetar hatinya setiap menyimak kisah penyintas aksi terorisme. Ia telah beberapa kali mendengarkan secara langsung korban bom berjuang untuk tetap hidup dari tragedi maut di masa lalu. Namun, perasaannya selalu campur aduk kala kisah korban diperdengarkan kembali.

“Masih sedih hati saya melihat korban-korban yang berjatuhan yang dia enggak tahu apa-apa gitu loh, kawan-kawan. Enggak tahu apa-apa tiba-tiba di situ ada ledakan bom, suaminya atau istrinya atau orang tuanya tiba-tiba dibawa pulang dalam kondisi sudah tidak bernyawa.” Demikian Muhammad Hafiz, mahasiswa Program Studi Administrasi Negara Unand mengatakan dalam forum diskusi bertajuk “Mengukuhkan Peran Mahasiswa dalam Membangun Perdamaian” di Padang, Sumatera Barat beberapa waktu lalu.

Baca juga Menebar Pesan Damai di Sumbar

Dalam kegiatan yang diinisiasi AIDA bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Unand tersebut, Hafiz berbagi pengalamannya mengikuti kegiatan AIDA yang menghadirkan penyintas dan mantan pelaku terorisme sebagai narasumber. Di hadapan ratusan sebayanya sesama mahasiswa, ia mengaku dapat menyerap nilai-nilai perdamaian dari penyintas dan mantan pelaku.

Terkhusus dari kisah penyintas, Hafiz menegaskan bahwa sosok tersebut menampilkan teladan akhlak yang luar biasa. “Bisa kita bayangkan, teman-teman, para korban tadi bisa memaafkan para mantan pelaku yang bisa dibilang membunuh, baik secara disengaja atau tidak disengaja, suaminya atau istrinya. Dia bisa maafkan itu,” ujarnya.

Baca juga Pejabat UNP Serukan Mahasiswa Jauhi Ekstremisme

Ia menganalogikan seorang mahasiswa yang memiliki kekasih namun karena suatu persoalan dua sejoli tersebut berpisah. Hubungan mahasiswa tersebut dengan mantan kekasihnya pasti tidak mudah. Sebagian orang bahkan merasakan dampak psikologis yang amat buruk terhadap kenangan dengan bekas kekasih. Dari itu, ia merefleksikan pada diri penyintas dalam hubungannya dengan mantan pelaku terorisme. Melihat keluasan hati mereka memaafkan mantan pelaku, Hafiz mengaku salut akan sikap luar biasa tersebut.

Poin pelajaran yang penting diambil dari kisah korban dan mantan pelaku terorisme, menurutnya, adalah bahwa perdamaian tidak mungkin tercipta hanya dari satu pihak saja. Harus ada dua pihak yang saling memaafkan.

“Para korban tidak saja memaafkan mantan pelaku tapi juga berdamai dengan keadaan yang mereka alami. Tidak ada perdamaian yang diperjuangkan dengan jalur kekerasan. Perdamaian harus dijalankan dengan kebijaksanaan,” pungkasnya. [MLM]

Baca juga Aktivis Mahasiswa Padang: Utamakan Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...