HomeBeritaDinamika Hubungan Korban dan...

Dinamika Hubungan Korban dan Mantan Teroris

Aliansi Indonesia Damai- Relasi antara korban terorisme dan mantan pelaku ekstremisme kekerasan terajut melalui serangkaian proses yang dinamis. Muaranya adalah rekonsiliasi antara kedua belah pihak yang sebelumnya berada dalam kutub berseberangan. Dinamika tersebut layak menjadi pembelajaran bagi khalayak luas dalam membangun kedamaian di lingkungan masing-masing. 

Yeni Aslina, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Kalimatan Timur (UNU Kaltim), menjelaskan, ada beberapa nilai penting yang bisa diserap dari proses rekonsiliasi antara korban terorisme dan mantan pelaku ekstremisme kekerasan. Pertama, kesabaran. Ia mengutip pernyataan tokoh sufi, Imam Al-Junaydi, bahwa kesabaran adalah kunci segala kebaikan. 

Baca juga Dialog Santri dengan Tokoh Agama di Samarinda

Kedua, keikhlasan, yaitu lapang dada untuk menerima apa pun yang harus mereka lakoni dalam hidup. ”Pelaku menerima hukuman yang setimpal dari apa yang diperbuatnya. Para korban berlapang dada dengan kekurangan yang ada,” ujar Yeni dalam Pengajian bertema “Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” yang digelar di Kampus UNU Kaltim, beberapa waktu silam. 

Ketiga, pemaafan. Mantan pelaku terorisme dengan kerendahan dan ketulusan hati meminta maaf kepada korban. Sebaliknya korban membuka lapang-lapang dadanya untuk menerima dan memaafkan mereka yang terlibat, baik secara langsung atau tidak langsung, dalam aksi kekerasan yang mencederai mereka.

Baca juga Wakil Ketua MUI Kukar: Tokoh Masyarakat Wajib Menjaga Perdamaian

”Memaafkan tidak hanya memberikan maslahat sosial karena menjaga hubungan baik antara manusia, namun memaafkan juga dapat meningkatkan ketakwaan seorang hamba kepada Tuhannya, yang nantinya akan dibalas ganjaran pahala dan surga,” ucapnya.

Keempat, ketangguhan, yakni bangkit dari keterpurukan. Tentu tak mudah bagi para korban, karena luka yang mereka alami tak hanya secara fisik namun juga psikis. Berdasarkan penuturan para korban, Yeni mengungkapkan bahwa dukungan dari keluarga, sahabat, dan lingkungan menjadi hal yang sangat penting mengobati dan mendorong mereka untuk move on.

Baca juga Menggemakan Semangat Perdamaian di Pesantren

Nilai terakhir adalah tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan. ”Kalau semua kekerasan dibalas dengan kekerasan atau ketidakadilan dibalas dengan ketidakadilan, maka hal itu tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan,” ucapnya. [MLM-MSY]

Baca juga Semangat Perdamaian dalam Lirik Selawat

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...