HomeInspirasiAspirasi DamaiMengurai Amarah Meraih Bahagia

Mengurai Amarah Meraih Bahagia

Emosi adalah luapan perasaan atau gejolak jiwa yang diekspresikan dalam tingkah laku. Emosi dapat ditunjukkan dengan perasaan senang, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu. Semua orang tentu pernah mengalami perasaan itu. Dalam kadar tertentu, luapan emosional, baik berupa kesenangan, kesedihan, atau kemarahan adalah manusiawi dan lumrah. Namun jika berlebihan bisa membahayakan.

Sangat penting bagi kita untuk menahan atau mengontrol perasaan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Hal ini selain untuk kesehatan mental diri sendiri, juga dalam rangka menjaga perasaan orang lain, atau membuat keadaan menjadi tidak bersahabat. Dengan menahan diri kita bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Baca juga Perdamaian di 2023: Harapan dan Tantangan

Ada seorang penyintas terorisme, sebut saja Fulanah namanya, yang sangat marah ketika dipertemukan pertama kali dengan mantan pelaku terorisme. Dalam forum tersebut, ia mengeluarkan kata-kata yang kurang elok . Bahkan menurut dia, andai saat itu tak menghormati forum, mungkin ia sudah melemparkan benda tertentu ke mantan pelaku terorisme tersebut. Dalam konteks tersebut, si Fulanah masih bisa mengendalikan amarahnya sehingga tidak memicu dampak mudarat lebih luas. Namun usai pertemuan tersebut, emosinya justru tak stabil.

Ia memang bertahun-tahun memendam kemarahan terhadap pelaku serangan yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas. Rasa yang dipendamnya tersebut meluap tak terbendung saat bertemu dengan mantan pelaku terorisme, yang sejatinya tak berkaitan langsung dengan peristiwa yang menimpanya.

Baca juga Disonansi Memicu Koreksi Bag. 1

Emosi yang labil membuat hidup Fulanah tak tenang. Kesehatan fisiknya juga terganggu. Ia lantas menyadari bahwa amarah yang dipicu rasa dendam itu harus dihapuskan, bukan untuk siapa-siapa, tapi demi kebaikan dirinya. Singkat kata, dengan pelbagai upaya, ia berhasil sampai pada titik keikhlasan menerima musibah yang menimpanya dan menerima apa pun kondisi fisik dirinya.

Lebih dari itu, ia bisa memaafkan para pelaku terorisme, baik yang terlibat langsung dengan aksinya maupun peristiwa teror lainnya. Melalui proses dan waktu yang cukup panjang, Fulanah menyadari bahwa kemarahan dan pembalasan dendam tak bakal mengembalikan apa pun yang hilang dari dirinya.

Baca juga Disonansi Memicu Koreksi (Bag. 2)

Ada kutipan populer yang kerap dinisbatkan kepada sosok Confusius, “Kalau Anda sudah siap untuk melakukan balas dendam, maka galilah dulu dua kuburan. Satu untuk dia dan satunya untuk Anda sendiri.” Dendam tak pernah menyelesaikan persoalan dan sebaliknya memerpanjang masalah. Karena itu, sejatinya cara balas dendam terbaik adalah dengan menunjukkan bahwa kita baik-baik saja saat disakiti. Bahkan bisa memaafkan tanpa perlu diminta. Tentu tak mudah sampai tahap ini. Tapi dengan ikhtiar personal yang serius sebagaimana dilakukan Fulanah, tahapan itu bisa dicapai.

Memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan. Di akhir hayatnya, mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pernah berpesan kepada putrinya, “Maafkanlah semua lawan politikmu tetapi jangan lupakan kesalahannya.” Kesalahan adalah pelajaran. Jika dilupakan maka kita akan dihukum untuk mengulangi kesalahan yang sama kedua kali.

Baca juga Disonansi Memicu Koreksi (Bag. 3 Selesai)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepekan Bersama Eks Napiter

Aliansi indonesia Damai- November 2022 menjadi salah satu bulan yang cukup...

Seni untuk Perdamaian

Seni adalah ungkapan rasa keindahan, kebahagiaan, maupun kesedihan. Ekspresinya bisa berupa...

Kebersihan Sebagian dari Perdamaian

Dalam kehidupan ini, di mana pun berada pasti kita ingin tempat...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...