HomeBeritaMenggemakan Semangat Perdamaian di...

Menggemakan Semangat Perdamaian di Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- AIDA dan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama menyelenggarakan pengajian bertema “Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Rahmatullah Samarinda beberapa waktu lalu. Alumni Pelatihan AIDA, M. Yarif Yahya, mengajak kalangan santri, ustaz dan ustazah yang menghadiri pengajian untuk menyelami hakikat perdamaian dalam agama yang dirisalahkan kepada Nabi Muhammad Saw.

“Orang yang beragama Islam, kita-kita ini, harus memahami bahwa Islam ini hadir untuk membawa perdamaian di tengah kehidupan bermasyarakat. Islam hadir untuk mewujudkan rasa kasih sayang. Itulah Islam,” ujarnya lantang saat berpidato di PP Rahmatullah Samarinda, Selasa (18/7/2023).

Baca juga Semangat Perdamaian dalam Lirik Selawat

Saat pengajian berlangsung, para peserta menyimak penuturan kisah korban aksi teror bom serta mantan anggota kelompok teroris yang telah bertobat. Perjalanan hidup sejumlah korban dalam mengalami tragedi aksi pemboman mengandung ‘ibroh atau pembelajaran yang sangat berharga bagi khalayak umum. Perjuangan mereka mengajarkan masyarakat agar senantiasa tangguh saat menghadapi pelbagai tantangan. Lebih dari itu, para korban juga meneladankan akhlak yang teramat luhur, yakni ketika mereka memilih untuk memaafkan para pelaku terorisme ketimbang mendendam.

Pengakuan beberapa orang mantan pelaku terorisme pun menyuguhkan pelajaran penting bagi publik. Di samping menguak fakta keburukan paham dan gerakan terorisme, testimoni mereka memuat hikmah bagi masyarakat agar tidak berputus asa terhadap keadaan. Mereka sadar telah banyak berbuat salah namun tetap bersemangat untuk mengupayakan perbaikan demi kedamaian.

Baca juga Tiga Faktor Penghambat Perdamaian

Yarif menjelaskan, Tuhan mengutus nabi beserta risalah agama yang dibawanya pada hakikatnya merupakan rahmat atau kasih sayang yang dianugerahkan kepada seluruh makhluk di alam raya. “Tentunya kita yang mengaku sebagai umat Nabi, maka Nabilah yang harus kita jadikan tuntunan,” kata dia.

Ia sangat menyayangkan segelintir umat Muslim tidak cakap memahami konsep rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Pada taraf yang paling ekstrem, sebagian orang tersebut melakukan tindak pidana terorisme yang menumpahkan darah banyak jiwa. Oleh sebab itu, Yarif berharap, setelah mendengar penuturan korban dan mantan pelaku terorisme, kalangan santri lebih meresapi hakikat rahmat dalam agama.

Baca juga Mendorong Santri Melestarikan Perdamaian

“Tidak ada lagi insyaallah, bi idznillah, yang menjadi pelaku maupun yang menjadi korban. Dan, kita harus mengazamkan diri pada hari ini bahwa agama yang kita anut ini adalah agama rahmatan lilalamin, yang menyebarkan rahmat, perdamaian, dan kasih sayang di tengah-tengah umat,” ucap Pengurus Bidang Pendidikan DPW Hidayatullah Kalimantan Timur itu.

Lebih jauh Yarif menerangkan sebuah sabda Nabi yang melarang umat Muslim menumpahkan darah saudaranya. Sebab, jangankan membunuh, mencela atau memaki saja tergolong sebuah kefasikan. “Mencela saja kita dilarang, apalagi membunuh sesama muslim. Ini telah disyariatkan oleh agama kita,” tandasnya.

Baca juga Menumbuhkembangkan Budaya Damai

Pungkasan, dia menggenjot semangat para peserta pengajian untuk berjuang membangun umat dalam kebersamaan, menata hati dengan ikhlas kepada Tuhan untuk memberikan banyak manfaat kepada umat, sehingga bumi ini terterangi dengan kedamaian dan kasih sayang. Ia juga mewanti-wanti untuk pantang berdebat memecah umat. Sebaliknya, harus selalu santun dan sopan, serta menyapa dengan salam.

“Sebab, itulah bukti Islam sebagai rahmatanlilalamin. Alhamdulillah, bahagia kita rasanya. Apatah lagi kembali diingatkan oleh tim dari AIDA ini, mengingatkan kita untuk tetap bertahan dengan pemahaman konsep rahmatan lil ‘alamin itu. Bahwa tidak ada lagi, jangan sampai ada lagi, pemahaman yang merugikan siapa pun. Sebab, Nabi kita saja diutus untuk membawa perdamaian dan kasih sayang,” katanya. [MLM]

Baca juga Ketua PP Muhammadiyah: Agama Tak Boleh Abaikan Kemanusiaan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id...

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...