HomeBeritaEks JAD: Dakwah juga...

Eks JAD: Dakwah juga Jihad

Sejatinya jihad bukan hanya bermakna perang fisik. Jihad disyariatkan pertama kali pada tahun 3 kenabian saat Muhammad SAW masih tinggal di Makkah. Artinya selama 15 tahun masa kenabian tidak ada perang (qital), karena yang terlaksana adalah jihad dakwah, yaitu mengajak manusia mengesakan Allah dan mengakui kenabian Muhamad SAW dengan cara-cara persuasif.

Pernyataan ini diungkapkan oleh Bahruddin Ahmad alias Amir, mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, dalam kegiatan kampanye perdamaian yang digelar AIDA di Purwokerto, Jawa Tengah, beberapa waktu silam.

Baca juga Dari Terdoktrin hingga Mendoktrin

Amir menjelaskan, perang baru disyariatkan saat Nabi Muhammad bermukim di Madinah, tatkala umat Islam telah memiliki kekuatan politik dan militer. Saat itu perang fisik diizinkan lantaran kaum kafir terus memerangi dan menindas umat Islam sehingga tak ada opsi lain selain melawan.

Mantan narapidana kasus terorisme ini lantas mengkritik pemahaman yang dulu pernah diyakininya sebagai kebenaran. Bahwa NKRI adalah negeri kafir lantaran berhukum dengan selain hukum Allah (tidak menerapkan syariat Allah), memberikan loyalitasnya kepada negara Barat yang kafir, serta pemerintah memerangi kaum muslim dengan menangkap orang-orang yang ingin menegakkan syariat Islam di Indonesia.       

Baca juga Eks JI: Jihad Tak Boleh di Wilayah Damai

“Apakah di Indonesia sekarang umat Islam diperangi? Tidak. Indonesia sudah damai, yang membuat negara kacau salah satunya adalah kelompok kami dulu,” ujar Amir mengakui kesalahan pemahamannya yang lampau.  

“Jika saat ini pemerintah tidak melaksanakan hukum pidana Islam (hudud), toh pemerintah memfasilitasi pelaksanaan syariat Allah yang lain seperti shalat, puasa, zakat, dan haji,” ujarnya menambahkan.

Karena dalil-dalil di atas, para ekstremis berani mengkafirkan aparat-aparat NKRI, meskipun mereka menjalankan rukun Islam. Padahal dalam hemat Amir, tidak boleh serampangan menjatuhkan vonis kafir kepada muslim.

Baca juga Mantan Eksponen JI: Negara ini Dijaga Allah

Menurut Amir, aparat NKRI adalah manusia-manusia biasa yang pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi apakah karena itu mereka boleh dikafirkan? Imam Ahmad bin Hanbal nyatanya tidak mengkafirkan pemerintah yang menyiksa dan memenjarakannya dalam perkara keyakinan apakah Al-Qur’an adalah sesuatu yang qadim (melekat dengan ketuhanan) atau hadits (makhluk). (MSY)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...