HomeInspirasiAspirasi DamaiMembimbing Anak Bermedsos

Membimbing Anak Bermedsos

Di era kini perkembangan teknologi digital sangat pesat dan membantu kehidupan kita. Salah satu berkah kemajuan itu adalah media sosial (medsos). Tetapi kita harus memerhatikan perkembangan ini dari berbagai sisi dan dampak yang dihasilkan, baik positif maupun negatif, khususnya di kalangan generasi remaja.

Sebagai orang yang lebih dewasa, kita harus membimbing generasi remaja untuk memanfaatkan medsos dengan bijak, supaya mereka bisa mengambil hal-hal positif. Kita harus meluangkan waktu untuk memerhatikan aktivitas anak saat bermedsos. Berikut  ini beberapa tips untuk membimbing anak dalam bermedsos:

Baca juga Merawat Kesempurnaan Manusia

1. Menyaring konten yang akan dikonsumsi anak

Terkadang kita sebagai orang dewasa hanya memberi handphone agar anak belajar, tetapi tidak memedulikan pelajaran atau konten apa yang mereka lahap. Sebagai orang yang lebih dewasa kita harus memerhatikan konten yang akan dikonsumsi oleh anak agar mereka tidak tersesat pada muatan yang salah seperti pornografi, kekerasan, dan  lain-lain.

2. Mengatur durasi anak dalam bermedsos

Salah satu kesalahan orang dewasa saat memberi akses kepada anak untuk bermedsos adalah dengan tidak memberi batasan waktu. Kita harus memberi pemahaman agar mereka tidak selalu bergantung pada medsos. Karena kehidupan nyata seperti berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang terdekat juga penting untuk melatih tumbuh kembang anak.

Baca juga Disonansi Memicu Koreksi Bag. 1

3. Memberi pengetahuan tentang privasi

Kita harus memberi tahu apa itu privasi dalam bermedsos. Jangkauan medsos sangat luas dan mudah. Kita harus mengedukasi anak dalam hal mereka ingin membagikan sesuatu yang bersifat pribadi ke medsos. Hal-hal pribadi apa saja yang boleh dan tak boleh diumbar di medsos.

4. Memberi tahu bahaya atau ancaman yang potensial di medsos

Banyak tindakan kejahatan yang terjadi di internet. Ini mengharuskan kita untuk mengedukasi anak agar lebih berhati-hati dalam bermedsos. Kewaspadaan tak hanya penting di dunia nyata, melainkan juga di jagat maya, khususnya medsos.

Baca juga Mengikhlaskan Masa Lalu

5. Menumbuhkan sikap kritis

Terkadang di medsos banyak beredar informasi hoaks atau narasi yang membuat pikiran anak tercuci dan akhirnya mengikuti suatu aliran atau opini. Contohnya seperti kelompok kekerasan yang mengajarkan anak membenci kelompok tertentu. Karena itu sangat penting mengajarkan anak agar mereka bersikap kritis, sehingga mampu menyaring dan tidak menelan mentah-mentah setiap informasi yang beredar di medsos.

Kita harus membimbing dan mengawasi anak–anak dalam bermedsos agar dijauhkan dari berbagai macam kejahatan atau penyalahgunaan yang membuat mereka mendapatkan dampak negatif dari medsos. Kita harus menjaga bibit-bibit penerus bangsa agar mereka bisa menjadi generasi yang tangguh dan mencintai perdamaian.

Baca juga Berdamai dalam Kemacetan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Belajar Bersyukur dari Kisah Korban Bom

Bersyukur bukanlah tentang mengabaikan penderitaan atau kehilangan yang dialami, tetapi lebih...

Memahami Perundungan

Fenomena perundungan dengan kekerasan sangat marak terjadi, tak terkecuali di lingkungan...

Medsos untuk Perdamaian

Menjadi agen perdamaian di zaman ini sangat mudah dan murah tetapi...

Praktik-Praktik Jihad

Jihad sering diidentikkan dengan aksi kekerasan dan tindakan ekstrem. Namun sebenarnya...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...