HomePilihan RedaksiDari Terdoktrin hingga Mendoktrin

Dari Terdoktrin hingga Mendoktrin

Bahruddin alias Amir, salah seorang mantan pelaku terorisme yang telah bertobat kembali ke jalan perdamaian. Dahulu selama bertahun-tahun, ia pernah bergelut dalam pemikiran ekstrem dan dunia kekerasan. Sejak masih anak-anak, ia sudah menerima doktrin ekstremisme dan kekerasan dari gurunya di sebuah pesantren Kota Bima, Nusa Tenggara Barat.

Amir sudah terpapar paham ekstrem dan kekerasan sejak duduk di bangku madrasah tsanawiyah (SMP). Doktrin ekstremisme dan kekerasan tersebut disampaikan salah seorang gurunya yang lulusan pondok pesantren yang didirikan Abu Bakar Ba’syir. Menurut Amir, guru tersebut mengajar pelajaran Bahasa Arab namun di sela-sela waktu mengajarnya, ia menyisipkan pemahaman anti-NKRI.

Baca juga “Membaca” Mengubah Mantan Pelaku ke Jalan Perdamaian

“Persis bertepatan dengan kejadian kerusuhan Poso dan Ambon sekitar tahun 1999-2000, beliau menyampaikan ‘tahu gak kalian? Pancasila itu syirik, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu negara kafir’,” ujar Amir menirukan ajaran gurunya di sebuah kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) beberapa waktu lalu.

Amir mengaku kaget dengan pernyataan gurunya tersebut. Ia semakin kaget dengan pernyataan yang membenturkan landasan negara dengan hukum agama, bahkan kerusakan di negara dianggap karena hukum-hukum yang digunakan di Indonesia tidak sesuai hukum Islam. 

Amir dan rekan-rekannya juga dipertontonkan video-video konflik horizontal bernuansa agama yang terjadi di masa lalu. Video-video tersebut dinarasikan bagaimana umat Islam dibantai. “Inilah kelakuan-kelakuan orang-orang kafir terhadap saudara-saudara kalian,” ucap Amir menirukan ucapan gurunya.

Baca juga Tantangan Kembali ke Jalan Perdamaian

Doktrin-doktrin tersebut ternyata membangkitkan semangat Amir untuk membela saudara Muslim yang dianggap dibantai dan ditindas.

Semakin tinggi jenjang pendidikannya, eskalasi pemikiran ekstrem Amir juga semakin meningkat. Puncaknya ia pergi ke Poso dan bergabung dengan kelompok ekstrem pimpinan Santoso. Di sana, ia ikut latihan militer dan terlibat aktif merekrut orang-orang untuk bergabung dengan kelompok ekstrem di bawah pimpinan Santoso.

Kembali ke Jalan Perdamaian

Pertengahan 2013, Amir ditangkap Densus 88 di Poso dan menjalani hukuman penjara. Lalu pada 2017, ia menghirup udara bebas dari penjara. Namun kebebasannya hanya berlangsung empat bulan saja. Amir ditangkap kembali karena diduga terlibat aksi penembakan polisi di Bima. Ia terlibat karena mendoktrin dengan memberikan motivasi, arahan, dan semangat kepada pelaku untuk melakukan aksi tersebut. Amir pun divonis sepuluh tahun dan menjalani hukuman penjara di Nusakambangan.

Saat menjalani hukuman penjara di Nusakambangan, Amir bertemu narapidana kasus terorisme lainnya yang berasal dari Bima seperti dirinya. Narapidana tersebut telah meninggalkan jalan kekerasan dan ekstremisme. Amir banyak berdialog dan berdiskusi dengan narapidana tersebut.

Baca juga Ali Fauzi; dari Lingkar Kekerasan ke Lingkar Perdamaian

Mereka berdiskusi dan mengkaji kembali rujukan-rujukan kelompok ekstrem. Alhasil, Amir pun mulai mengkritisi bahan bacaan kelompok ekstrem yang mudah mengkafirkan orang lain dan menganggap NKRI sebagai bentuk kesyirikan.

“Saya juga membaca lagi buku-buku dan kitab-kitab keislaman yang diberikan senior dan memeriksa langsung kevalidannya,” ujarnya.

Ia menemukan kesimpulan bahwa apa yang telah dipahaminya selama ini adalah sebuah kekeliruan. Ia pun mencari buku-buku lain untuk mengcounter pemikiran masa lalunya. Kini ia meyakini bentuk dan sistem negara Indonesia bukan kesyirikan. Sebab di negeri ini umat Islam bisa leluasa mempraktikan ajaran agamanya tanpa ada larangan apapun. Kini, Amir pun sudah berikrar setia kepada NKRI.

Baca juga Sepekan Bersama Eks Napiter

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...