HomeBeritaDialog Santri dengan Tokoh...

Dialog Santri dengan Tokoh Agama di Samarinda

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menggelar safari kampanye perdamaian di kalangan santri di wilayah Samarinda, Kalimantan Timur beberapa waktu lalu. Kampanye perdamaian dikemas dalam acara Pengajian bertemakan “Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme.”

Tiga pondok pesantren (PP) di Kota Tepian Mahakam ketempatan menjadi tuan rumah Pengajian, yaitu PP Al-Husna Loa Janan, PP Rahmatullah/Hidayatullah Lempake, dan PP Istiqamah Muhammadiyah Batu Besaung.

Baca juga Wakil Ketua MUI Kukar: Tokoh Masyarakat Wajib Menjaga Perdamaian

Secara keseluruhan lebih dari 200 orang dari kalangan santri dan pengajar di tiga pesantren tersebut mengikuti Pengajian dengan saksama. Sementara itu, yang bertindak sebagai narasumber ialah para kiai atau ustaz alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang telah diselenggarakan oleh AIDA sebelumnya.

Pada kesempatan Pengajian di PP Al-Husna, pengasuh di pesantren tersebut, KH. M. Anshari, mengingatkan para santri untuk menjaga kedamaian Indonesia setelah menyimak kisah korban dan mantan pelaku terorisme yang ditampilkan dalam kegiatan.

Baca juga Menggemakan Semangat Perdamaian di Pesantren

Dalam Pengajian di PP Rahmatullah, salah satu pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur, Ust. M. Yarif Yahya, menekankan kepada jamaah agar memahami dengan betul konsep rahmatan lilalamin. Bahwa Nabi dan risalah yang dibawanya diturunkan sebagai rahmat bagi sekalian alam. Pemahaman terhadap konsep rahmatan lilalamin, kata dia, akan mencegah setiap orang terpapar ideologi kekerasan.

Pesan yang kurang lebih sama disampaikan oleh Ust. Nur Wahid dan Ust. Mujenih, pengurus Persyarikatan Muhammadiyah di Kota Samarinda, dalam acara Pengajian di PP Istiqamah Muhammadiyah. Nur Wahid menekankan agar para santri kader Muhammadiyah menguatkan budaya berpikir kritis dalam menyikapi berbagai isu. Dengan demikian, kader Muhammadiyah tidak akan terjerat propaganda terorisme seperti yang dialami oleh para mantan pelaku.

Baca juga Semangat Perdamaian dalam Lirik Selawat

Berikut ini sejumlah cuplikan tanya jawab antara peserta dan narasumber yang berlangsung dalam Pengajian “Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme.”

Wildan Ali, santri Kelas XI di PP Istiqamah Muhammadiyah, mengungkapkan, usai menyimak pengalaman hidup sebagian korban dan mantan pelaku terorisme, dia mengaku khawatir apabila di masa depan terjadi lagi aksi teror bom yang merusak kedamaian. Ia menanyakan tentang bagaimana cara anak muda seperti dirinya menghindari pengaruh paham terorisme?

Baca juga Tiga Faktor Penghambat Perdamaian

Merespons hal itu, Nur Wahid menjelaskan bahwa narasi kisah korban bom serta testimoni mantan pelaku yang telah bertobat bisa menjadi informasi alternatif untuk menangkal doktrin kekerasan yang disampaikan pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Cara menghindarinya, Anda harus menjadi makhluk yang akademis. Supaya ketika Anda bertemu dengan ustaz-ustaz yang mem-brain wash Anda tentang akidah menurut paham mereka, maka otak kritis Anda yang sudah diisi data dan informasi yang benar sanggup untuk melawan,” ujarnya.

Baca juga Mendorong Santri Melestarikan Perdamaian

Sementara itu, dalam kesempatan Pengajian di PP Al-Husna, seorang santri tingkat ‘aliyah, menanyakan seperti apa bijaknya berdakwah di masyarakat. Menanggapi pertanyaan tersebut, Anshari menegaskan bahwa menjalankan amar makruf dan nahi mungkar wajib ditempuh dengan perilaku yang baik. Bahwa ada aksi segelintir kelompok yang berdakwah dengan mengedepankan kekerasan, dia keras menentangnya. “Hal seperti itu tidak dibenarkan agama,” katanya.

Anshari juga mengajak para santri untuk meresapi dengan penuh kesadaran apa yang telah dialami oleh korban aksi teror bom dan mantan pelaku terorisme yang telah bertobat. Pengalaman mereka sangat bermakna untuk menyadarkan semua pihak akan pentingnya melestarikan perdamaian. [MLM]

Baca juga Menumbuhkembangkan Budaya Damai

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...