HomeOpini”Golden Period” Perang Israel-Iran

”Golden Period” Perang Israel-Iran

Oleh: Hasibullah Satrawi,
Pengamat politik Timur Tengah dan Dunia Islam

Setelah berkobar lebih dari satu tahun (sejak 7 Oktober 2023), perang Israel melawan kelompok perlawanan yang didukung oleh Iran kini memasuki fase yang sangat menentukan; apakah akan tercapai kesepakatan damai atau justru mengarah ke perang habis-habisan.

Meminjam istilah kedokteran terkait orang yang terkena gejala serangan stroke, fase yang sangat menentukan dalam perang Israel-Iran ini bisa disebut dengan istilah golden period (periode emas). Maka, sebagaimana periode emas yang terbatas dalam konteks stroke (hanya 3-4 jam 30 menit), dalam pandangan penulis, golden period perang Israel-Iran juga sangat terbatas; hanya dari 26 Oktober 2024 sampai 5 November 2024.

Kenapa 26 Oktober? Tak lain karena pada hari itu Israel melakukan serangan balasan terbatas kepada Iran. Dalam banyak kesempatan, penulis menyebut serangan balasan Israel ke Iran terakhir sebagai serangan yang telah dikompromikan untuk saling menjaga nama baik dan kehormatan, khususnya di mata rakyat kedua negara; Israel dan Iran.

Baca juga Memperhatikan Ruang Aktual Pendidikan

Ada tiga hal yang bisa dijadikan dasar dari analisis di atas. Pertama, serangan balasan yang dilakukan Israel tidak menarget sasaran vital, seperti program nuklir Iran atau tempat-tempat terkait perminyakan.

Padahal, ketika baru mendapatkan serangan balasan dari Iran pada 1 Oktober lalu (sebagai balasan dari pelbagai macam aksi Israel yang mempermalukan Iran, seperti pembunuhan Ismael Haniyeh), Israel bersumpah akan melakukan serangan yang sangat keras terhadap Iran.

Bahkan, serangan balasan Israel disebut-sebut akan menargetkan program nuklir atau perminyakan Iran. Namun, serangan balasan Israel ternyata hanya menargetkan pabrik rudal dan sistem pertahanan yang jauh dari target besar sebagaimana disebutkan di atas.

Baca juga Pemuda Bela Negara dan Indonesia Emas 2045

Kedua, Israel tampak sangat hati-hati dalam melakukan serangan balasan terhadap Iran. Menurut sejumlah media di Timur Tengah, serangan balasan Israel dilakukan dengan menggunakan ruang udara Irak yang diizinkan kepada pasukan AS untuk digunakan.

Dengan demikian, serangan balasan Iran pada 26 Oktober lalu tidak dalam bentuk pelanggaran langsung terhadap kedaulatan udara Iran walaupun serangan tersebut melanggar kedaulatan udara Irak. Kondisi seperti ini bisa menjadi alasan bagi tidak terjadinya eskalasi lebih lanjut antara Iran dan Israel.

Ketiga, serangan balasan Israel disebut telah diberitahukan sebelumnya kepada pihak Iran melalui mediator tidak langsung. Menurut sebagian media di Timur Tengah, pemberitahuan rencana serangan dilakukan oleh salah satu menlu negara Eropa dan pejabat Irak. Seakan mengonfirmasi pemberitahuan ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa negaranya mendapatkan ”isyarat” sebelumnya terkait serangan balasan Israel (Aawsat.com, 27/10/2024).

Baca juga Hari Santri dan Pemimpin Baru Indonesia

Apabila benar serangan telah dikondisikan sebagaimana di atas, Israel dapat disebut juga menginginkan perang dengan Iran tidak terus berlanjut. Tentu ini momentum yang penting menuju tercapainya perdamaian atau kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Iran. Apabila dimungkinkan juga antara Israel dan Hizbullah, bahkan juga dengan Hamas (walaupun sepertinya akan lebih berat dalam konteks Hamas).

Kenapa 5 November? Tak lain karena ini adalah waktu pelaksanaan Pemilihan Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS). Pilpres AS bisa menjadi momentum perdamaian karena tercapainya kesepakatan perdamaian sebelum pelaksanaan Pilpres AS bisa disebut sebagai salah satu target politik luar negeri AS (terkait perang Israel-Iran) yang selama ini konsisten dengan kebijakan de-eskalasi.

Secara politik elektoral, perang Israel saat ini hanya membuat posisi politik Presiden Joe Biden-Wakil Presiden Kamala Harris (juga Partai Demokrat secara umum) terjebak di sana-sani. Bahkan, secara politik elektoral, perang Israel sekarang ini hanya menguntungkan kubu Donald Trump dari Partai Republik yang selama ini memang dikenal doyan perang.

Baca juga Kewarasan Guru

Dalam perkembangan terbaru pada Kamis (31/10/2024), Penasihat Khusus Presiden Joe Biden terkait Lebanon dan Timur Tengah diberitakan berkunjung ke Israel untuk melanjutkan perundingan tidak langsung antara Hizbullah dan Israel. Perundingan di Israel yang diberitakan ”tidak terlalu menggembirakan” merupakan lanjutkan dari upaya sebelumnya yang dilakukan pihak AS di Lebanon (Al-jazeera.net, 31/10/2024).

Sama-sama menang

Pada tahap tertentu, Iran dan Israel saat ini, di satu sisi, bisa dikatakan sama-sama menang alias imbang. Israel dikatakan menang karena telah mencapai target-target yang sangat maksimal, mulai dari keberhasilan membunuh Ismail Haniyeh di Iran, membunuh Hassan Nasrallah, dan tokoh-tokoh Hizbullah lain. Bahkan, Israel juga berhasil membunuh Yahya Sinwar. Di kalangan kelompok perlawanan, tak ada tokoh lain yang lebih besar daripada nama-nama di atas.

Keberhasilan menghancurkan sebagian sistem persenjataan Hamas dan Hizbullah bisa dijadikan sebagai indikator lain dari kemenangan Israel dalam perang kali ini. Ditambah lagi keberhasilan Israel menemukan ruang bawah tanah yang dimiliki Hamas dan Hizbullah. Semua ini sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai indikator kemenangan Israel.

Pada waktu bersamaan, Iran juga dapat disebut telah mencapai kemenangan dalam perang kali ini. Untuk pertama kali sejak dideklarasikan pada 1948, Israel merasakan arti diserang oleh rudal-rudal Iran yang mencapai ratusan. Bahkan, keberhasilan Iran menyerang Israel sampai terulang dua kali, yaitu pada 14 April 2024 dan 1 Oktober 2024.

Baca juga Dibutuhkan Negarawan

Keberhasilan serangan-serangan yang dilakukan Hizbullah juga bisa disebut sebagai indikator kemenangan bagi Iran. Mengingat peran Iran sangat besar dalam tumbuh-kembang kelompok perlawanan, seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi.

Iran berhasil memecah mitos Israel sebagai satu-satunya kekuatan adidaya di Timur Tengah. Keberhasilan serangan-serangan yang dilakukan oleh Iran dan proksi-proksinya harus dijadikan kalkulasi lebih teliti oleh Israel sebelum menyerang Iran ataupun proksi-proksinya.

Harga mahal

Meski demikian, di sisi yang lain, kemenangan Israel dan Iran harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Bagi Israel, kemenangan besarnya harus dibayar dengan hilangnya citra sebagai negara adidaya satu-satunya di Timur Tengah. Ditambah lagi dengan hilangnya banyak dukungan dunia internasional terhadap Israel.

Paling mahal dari semua itu adalah hilangnya jaminan keamanan atau kenyamanan bagi warga Israel. Dalam beberapa bulan terakhir, angka eksodus warga Israel ke luar negeri dilaporkan meningkat hingga mencapai puluhan ribu. Inilah salah satu hal yang membuat Israel harus segera menghentikan perangnya, minimal untuk beberapa waktu ke depan.

Baca juga Merdeka, Belajar, Merundung

Hal yang kurang lebih sama juga dialami oleh Iran. Negeri kaum Mullah itu harus membayar kemenangan besarnya dengan harga yang sangat mahal. Mulai dari keberhasilan Israel menembus sistem pengamanan terdalam Iran, terbunuhnya tokoh-tokoh kunci seperti Hassan Nasrallah, Sinwar, dan Haniyeh (bahkan nama yang terakhir dibunuh Israel saat berada di Iran).

Namun, yang paling mahal bagi Iran adalah keberhasilan Israel memorakporandakan Hizbullah sebagai salah satu proksi andalannya. Hingga akhirnya tokoh-tokoh kunci Hizbullah dengan mudah menjadi target serangan dan pembunuhan oleh Israel.

Ibarat tombak, Hizbullah adalah pegangan tombak bagi Iran. Sementara Hamas adalah ujung dari tombak itu. Dengan keberhasilan Israel memorakporandakan Hizbullah, Iran seperti orang yang kehilangan pegangan tombaknya. Inilah salah satu hal yang memaksa Iran untuk menghentikan perangnya dalam waktu yang secepat-cepatnya.

Baca juga Kemerdekaan dan Pendidikan

Di sini dapat ditegaskan, golden period adalah momentum sekaligus titik temu kepentingan antara Israel, Iran (beserta proksi-proksinya), dan AS. Namun, sebagaimana telah disampaikan di atas, golden period ini sangat singkat; hanya sampai 5 November mendatang.

Sementara dinamika di lapangan sangat cepat, khususnya dengan adanya semangat pantang terlihat lemah, apalagi menyerah, dari Israel dan Iran. Bahkan, dalam perkembangan terbaru, sikap dari kedua negara cenderung meningkat kembali (setidaknya apabila dibandingkan dengan beberapa waktu setelah Israel menyerang balik Iran pada 26 Oktober 2024).

Oleh karena itu, semua pihak terkait harus mengejar momentum golden period ini. Apabila momentum emas ini terlewatkan tanpa adanya kesepakatan damai antara Israel dan proksi-proksi Iran, hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi ke depan.

Baca juga Proklamasi Kemerdekaan yang Sarat Makna

Pertama, Pilpres AS dimenangi oleh Trump. Apabila ini yang terjadi, besar kemungkinan perang yang ada akan berlanjut dengan keberpihakan AS yang lebih total kepada Israel. Di bawah kepemimpinan Trump, kebijakan AS terkait konflik Israel-Palestina akan lebih mengabaikan dan mencampakkan Palestina (seperti dalam kasus pemindahan Kedubes AS ke Jerusalem dan Kesepakatan Abraham yang dilakukan tanpa melibatkan Palestina).

Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Netanyahu. Menurut penulis, ini juga yang membuat Netanyahu menggunakan politik ulur waktu (siyasatul mumathalah) terkait dengan gencatan senjata yang terus gagal sampai sekarang.

Dengan kata lain, Netanyahu sengaja ingin melanjutkan perang yang ada. Mengingat perang yang ada menjadi dukungan tak langsung bagi Trump. Di ujungnya, Trump diharapkan memenangi Pilpres AS dan kembali memberikan dukungan tanpa batas kepada Netanyahu (Israel). Di samping demi kepentingan pribadi Netanyahu, seperti mengamankan dirinya dari proses hukum yang dialami sebelum terjadinya serangan pada 7 Oktober 2023.

Baca juga Jamaah Islamiyah, dari Johor Berakhir di Bogor

Kedua, Pilpres AS dimenangkan oleh Kamala Harris. Apabila ini yang terjadi, besar kemungkinan kebijakan AS yang bersifat deeskalasi akan terus dilanjutkan. Bahkan, besar kemungkinan Harris akan jauh lebih kuat memaksa Netanyahu untuk mencapai kesepakatan damai sekaligus mengakhiri perang. Tidak hanya karena latar belakang politik Harris dengan Netanyahu yang tidak terlalu kompatibel, tetapi juga karena pelbagai macam kebrutalan Israel di Gaza dan Lebanon bisa merusak citra AS sebagai negeri yang menghormati demokrasi, HAM, dan kebebasan sipil.

Sejauh ini Netanyahu memimpin perang Israel dengan mengabaikan semua tata nilai dan hukum internasional. Kalaupun tidak ada sistem hukum yang menjerat Israel saat ini, hal itu tak berarti tidak ada pelanggaran. Akan tetapi, lebih karena peran AS yang terus melindungi dan membela Israel, khususnya melalui hak veto yang dimiliki di PBB.

Perang Israel-Iran bisa disebut sebagai imbas tidak langsung dari perang Israel-Hamas yang dimulai dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Hizbullah melibatkan diri dalam perang ini sejak 8 Oktober 2023 dan menjadi perang langsung setelah peledakan penyeranta atau pager secara berantai di Lebanon pada 17 September dan pembunuhan Hassan Nasrallah pada 27 September 2024. Sementara Iran-Israel terseret dalam perang ini setelah Iran menyerang Israel secara langsung pada 14 April 2024 yang dianggap sebagai balasan atas serangan Israel terhadap Konsulat Iran di Damaskus pada 1 April 2024.

*Artikel ini telah tayang di laman kompas.id edisi Senin 4 November 2024

Baca juga Pesan Damai Grand Sheikh Al-Azhar dan Antikekerasan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...