HomeInspirasiAspirasi DamaiMengikhlaskan Masa Lalu

Mengikhlaskan Masa Lalu

Setiap waktu yang kita lewati dalam perjalanan hidup ini tak bisa kita ulangi lagi. Mesin waktu nyatanya hanya ada di film dan naskah drama fiksi.

Sebagaimana kisah hidup yang menimpa para korban terorisme. Jika waktu diputar balik, tentu saja mereka ingin tak ada musibah tersebut dalam episode hidupnya. Karena itu, satu-satunya jalan yang bisa mereka tempuh adalah mengikhlaskan masa lalu dan belajar menjadi manusia yang bersyukur karena masih diberi kesempatan bernafas.

Baca juga Berdamai dalam Kemacetan

Aksi terorisme dengan segala situasi yang menimpa korbannya adalah sadisme. Bagi korbannya, itu kehancuran bagi segala cita-cita yang sudah ditata untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Tapi bagi korban, pada saatnya harus menyadari bahwa semua hal yang terjadi adalah takdir Allah, kun fayakun, jadilah maka terjadilah.

Hidup memang kadang tak sesuai keinginan hingga seringkali kita menyalahkan takdir, kenapa harus seperti ini? kenapa mesti begitu? Namun kita tak boleh membiarkan diri terus terbengkalai pada situasi di masa lalu. Bagaimana pun life must go on, hidup harus berjalan terus.

Baca juga Kebersihan Sebagian dari Perdamaian

Di sisi lain, sebagian mantan pelaku terorisme yang bertobat tak ingin berhenti pada kata maaf. Mereka memang sudah menjalani hukuman yang divoniskan oleh negara. Mereka pun telah menyadari bahwa perilakunya dulu adalah dosa besar dan tak berperikemanusian. Mereka melangkah lebih jauh menjadi juru kampanye perdamaian agar tak ada lagi orang-orang yang mengikuti jejak mereka.

Kini sebagian korban dan mantan pelaku terorisme sudah berdamai dengan keadaan. Mereka berkomitmen mengampanyekan perdamaian demi membangun kehidupan yang lebih tenteram dan tenang untuk ke depannya.

Baca juga Berpikir Damai sejak Dini

Bagi korban terorisme memaafkan jauh lebih membuatnya merasa tenang dan ringan untuk melangkah. Memaafkan diri sendiri membuatnya lebih mencintai diri sendiri. “Aku tetaplah aku” baik dulu maupun sekarang di mana jiwa sangat berharga, dan mencintai diri sendiri dengan segala kekurangan maupun kelebihannya.

Setelah ikhlas dan memaafkan, korban terorisme berjuang dan bertawakal. Sementara mantan pelaku terorisme berusaha untuk menjalani hidup sebagai insan yang lebih baik dengan berkaca pada masa lalu.

Baca juga Menjauhi Ranah Kekerasan

Hidup memang harus lillah, niatkan semuanya hanya untuk Allah semata. Karena tujuan hidup sebenarnya bukan di kehidupan fana ini tapi kelak di kehidupan abadi.

Mari memaafkan yang melukai 
Melupakan yang menyakiti 
Hidup tenang, hidup bahagia 
Kebencian hanya menjadi penghalang bagi kebahagiaan untuk masa yang akan datang

Baca juga Tips Menghindari Pertengkaran di Medsos

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meresapi Hikmah di Balik Musibah

Aliansi Indonesia Damai- Sebuah tragedi besar pernah menimpa Syamsi Fahrul 19...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....