HomeInspirasiAspirasi DamaiDisonansi Memicu Koreksi (Bag....

Disonansi Memicu Koreksi (Bag. 3 Selesai)

Muhasabah

Fulan, mantan pelaku ekstremisme kekerasan mengalami perubahan karena faktor self correction atau self deradicalization melalui buku-buku bacaan. Puncaknya, semua hal yang Fulan baca terkonfirmasi oleh perjumpaannya dengan sejumlah penyintas aksi terorisme. Ideologinya runtuh usai menyimak langsung kisah mereka.

Aksi jihadnya yang diniatkan untuk membalas kezaliman negara-negara Barat terhadap umat Islam, ternyata justru menzalimi orang-orang tak bersalah, bahkan sesama muslim. Jihadnya ternyata jahat.

Baca juga Disonansi Memicu Koreksi Bag. 1

Perubahan dalam diri Fulan merupakan bentuk self-correction, yang dalam psikologi diartikan sebagai bentuk kesadaran individu atas kesalahannya di masa lalu dan langsung menyesuaikan diri untuk mengetahui dan memperbaiki semua aspek kepribadian yang buruk agar dapat diterima secara sosial.

Self-correction yang baik bergantung pada respons kita terhadap hal baru yang diterima. Apakah kita berubah pikiran atau berusaha keras mengelak dari kesalahan yang telah dilakukan?  Perlu keterbukaan terhadap bukti, argumen, dan pandangan yang berseberangan dengan yang kita miliki agar seseorang bisa melakukan self-correction.

Baca juga Disonansi Memicu Koreksi (Bag. 2)

Glenda L. Satne, peneliti Denmark yang bertugas di Center for Subjectivity Research, University of Copenhagen, dalam artikelnya berjudul Interaction and Self-Correction menyebutkan, ada dua jenis kesalahan yang bisa kita kaitkan dengan orang lain dalam mengimplementasikan paham mereka. Pertama, kesalahan seseorang ketika salah menerapkan konsep atau diistilahkan dengan misapplication (kesalahan konseptual). Kedua, kita mungkin mengaitkan kurang mendalamnya pengetahuan seseorang mengenai suatu konsep.

Jika dilihat dari kasus Fulan, ia cenderung melakukan kesalahan dalam jenis pertama. Mungkin bukan karena kurangnya pengetahuan Fulan, tetapi misapplication. Jihad secara konseptual adalah untuk membantu umat Islam yang terzalimi dan mewujudkan keadilan. Namun ternyata cara Fulan keliru. Oleh karenanya ia mengubah perilakunya dengan cara mengarusutamakan perdamaian untuk menebus kesalahannya di masa lalu yang menebar teror.

Baca juga Membimbing Anak Bermedsos

Self-correction merupakan ikhtiar seseorang untuk menjadi lebih baik. Islam menyebut konsep ini dengan muhasabah, yaitu peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, dan kesalahan diri. Seseorang yang melakukan muhasabah disebut sebagai manusia yang pandai oleh Rasulullah.

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Artinya: Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT (HR. Imam Turmudzi).

Baca juga Merawat Kesempurnaan Manusia

Memang Fulan pernah melakukan kesalahan, namun bukankah semua orang pernah melakukan kesalahan? Sebaik-baiknya manusia adalah yang mau mengakui kesalahan, meminta maaf kepada yang ia sakiti, dan memperbaiki perilakunya untuk menjadi insan yang lebih baik. [MSH]

Baca juga Mengikhlaskan Masa Lalu

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...