HomeOpiniPendidikan dan Pentingnya Berpikir...

Pendidikan dan Pentingnya Berpikir Kritis

Oleh: Roy Martin Simamora
Pengajar Filsafat Pendidikan PSP ISI Yogyakarta

Kegagalan pendidikan dalam mendorong pemikiran kritis dapat dianalogikan seperti mengajari seseorang cara memancing tanpa mengajari mereka cara memilih umpan yang tepat atau membaca air. Memberi seseorang pancing saja tidak cukup untuk memastikan bahwa mereka akan menangkap ikan; sama halnya dengan memberikan pengetahuan kepada anak-anak tanpa mengajari mereka cara menganalisis, mengevaluasi, dan menyintesis informasi tersebut tidaklah cukup untuk memastikan bahwa mereka memiliki kemampuan berpikir kritis.

Pemikir kritis harus memiliki pemahaman yang komprehensif tentang materi pelajaran yang mereka pelajari untuk mengajukan pertanyaan yang relevan dan menganalisis data yang diberikan kepada mereka, seperti halnya pemancing yang berpengalaman harus memahami kebiasaan dan preferensi ikan yang ingin mereka tangkap. Tanpa pengetahuan semacam ini, peserta didik tidak dapat memahami materi yang diberikan dan tidak memiliki sarana untuk menilainya secara kritis.

Salah satu penyebab utama kegagalan ini adalah penekanan berlebihan pada pengujian standar dan pembelajaran hafalan di sekolah. Peserta didik dilatih untuk menghafal pengetahuan, memuntahkannya dalam ujian, lalu melanjutkan ke topik berikutnya tanpa pernah benar-benar menghubungkannya. Gaya pendidikan seperti ini mendorong peserta didik untuk memuntahkan kembali apa yang telah diajarkan daripada berpikir kritis.

Baca juga Tiga Tahun Merdeka Belajar

Contoh kegagalan pendidikan dalam mendorong pemikiran kritis: pelajaran sejarah yang hanya menyajikan daftar tanggal dan peristiwa untuk dihafalkan oleh peserta didik, tanpa mendorong mereka untuk menganalisis sebab dan akibat dari peristiwa-peristiwa tersebut. Seorang guru mengajar peserta didik tentang perang Rusia versus Ukrania dengan memberi garis waktu pertempuran dan peristiwa besar, tetapi tanpa menyelidiki faktor-faktor geopolitik, ekonomi, dan sosial yang mendasari yang menyebabkan perang itu terjadi. Dalam skenario ini, peserta didik tidak didorong untuk berpikir kritis tentang alasan di balik peristiwa sejarah, dan sebaliknya hanya diminta untuk menghafal fakta-fakta yang terisolasi.

Tanpa keterampilan berpikir kritis, peserta didik mungkin akan kesulitan untuk menghubungkan peristiwa sejarah dengan tema yang lebih besar atau memahami implikasi dari tindakan tertentu. Peserta didik juga mungkin kesulitan untuk mengevaluasi validitas interpretasi sejarah yang berbeda atau untuk menilai dampak dari bias dan perspektif pada narasi sejarah.

Menantang “status quo”

Pendidikan adalah pilar fundamental masyarakat. Namun, sayangnya, pendidikan juga sering kali gagal menginspirasi peserta didik untuk mempertanyakan dan menantang status quo. Faktanya, peserta didik sering kali didorong untuk tidak mempertanyakan apa yang diajarkan kepada mereka, yang dapat menyebabkan kurangnya kreativitas dan pemikiran mandiri.

Baca juga Kritik Batin

Kurangnya penyelidikan ini juga dapat mengakibatkan keengganan untuk memeriksa prasangka dan asumsi yang mendasari banyak konvensi dan institusi masyarakat kita. Akibatnya, peserta didik mungkin tidak mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menantang dan mengubah struktur-struktur ini sehingga melanggengkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan sosial.

Penting untuk menyadari bahwa mempertanyakan status quo bukan hanya masalah keingintahuan akademis, melainkan juga merupakan elemen penting dari kemajuan sosial. Banyak perubahan sosial dan politik yang paling signifikan sepanjang sejarah dibawa oleh individu dan kelompok yang bersedia mempertanyakan norma-norma yang berlaku dan menantang tatanan yang mapan.

Masalah lain yang berkontribusi terhadap ketidakmampuan pendidikan untuk mengembangkan pemikiran kritis adalah kurangnya penekanan kepada aplikasi dunia nyata. Peserta didik sering kali dididik dalam ruang hampa, dengan sedikit hubungan dengan dunia luar. Karena ketiadaan aplikasi, peserta didik cenderung tidak memahami pentingnya apa yang mereka pelajari dan, akibatnya, mereka cenderung tidak berinteraksi dengan konten secara kritis.

Baca juga Transformasi Masyarakat Digital

Selain itu, sekolah sering kali tidak mempertimbangkan latar belakang dan pengalaman peserta didik yang berbeda-beda. Peserta didik dari berbagai latar belakang sosial ekonomi, etnis, dan ras mungkin berpikir dan menyerap informasi dengan cara yang berbeda. Pendidikan yang tidak memperhitungkan keragaman cenderung tidak mengembangkan pemikiran kritis dan justru memperkuat prasangka.

Dampaknya, kesempatan bagi peserta didik untuk berpartisipasi dalam penyelidikan dan investigasi terbuka sering kali kurang dalam pendidikan. Peserta didik jarang diberi kesempatan untuk menyelidiki masalah secara mendalam atau mengikuti minat mereka sendiri. Karena kurangnya penyelidikan ini, peserta didik cenderung tidak memiliki rasa ingin tahu dan kreativitas yang diperlukan untuk berpikir kritis.

Mendorong untuk berpikir kritis

Dalam makalah berjudul Encouraging critical thinking: But… what does that mean?, Hemming (2000) mendefinisikan berpikir kritis sebagai ”kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menyintesis informasi untuk membuat penilaian dan keputusan yang beralasan”. Berpikir kritis tidak hanya melibatkan keterampilan kognitif, tetapi juga sikap dan nilai-nilai seperti rasa ingin tahu, keterbukaan pikiran, dan kerendahan hati intelektual.

Baca juga Inovasi Beragama

Dalam dunia pendidikan sekarang ini, berpikir kritis adalah alat yang sangat berharga bagi peserta didik untuk berkembang. Dengan diajarkan keterampilan berpikir kritis, peserta didik diberdayakan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan membuat keputusan yang tepat tentang dunia di sekitar mereka. Dari ruang kelas hingga ruang diskusi, berpikir kritis adalah aset berharga yang dapat membawa kesuksesan dalam kegiatan akademis dan profesional.

Dari pengalaman saya, salah satu metode yang paling populer mengajarkan pemikiran kritis adalah metode Socrates. Metode Socrates adalah cara bertanya yang mendorong peserta didik untuk berpikir secara mendalam dan kritis tentang topik tertentu. Daripada hanya memberikan jawaban atas pertanyaan kepada peserta didik, metode Socrates menantang peserta didik untuk menemukan jawaban mereka sendiri melalui proses tanya-jawab dan refleksi.

Sebagai contoh, dalam kelas sastra, seorang guru dapat meminta peserta didik untuk menganalisis bagian tertentu dari sebuah novel. Daripada hanya memberi tahu peserta didik apa arti dari bagian tersebut, guru dapat mengajukan pertanyaan seperti ”Apa yang ingin disampaikan oleh penulis dengan bagian ini?” atau ”Perangkat sastra apa yang digunakan penulis untuk menyampaikan pesannya?” Melalui proses pertanyaan dan refleksi ini, peserta didik didorong untuk berpikir kritis dan mengembangkan interpretasi mereka sendiri terhadap teks.

Baca juga Beda Idul Fitri Muhammadiyah dan NU Garis Lucu

Pendekatan lain dalam mengajarkan pemikiran kritis adalah pembelajaran berbasis masalah. Dalam pendekatan ini, peserta didik dihadapkan pada masalah dunia nyata dan ditugaskan untuk menemukan solusi. Dengan bekerja melalui proses pemecahan masalah, peserta didik ”dipaksa” untuk berpikir kritis dan mengevaluasi solusi potensial.

Pembelajaran berbasis masalah dapat menjadi sangat efektif dalam bidang-bidang tertentu seperti sosial humaniora, teknik, dan kedokteran. Bidang-bidang ini mengharuskan peserta didik untuk dapat menerapkan pengetahuan mereka untuk memecahkan masalah yang kompleks di masyarakat. Dengan memberikan masalah dunia nyata kepada peserta didik, pembelajaran berbasis masalah membantu menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik serta mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi tantangan yang akan mereka hadapi dalam karier mereka.

Sebagai contoh, di kelas ilmu sosial humaniora, peserta didik dilibatkan dalam menangani masalah tertentu yang berkaitan dengan kota atau komunitas. Misalnya, merancang rencana untuk merevitalisasi lingkungan yang bermasalah. Peserta didik mengumpulkan informasi, melakukan penelitian, dan mengevaluasi solusi potensial sambil berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan.

Baca juga Jihad Kesantunan Berbahasa Era Demokrasi

Contoh lain, di kelas teknik, peserta didik mungkin ditugaskan untuk merancang jembatan yang dapat menahan beban tertentu. Peserta didik harus berpikir kritis tentang bahan yang mereka gunakan, desain jembatan, dan dampak potensial dari faktor eksternal seperti cuaca atau gempa bumi. Dengan bekerja melalui masalah, peserta didik mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang dapat diterapkan pada berbagai situasi dunia nyata.

Mengembangkan keterampilan berpikir kritis pada peserta didik memiliki banyak manfaat. Salah satunya, hal ini dapat membantu peserta didik menjadi pembelajar yang lebih reflektif dan mandiri. Dengan mempelajari cara berpikir kritis, peserta didik akan lebih siap untuk mengevaluasi informasi dan membuat keputusan yang tepat tentang pembelajaran mereka sendiri.

Selain itu, berpikir kritis dapat meningkatkan keingintahuan dan kreativitas intelektual. Dengan mendorong peserta didik untuk mempertanyakan dan menantang asumsi, berpikir kritis dapat menghasilkan wawasan dan penemuan baru.

Baca juga Kekerasan Pemuda, Cermin Asuhan Keluarga

Berpikir kritis juga dapat meningkatkan penalaran etis dan moral. Dengan mendorong peserta didik untuk mengevaluasi informasi dan argumen dari berbagai perspektif, berpikir kritis dapat membantu peserta didik mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang sudut pandang dan budaya yang berbeda. Hal ini dapat menghasilkan empati dan pemahaman yang lebih besar, serta rasa tanggung jawab etis yang lebih kuat.

Dalam pendidikan yang kita bangun, penting untuk mendorong peserta didik untuk mempertanyakan asumsi, mengevaluasi bukti, dan mempertimbangkan berbagai perspektif ketika menganalisis sebuah peristiwa atau fenomena tertentu. Oleh karena itu, penting bagi para pendidik untuk memprioritaskan pengembangan keterampilan berpikir kritis pada peserta didik mereka.

Saya menyarankan agar para pendidik terus memasukkan pemikiran kritis ke dalam pembelajaran mereka dan mendorong peserta didik untuk mengembangkan keterampilan ini sepanjang karier akademis mereka. Mau tidak mau, mengembangkan keterampilan berpikir kritis sangat diperlukan untuk sukses di dunia yang berubah dengan cepat, penuh lompatan, dan tidak terprediksi ini.

*Artikel ini terbit di Kompas.id, edisi Sabtu, 27 Mei 2023

Baca juga Ramadhan dan Kesalehan Negara

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta,...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs,...

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...