HomeOpiniPendidikan sebagai Seni Pembudayaan

Pendidikan sebagai Seni Pembudayaan

Oleh: Aleks Alistya,
Dosen Institut Teknologi Keling Kumang, Sekadau, Kalimantan Barat

Pada awal November 2024, ada sebuah tulisan menarik di harian Kompas berjudul ”Pendidikan untuk Kebudayaan”. Tulisan itu mau mengingatkan tentang tujuan pendidikan dalam hidup bersama kita. Dengan memakai kata ’kebudayaan’, tampaknya penulis lebih menitikberatkan pada hasil.

Dalam pandangannya, proses tampak diandaikan, padahal pendidikan seharusnya lebih bertumpu pada proses. Tulisan ini bukan bermaksud menanggapi tulisan dan pendapat itu, melainkan mau melengkapi cara pandangnya.

Sementara itu, beberapa waktu lalu juga mulai viral istilah deep learning dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, yang akan menjadi paradigma pendidikan di Indonesia nanti. Konsep ini, bersama dengan joyful learning-nya, patut diapresiasi dan ditindaklanjuti. Untuk memahaminya, istilah ’pembudayaan’ akan lebih tepat dibandingkan dengan ’kebudayaan’ karena dinamika proses lebih ditampakkan.

Baca juga Catatan Guru untuk Melajukan Pendidikan Indonesia

Proses lebih menjadi hakikat pendidikan jika berpijak pada filosofinya. Sudah banyak diketahui bahwa kata education (Inggris), yang berasal dari kata Latin educare (ex + ducare), yang berarti memimpin atau menuntun keluar.

Dalam istilah Driyarkara, ’menuntun keluar’ ini disebut memanusiakan manusia muda. Secara implisit, termaktub maksud bahwa dengan cara pandang aristotelian, di satu sisi manusia muda mempunyai potensi, di sisi lain perlu aktualisasi yang kontekstual. Itulah pembudayaan.

Pendidikan sebagai seni

Mendidik anak memang bukan perkara gampang, apalagi enak. Pendidikan adalah seni. Tidak ada rumus pasti, yang berlaku di sana dan di sini. Di satu sisi, setiap anak itu unik. Di sisi lain, peradaban masyarakat juga berkembang.

Keunikan manusia tidak hanya tampak dari perbedaan fisiknya. Tiadanya wajah yang sama hanyalah salah satu indikasinya. Keunikan itu juga tampak dalam perbedaan bakatnya. Bahkan juga, tiap-tiap anak mempunyai ketahanan fisik dan mental yang berbeda-beda.

Baca juga Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Sementara itu, model dan tujuan pendidikan juga berkembang karena terkait dengan kebudayaan (dan pembudayaan). Setiap zaman mempunyai warnanya sendiri, apalagi nilai-nilai yang menjadi prioritasnya. Pun, keragaman dan dinamika budaya juga terikat pada dimensi ruang. Itulah sebabnya budaya Indonesia begitu beragam.

Memadukan antara tujuan aktualisasi diri dan tujuan pembudayaan merupakan seni pendidikan. Kekhasan dan keunikan tidak berarti menafikan pedoman umum. Pedoman umum penting sebagai orientasi, tetapi bukan aturan yang membatasi.

Seni memaksa

Panduan umum itu perlu dilandasi pandangan tentang siapakah manusia, terutama siapakah manusia muda itu, yang hendak ’dituntun keluar’. Manusia muda itu harus ’keluar’ dari dirinya, mengatasi kelemahan dasarnya, yang pada dasarnya natural, bukan moral. Dalam pendidikan ini, tiga kelemahan dasar manusia yang penting diperhatikan.

Pertama yaitu egosentris. Setiap manusia pada dasarnya egosentris demi survival-nya. Egosentris ini tampak baik pada dimensi fisik-material ataupun dalam dimensi emosional dan kognitif, tentu dengan kadar yang berbeda-beda.

Baca juga ”Golden Period” Perang Israel-Iran

Kedua, pada dasarnya manusia menghindari yang sulit. Hal itu antara lain tampak dalam sikap tidak mau repot, atau suka mencari jalan pintas.

Ketiga yaitu pelupa. Ini pun berbeda-beda kadarnya, tetapi jelas bahwa tidak ada seorang pun manusia yang mampu mengingat semua hal yang ditemui atau dialaminya dalam hidupnya.

Ketiga kelemahan itu memang bukan khas manusia. Binatang pun mempunyai tiga kelemahan itu. Bedanya, manusia punya kemampuan untuk mengatasi ketiga kelemahan itu. Dengan itu, terjadilah kebudayaan. Hanya, supaya terjadi kebudayaan, manusia harus mengatasi kelemahan dasar itu. Itulah pembudayaan.

Baca juga Memperhatikan Ruang Aktual Pendidikan

Di sinilah pentingnya pendidikan. Karena itu, pada dasarnya pendidikan merupakan seni memaksa. Dalam konteks ini pula, konsep deep learning yang juga mencakup joyful learning seperti yang diungkapkan Mendikdasmen beberapa waktu lalu bisa lebih dipahami meski harus ditelaah lebih mendalam dalam praktiknya.

Guru sebagai kunci

Konsep joyful learning memang menarik, tetapi sungguh tidak gampang karena menghadapi paradoks ’pemaksaan yang menyenangkan’. Pemaksaan bukan berarti sekadar pembatasan, melainkan pembentukan, formasi.

’Dibentuk’ itu sakit, tidak menyenangkan, terutama karena seorang anak harus keluar dari sifat egosentrisnya. Sangat sulitlah mencari cara atau model pembentukan yang menyenangkan. Konsep itu menjadi lebih sulit lagi karena pendidikan adalah seni, yang tidak mengenal rumus baku.

Baca juga Pemuda Bela Negara dan Indonesia Emas 2045

Di sinilah peran guru menjadi menentukan. Kreativitas guru untuk menjadikan pendidikan itu menyenangkan (joyful) dan sekaligus unik akan menjadi kuncinya. Masalahnya, berapa guru yang bisa kreatif di tengah impitan beban sosio-ekonomi dan beban administratif yang begitu besar?

Persoalan itu dalam tataran praktis menjadi lebih sulit lagi ketika hubungan antara orangtua dan guru tidak harmonis. Jika dikembalikan pada fitrah pendidikan sebagai tanggung jawab orangtua, guru hanyalah pelengkap.

Guru merupakan representasi masyarakat yang mau mendidik generasi mudanya. Orangtua mempercayakan anak-anaknya kepada guru ketika mereka tidak mampu mendidik anaknya sendiri. Idealnya, ada saling percaya antara orangtua dan guru.

Baca juga Hari Santri dan Pemimpin Baru Indonesia

Kisah Supriyani di Konawe hanyalah puncak gunung es dari masalah tidak adanya trust atau saling percaya antara orangtua dan guru. Jika hal ini dibiarkan begitu saja tanpa ada panduan umum yang dibuat oleh pemerintah, sebagai wakil masyarakat, joyful learning akan sulit tercapai. Yang mungkin terjadi hanyalah shallow learning, atau malah fake learning, bukannya menuju deep learning yang didambakan.

*Artikel ini telah tayang di laman kompas.id edisi Minggu 8 Desember 2024

Baca juga Kewarasan Guru

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...