HomeOpiniMengejar "Ketertinggalan" Pendidikan

Mengejar “Ketertinggalan” Pendidikan

Table of contents [hide]

Oleh: Ova Emilia
Guru Besar Pendidikan Kedokteran Indonesia; Praktisi Kedokteran; Rektor UGM

Pembangunan sumber daya manusia unggul, berdaya saing, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa diwujudkan melalui pendidikan dan penelitian berkualitas. Investasi pembangunan masa depan ini memerlukan komitmen bersama untuk mewujudkan, termasuk melalui peran strategis institusi pendidikan tinggi.

Pemerintah telah menggiatkan program pendanaan pendidikan melalui beasiswa seperti Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ataupun program lain. Namun, rasio peserta pendidikan tinggi terhadap populasi produktif dinilai masih sangat rendah.

Baca juga Penguatan Moderasi Beragama

Data statistik pendidikan tinggi 2020 menunjukkan, Indonesia memiliki 4.593 lembaga pendidikan tinggi yang mampu menampung sekitar 3,7 juta lulusan SMA/SMK per tahun. Namun, dari kuota itu, hanya 58 persen yang berhasil terisi (Kompas, 18/1/2024).

Presiden Joko Widodo dalam pembukaan Konvensi Kampus XXIX dan Temu Tahunan XXV Forum Rektor Indonesia, Senin (15/1/2024), di Surabaya, juga menyebutkan, rasio penduduk Indonesia berpendidikan S-2 dan S-3 terhadap populasi produktif masih sangat rendah, yakni 0,45 persen, dibandingkan Vietnam dan Malaysia 2,43 persen serta negara maju 9,8 persen.

Data 2022 bahkan menunjukkan, tingkat pendidikan pekerja di Indonesia masih didominasi oleh lulusan sekolah dasar (Kompas, 1/6/2023).

Baca juga Pendidikan untuk Perdamaian yang Berkelanjutan

Pendidikan dan penelitian memegang peran penting untuk mendukung transformasi sosial menuju Indonesia Emas. Pembangunan untuk menyongsong Indonesia Emas ini memerlukan peningkatan jumlah SDM berkualitas yang unggul, berdaya saing, menguasai iptek, serta mampu meningkatkan kualitas inovasi.

Minimnya animo melanjutkan pendidikan pascasarjana tentu berdampak bagi pengembangan penelitian di Indonesia.

Untuk mewujudkannya, pemerintah meminta peran serta aktif pendidikan tinggi, termasuk semua pihak, agar mengoptimalkan penelitian dan pengembangan (R&D) di lingkungan kampus.

Baca juga Terang Peradaban melalui Buku

Di institusi pendidikan tinggi, penelitian menjadi domain utama program pembelajaran jenjang pascasarjana. Sayangnya, penyelenggaraan program pascasarjana belum menjadi prioritas bagi sebagian besar pendidikan tinggi, yang lebih cenderung mengutamakan program pendidikan jenjang sarjana.

Motivasi mahasiswa menempuh pendidikan pascasarjana pun beragam, mulai dari meningkatkan keterampilan (skills) dan kompetensi sebagai peneliti, mendapat keleluasaan peluang kerja, jenjang karier, hingga aspek kelas sosial.

Namun, ironinya, lulusan program pendidikan pascasarjana juga masih mengeluhkan minimnya peluang kerja dan keberlanjutan jenjang karier. Ditambah besaran beasiswa dan hibah penelitian yang dinilai belum mencukupi bagi mahasiswa, hal itu menjadi alasan lain rendahnya minat masyarakat melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana.

Baca juga Negara dan Peran Akademisi

Pendidikan pascasarjana disebut sebagai salah satu penopang pengembangan penelitian di Indonesia. Minimnya animo melanjutkan pendidikan pascasarjana tentu berdampak bagi pengembangan penelitian di Indonesia. BRIN (2022) menyebutkan, rasio jumlah peneliti di Indonesia 199 per satu juta penduduk dan Malaysia 503 peneliti per satu juta penduduk.

Minimnya jumlah peneliti di Indonesia tersebut tentu berdampak bagi pengembangan inovasi dan ilmu pengetahuan hingga jumlah paten yang dihasilkan di Indonesia.

Pendidikan dalam konteks

Sudah menjadi kesepakatan bersama, SDM unggul, penguasaan iptek, dan inovasi berkelanjutan menjadi kebutuhan Indonesia di masa depan.

Jika melihat kesenjangan rasio pendidikan terhadap populasi penduduk usia produktif, negeri ini tentu masih memiliki pekerjaan besar untuk mewujudkannya.

Pekerjaan ini perlu pemikiran strategis dan sinergis, baik dari institusi pendidikan tinggi, pemerintah, industri, maupun masyarakat. Sudah saatnya institusi pendidikan tinggi diletakkan dalam ”konteks masalah” agar mampu memberikan solusi bagi problem kenegaraan.

Pertama, pemerintah bisa memperkuat fungsi institusi pendidikan tinggi sebagai pencetak SDM unggul dan penghasil riset inovatif yang berujung pada hilirisasi melalui program pascasarjana. Perubahan perspektif ini bisa menjadi bentuk keberpihakan pemerintah pada institusi pendidikan tinggi.

Baca juga Beragama Maslahat

Kedua, pemerintah perlu meningkatkan anggaran R&D dengan menggandeng institusi pendidikan tinggi dan industri untuk hilirisasi.

Wacana pemerintah untuk meningkatkan beasiswa dan pembiayaan penelitian juga patut untuk diapresiasi. Pemerintah juga akan menggandeng BRIN sebagai orkestrator bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan R&D. BRIN (2022) bahkan menargetkan adanya peningkatan SDM iptek berkualifikasi S-3 sebesar 20 persen pada tahun 2024.

Ketiga, pemerintah perlu memberikan program pemandatan bagi perguruan tinggi yang kapabel untuk mengelola pendidikan pascasarjana sehingga memiliki kualitas dan komposisi jumlah mahasiswa pascasarjana lebih besar.

Pendidikan dan penelitian memegang peran penting untuk mendukung transformasi sosial menuju Indonesia Emas.

Penjaringan animo mahasiswa bisa dimulai sejak mereka menempuh pendidikan sarjana sehingga skema pembiayaan terencana.

Baca juga Bagaimana Menangani Perundungan Anak

Pendidikan dan penelitian yang diarahkan untuk mewujudkan SDM unggul harus ditopang dengan kultur dan ekosistem penelitian berkualitas, inovasi, serta hilirisasi.

Proses ini tidak hanya menjadi mandat institusi pendidikan tinggi, tetapi memerlukan dukungan dari semua pihak, termasuk negara, industri, dan masyarakat, agar Indonesia mampu mengejar ”ketertinggalan” pendidikan untuk mencetak SDM unggul masa depan.

*Artikel ini terbit di kompas.id, Jum’at 9 Februari 2024

Baca juga Titik Buta Kekerasan di Sekolah

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...