HomeOpiniInternalisasi Kerukunan di Tengah...

Internalisasi Kerukunan di Tengah Keragaman

Oleh Fathorrahman Ghufron
Wakil Katib PWNU Yogyakarta; Wakil Dekan Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga

Perayaan Hari Amal Bakti Kementerian Agama yang ke-77 pada 2023 mengambil tema ”Kerukunan Umat untuk Indonesia Hebat”. Secara semiotis, tema ini menggambarkan sebuah rekognisi dan ko-eksistensi terhadap perbedaan yang dianut oleh setiap orang. Terlebih kondisi geografis Indonesia yang dilatari oleh berbagai tekstur lokasi yang beragam. Demikian pula postur penduduknya yang tersebar di berbagai kawasan khatulistiwa dilandasi oleh aneka rupa ekspresi penghayatan dan pengalaman.

Tidak terlalu berlebihan apabila semboyan Bhinneka Tunggal Ika dijadikan sebuah mantra kebangsaan oleh para pendiri negara ini untuk mengajak setiap penduduknya saling menghargai dan saling mengenali. Namun, dalam perkembangannya, mantra kebangsaan yang sangat menjunjung tinggi spirit persatuan dan kerukunan sering kali kandas di tengah jalan.

Baca juga Mencari Celah Kebaikan

Hal ini terjadi karena perilaku sebagian kelompok yang mengusik persatuan dan kerukunan dengan berbagai cara yang tak bertanggung jawab. Implikasinya, fondasi kebangsaan seringkali berhadapan dengan ego sentrisme sekelompok orang yang hanya ingin mempertahankan kebenaran ajaran dan pengetahuannya.

Potret kerentanan ini bisa dicermati pada munculnya fenomena radikalisme dan ekstremisme yang selalu mengemuka dengan berbagai motif dan metodologinya. Bahkan, tak jarang dua fenomena tersebut berujung pada aksi terorisme yang akhir-akhir ini mulai berkembang dan memengaruhi beberapa lapisan masyarakat.

Baca juga Melawan Rasa Takut

Di antara lapisan masyarakat yang akhir-akhir ini banyak direkrut oleh pelaku jihadisme, seperti Ansharud Daulah, adalah anak muda yang mempunyai potensi di berbagai bidang. Peristiwa bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar, Bandung, 7 Desember 2022, menjadi salah satu gambaran keterlibatan anak muda dalam lingkaran terorisme yang dimotori Ansharud Daulah.

Di tangan kelompok Ansharud Daulah, keberadaan anak muda sebagai tunas bangsa dan sejatinya menjadi bonus demografi yang bisa memperkuat sendi kehidupan berbangsa justru mudah terjerembab ke dalam tradisi kekerasan. Bahkan, agama yang sejatinya menjadi pandu keselamatan bagi setiap pemeluknya direduksi sebagai norma konflik yang menebarkan perpecahan dan permusuhan.

Mengembalikan fitrah beragama

Menyikapi fenomena radikalisme, ekstremisme, dan terorisme yang secara nyata mulai berkembang biak dan mewarnai iklim kehidupan dengan berbagai narasi ancaman, tentu semua pihak harus saling bergandengan tangan dan saling bahu-membahu dalam mencegah setiap simptom reduksi ajaran agama yang menjurus pada radikalisme, ekstremisme, dan terorisme tersebut.

Pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang menegaskan pentingnya mengembalikan fitrah agama sebagai basis inspirasi harus ditindaklanjuti oleh semua kalangan. Apabila selama ini agama hanya dijadikan sebagai aspirasi politisasi yang dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, sudah semestinya para tokoh dan kaum terdidik lainnya mulai menyadarkan dan mencerahkan masyarakat dengan ajaran-ajaran yang mencerdaskan.

Baca juga Membangun Budaya Damai Melalui Umpan Balik

Setidaknya, keterlibatan tokoh agama yang konsisten mendampingi dan mengayomi masyarakat agar melek dan kritis terhadap berbagai ajakan kelompok tertentu yang selalu menihilkan dan menyederhanakan agama sebatas ajaran yang kaku dan sikap benar sendiri, lambat laun masyarakat bisa membedakan antara kebatilan kebenaran dalam memanifestasikan ajaran yang otentik dan humanis.

Dengan cara ini, maka fitrah agama yang mengedepankan spirit persaudaraan baik dalam konteks keberagamaan, kemanusiaan, dan kebangsaan akan disadari sebagai sebuah keniscayaan oleh setiap orang dan kelompok. Bahkan, ketika spirit persaudaraan yang luhur tersebut mulai meresap dan membekas di setiap sanubari setiap kalangan, secara otomatis, ajakan apa pun untuk mengancam dan meneror berbagai pihak yang liyan atas nama ajaran agama, dengan sendirinya akan terpental dan ditolak oleh masyarakat.

Baca juga Membangun Komunikasi Damai

Namun, untuk menciptakan ekosistem beragama yang beradab dan berbasis pada ikatan persaudaraan yang saling ko-eksistensial, diperlukan sebuah kedewasaan setiap pihak dalam mentransmisikan ajaran agama yang kontekstual. Keberadaan tokoh agama (ulama), pemerintah (umara), dan kaum terdidik lainnya harus menjadi simpul keteladanan dalam merajut setiap perbedaaan sebagai rahmat.

Tak semestinya apabila setiap perbedaan cara pandang yang membentang dalam kehidupan masyarakat yang dinamis selalu dihakimi sebagai ancaman yang dapat merusak ajaran agama yang dianut. Demikian pula, ekspresi keberagamaan setiap orang dan kelompok dalam menghayati ajaran ketuhanan yang beragam selalu dituduh sebagai bentuk pengingkaran yang bisa mendangkalkan akidah atau basis keyakinan.

Baca juga R20: Catatan dari Forum Perdamaian Dunia ke-8 di Solo

Sebab, disadari atau tidak, agama yang menyebar ke berbagai kawasan dan sendi kehidupan dilingkupi oleh aneka macam tradisi dan kebudayaan yang saling beririsan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah cakwarala berpikir yang terbuka sehingga terbangun kesadaran menghargai perbedaan dan kerelaan menyesuaikan diri dalam keragaman.

Dalam konteks ini, tema ”Kerukunan Umat untuk Indonesia Hebat” dalam Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-77 menemukan konteksnya untuk diprofilerasi dan dijadikan sebagai nafas beragama, berbangsa, dan berperikemanusiaan.

*Artikel ini terbit di Kompas.id pada 9 Januari 2023

Baca juga R20: Fikih Toleransi dan Rekonsiliasi Konflik

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...