HomeOpiniMembangun Budaya Damai Melalui...

Membangun Budaya Damai Melalui Umpan Balik

Oleh: Asrita
Guru Sekolah Sukma Bangsa Bireuen

Sering kali kita mendengar hasil pembelajaran siswa akan sangat baik jika guru mampu memberikan umpan balik terhadap peserta didik mereka. Itu menunjukkan guru memahami dengan baik proses pembelajaran yang dilalui siswa mereka. Umpan balik yang memberi dampak positif kepada peserta didik dapat digunakan sebagai sarana untuk membangun budaya damai di sekolah.

Umpan balik seperti apa yang harus seorang guru berikan terhadap peserta didik agar mampu memberikan pesan positif? Bagaimana umpan balik mampu membangun budaya damai di sekolah?

Umpan balik

Wening (2012) menjelaskan umpan balik merupakan tindakan guru untuk membantu setiap peserta didik yang mengalami kendala belajar secara individu dengan cara menanggapi hasil kerja peserta didik sehingga lebih menguasai materi yang disampaikan guru. Umpan balik dapat dianggap sebagai salah satu bentuk asesmen yang dapat dilakukan guru untuk melihat perkembangan peserta didik ketika proses kegiatan belajar-mengajar berlangsung. Umpan balik juga digunakan untuk mengajak peserta didik menerima masukan sehingga mampu mengkritisi pendapat mereka sendiri, memperbaiki kesalahan pemahaman, tanpa melukai harga diri mereka (Perwitasari, 2019).

Baca juga Membangun Komunikasi Damai

Proses memberikan umpan balik diharapkan membawa pengaruh positif terhadap pencapaian peserta didik walaupun di perjalanannya kadang kala berpengaruh terhadap hubungan peserta didik dengan guru. Seperti disampaikan Timperley dan Hattie (2007), umpan balik merupakan salah satu cara untuk memengaruhi proses belajar dan pencapaian peserta didik meskipun dampak yang diperoleh bisa saja positif ataupun negatif.

Itu dapat terjadi jika peserta didik yang diberi umpan balik tidak dapat memahami manfaat umpan balik. Peserta didik akan merasa seperti dihakimi guru sehingga akan membuka peluang munculnya rasa benci terhadap guru. Dengan demikian, pemberian umpan balik haruslah memperhatikan nilai-nilai budaya damai agar pesan positif dapat tersampaikan kepada peserta didik.

Nilai-nilai budaya damai

Pemahaman tentang damai sering kali diartikan dalam makna sempit. Kedamaian akan terwujud jika yang berkonflik/bermasalah sudah saling memaafkan. Namun, dengan berjalannya waktu, pemahaman damai itu semakin berkembang menjadi pemahaman yang lebih luas. Eliasa (2017) menjelaskan pada dasarnya damai merupakan salah satu kebutuhan manusia yang mencakup kebahagian, keadilan, dan kesehatan. Galtung (1995) mengemukakan damai sebagai ketiadaan kekerasan dan kehadiran keadilan sosial sehingga terwujud kesejahteraan manusia dan lingkungan mereka.

Baca juga R20: Catatan dari Forum Perdamaian Dunia ke-8 di Solo

Budaya damai kemudian menjadi salah satu concern dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Wujud nyatanya ialah adanya Deklarasi PBB pada 1999 tentang budaya damai yang dimaknai sebagai seperangkat nilai, sikap, tradisi, dan cara berperilaku yang merefleksikan dan menginspirasi untuk mewujudkan masyarakat damai. Nilai, sikap, tradisi, dan cara berperilaku tersebut di antaranya respek terhadap diri sendiri dan orang lain, penerimaan atas kebebasan berekspresi, opini dan informasi, penghormatan terhadap prinsip-prinsip kebebasan, keadilan, demokrasi, toleransi, dan kerja sama.

Nilai-nilai budaya damai itulah yang perlu diterapkan dalam lingkungan sekolah. Sekolah merupakan salah satu tempat yang diharapkan mampu membangun pengaruh positif terhadap setiap peserta didik.

Umpan balik yang berbudaya damai

Guru di Sekolah Sukma Bangsa (SSB) berusaha menerapkan budaya damai di setiap denyut nadi proses pembelajaran yang dilakukan. Itu sejalan dengan visi sekolah, yaitu menciptakan lingkungan pendidikan yang positif dan berkelanjutan bagi warga belajar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang memiliki kemampuan akademis terampil dan berakhlak mulia. Memberi umpan balik yang positif dan produktif kepada peserta didik menjadi salah satu cara membangun budaya damai.

Baca juga R20: Fikih Toleransi dan Rekonsiliasi Konflik

Cara guru SSB memberikan umpan balik yang berbudaya damai dapat dilihat dengan menggunakan cara pandang yang ditawarkan Wening (2012). Wening memaparkan tiga fungsi umpan balik. Pertama fungsi informasi. Umpan balik dapat memperbarui informasi tentang kemajuan pencapaian dan tingkat pemahaman peserta didik. Guru memberikan umpan balik berupa penjelasan berdasarkan hasil tes, tugas, dan proyek yang telah diselesaikan peserta didik.

Guru menyediakan informasi secara terbuka terkait dengan pencapaian peserta didik. Keterbukaan informasi diharapkan mampu mendorong kerja sama antara guru dan peserta didik untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Ketika peserta didik memahami pentingnya keterbukaan informasi dan nilai kerja sama untuk mencapai hasil yang baik, mereka diharapkan mampu memegangnya dan menjadikannya sebagai modal dasar di kemudian hari dalam hidup bermasyarakat.

Baca juga Mazhab Pembinaan versus Mazhab Penjeraan

Fungsi kedua ialah motivasi. Pada bagian ini umpan balik memberikan dorongan kepada peserta didik untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. Guru memberikan kalimat-kalimat pendorong agar peserta didik membangun menghargai diri sendiri kemudian berusaha memperbaiki kualitas proses pembelajaran yang mereka lalui. Guru memberikan umpan balik secara spesifik untuk setiap peserta didik bukan dengan cara membandingkan hasil pekerjaan peserta didik yang satu dengan yang lain. Hal itu akan menumbuhkan sikap menghargai dari para peserta didik sehingga mereka menjadi orang-orang yang selalu mampu berpikir positif, berdaya, dan membantu membangkitkan semangat sesama.

Terakhir, fungsi komunikasi. Umpan balik menjadi sarana komunikasi guru dan peserta didik yang tidak hanya dibangun ketika kegiatan belajar-mengajar di kelas, tetapi juga dilakukan ketika aktivitas belajar telah selesai dilaksanakan. Guru mengambil waktu di sela-sela waktu istirahat untuk membuka percakapan santai sambil mengingatkan peserta didik untuk terus belajar atau berlatih di luar jam belajar.

Baca juga Muktamar Muhammadiyah dan Nasionalisme Indonesia

Bentuk komunikasi yang disampaikan dengan pemilihan bahasa yang sopan dan santun tanpa merendahkan mampu membawa suasana nyaman untuk peserta didik. Hal demikian membuat peserta didik mendapat contoh cara membangun komunikasi dan interaksi yang baik dengan orang lain, yang selalu mengedepankan bahasa yang baik, sehingga mereka kemudian juga mengadopsinya ketika berkomunikasi dengan siapa saja.

Untuk membangun budaya damai haruslah dengan unsur kesengajaan, termasuk ketika kita ingin menggunakan umpan balik sebagai salah satu cara membangun budaya damai. Dari awal, guru harus memiliki pola pikir untuk menerapkan budaya damai. Dengan begitu, ketika guru merancang strategi pemberian umpan balik, sudah dipikirkan juga cara dan isi umpan balik yang diberikan agar sekaligus mampu menanamkan nilai-nilai damai kepada peserta didik. Ketika guru mampu menerapkan budaya damai dengan penuh kesadaran, peserta didik juga akan punya pemahaman yang sama tentang budaya damai.

*Artikel ini terbit di Media Indonesia pada Senin, 28 November 2022

Baca juga Politik Identitas Keindonesiaan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...