HomeOpiniKritik Batin

Kritik Batin

Oleh: Agustine Dwiputri
Dosen PTT di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Psikolog Klinis

Percakapan dengan diri sendiri dapat membantu menemukan solusi. Suara batin berperan penting dalam memproses pikiran dan perasaan kita. Namun, bagaimana jika suara batin itu terlalu keras mengkritik dan menyalahkan kita?

Anna K Schaffner (2020), ahli sejarah kebudayaan yang juga pelatih pengembangan pribadi, mengatakan bahwa kita semua tahu ada suara di kepala kita yang terus-menerus mengkritik, meremehkan, dan menilai kita. Suara ini memiliki banyak nama, di antaranya kritik batin, suara hati, penyabot atau superego. Dalam kerangka kerja Terapi Perilaku Kognitif, aktivitasnya diringkas sebagai pikiran negatif otomatis. Percakapan destruktifnya yang tanpa henti digambarkan sebagai self-talk negatif.

Dimitrios Tsatiris (2021), seorang psikiater, juga menyampaikan bahwa kritik batin telah diberi banyak label berbeda. Berbagai teori, mulai dari model psikoanalitik hingga ilmu saraf, menjelaskan asal-usulnya dan menyarankan strategi untuk meredamnya.

Baca juga Transformasi Masyarakat Digital

Lebih lanjut dijelaskan bahwa kritik batin yang disebut Sigmund Freud sebagai superego merupakan bagian dari kepribadian seseorang yang menentukan standar pribadi tentang benar dan salah. Pembentukannya dimulai pada masa kanak-kanak sering kali berasal dari tuntutan dan larangan orangtua yang terinternalisasi. Pada saat yang sama, kita menerima ekspektasi sosial dan norma etika yang lebih luas serta mulai membangkitkan cita-cita ego, yang kemudian cenderung gagal kita lakukan.

Superego bisa menjadi kekuatan yang kejam dalam mencela diri sendiri, yang secara keras menghukum dan menganiaya ego. Jika superego berlebihan, kita menghabiskan sebagian besar energi psikologis kita untuk peperangan batin dan hanya sedikit tersedia untuk diberikan kepada dunia luar. Kita mungkin jadi menganggap diri tidak layak dan hina, serta berharap dunia juga melihat kita seperti itu.

Penghalang kesuksesan

Arash Emamzadeh (2023), yang bekerja di bidang psikologi klinis dan neuropsikologi di Amerika Serikat, mengatakan bahwa kritik batin mengacu pada evaluasi negatif yang keras terhadap diri sendiri baik karena gagal memenuhi standar tertentu atau untuk mencegah kegagalan di masa depan dan kehilangan persetujuan. Ini sering dikaitkan dengan perasaan tidak kompeten, tidak berharga, rasa bersalah, malu, dan kurangnya welas asih pada diri.

Baca juga Inovasi Beragama

Orang yang sangat kritis terhadap diri sendiri cenderung membuat hidup mereka lebih stres sebagian karena cara mereka berinteraksi dengan lingkungan atau menafsirkan peristiwa. Misalnya, mereka mungkin salah mengartikan komentar netral sebagai kritik dan karenanya bereaksi secara agresif, memprovokasi permusuhan pada orang lain dan menciptakan lingkaran setan kemarahan serta perilaku merusak. Hal ini membuat mereka kewalahan yang mengakibatkan ketidakberdayaan dan depresi, terutama pada mereka yang kekurangan dukungan sosial.

Contoh kritik batin

Berikut beberapa contoh kritik batin yang diambil dari situs catalystofawesomeness.com yang diakses 5 April 2023.

”Saya benar-benar gagal. Seluruh identitas saya terikat pada satu kesalahan ini. Tak ada yang bisa saya pelajari dari hal ini yang akan membantu saya menjadi lebih baik?”

Baca juga Beda Idul Fitri Muhammadiyah dan NU Garis Lucu

”Lebih baik aman daripada mencoba sesuatu yang baru. Saya pasti akan gagal jika saya mencoba melakukan perubahan.”

”Tidak ada yang akan pernah mendengarkan saya. Tidak ada gunanya berbicara.”

Jika Anda sering melakukan kritik batin yang keras dan mengalami rasa bersalah, malu, kehilangan kepercayaan diri ketika gagal memenuhi harapan, Anda mungkin memerlukan bantuan profesional. Namun, kita juga dapat melatihnya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Mengelola kritik diri

Liz White (2023), seorang psikolog klinis di London, memberikan langkah sederhana untuk membantu mengelola kritik batin yang sangat keras. Bisa dimulai dengan menumbuhkan kesadaran akan pikiran yang masuk.

Baca juga Jihad Kesantunan Berbahasa Era Demokrasi

Langkah 1. Perhatikan saat kritik batin muncul

Pertimbangkan sejenak langit di atas Anda. Langit melihat semua jenis cuaca, mulai dari badai yang mengamuk hingga sinar matahari yang cemerlang dan segala sesuatu di antaranya. Kemampuan Anda untuk memperhatikan pikiran mirip dengan langit yang mengamati cuaca. Seperti cuaca, pikiran menghasilkan pikiran negatif yang merusak diri dan pikiran menyenangkan dan segala sesuatu di antaranya. Namun, Anda bisa menjadi seperti langit dan melihat pikiran Anda datang dan pergi.

Kesadaran akan kritik batin Anda dapat dimulai dengan memperlambatnya saat Anda mengkritik diri sendiri. Pertama, ambil napas dalam-dalam yang panjang dan perlahan. Kemudian alihkan perhatian ke pikiran Anda. Tanyakan kepada diri Anda, apakah saya sedang mengkritik diri sendiri, kritik batin apa yang muncul?

Lebih baik lagi, berikan nama yang spesifik untuk itu. Kita bisa menyebutnya hakim, penyabot, serigala atau label apa pun yang sesuai yang cenderung membuat kekacauan di kepala kita.

Baca juga Kekerasan Pemuda, Cermin Asuhan Keluarga

Saat mengamatinya dalam tindakan, kita mungkin ingin mengingatkan diri sendiri bahwa pikiran hanyalah kata-kata dan keyakinan kita bukan fakta. Itu tidak lebih dari kebisingan yang tidak membantu dari pikiran kita yang terus-menerus mengoceh. Kita bukanlah pikiran-pikiran itu, kita dapat meredakan diri darinya.

Langkah 2. Kenali kritik batin Anda

Emosi yang berbeda memiliki pola pemikiran, perasaan dan keberadaan yang berbeda. Misalnya, pernahkah Anda memperhatikan bahwa ketika marah, Anda akan berpikir secara berbeda, secara emosional merasa berbeda dan memiliki sensasi fisik yang berbeda di tubuh dibandingkan ketika sedang mengalami kesedihan, kepuasan, atau kecemasan?

Pengkritik batin Anda adalah salah satu versi dari berbagai bagian diri Anda (bisa ada bagian lain seperti diri yang marah atau diri yang gelisah dan sebagainya). Mengenal bagian ini membantu untuk mendapatkan wawasan tentang berbagai aspek kepribadian Anda. Bersamaan dengan ini, satu hal penting yang perlu diingat adalah Anda tidak rusak atau hancur atau pantas mendapatkan retorika internal yang keras. Anda kompleks dan mengalami berbagai pola emosi dan keadaan pikiran-tubuh yang sulit untuk dipahami. Anda tidak merancang otak Anda dengan cara ini.

Baca juga Ramadhan dan Kesalehan Negara

Jadi ketika menyadari bahwa Anda mengkritik diri sendiri, tanyakan kepada diri sendiri.

Apa yang dikatakan kritikus batin kepada saya? Nada suaranya seperti apa? Apa emosi dalam suara itu? Kritikus batin cenderung keras, dingin, tidak setuju, frustrasi, marah dan menghina. Apa yang diinginkannya? Apakah penting untuk melakukan sesuatu yang spesifik? Misalnya, untuk melindungi Anda dengan cara tertentu, atau untuk mencegah Anda melakukan sesuatu, atau untuk mendorong Anda agar tidak gagal?

Langkah 3. Hentikan spiral

Kritik batin biasanya berputar terus sampai Anda berada dalam lubang kenegatifan dan keputusasaan. Namun, jika telah mengikuti langkah sebelumnya, Anda sudah setengah jalan untuk menghentikan spiral itu. Langkah ekstra di sini adalah membawa pemahaman welas asih untuk diri sendiri.

Baca juga Kekerasan Budaya

Apa yang akan saya katakan kepada rekan kerja, pasangan atau anak dalam situasi ini? Lalu bisakah saya mengatakan ini pada diri saya sendiri sekarang?

Bagaimana saya akan mengatakannya? Nada suara apa yang akan saya gunakan?

Bagaimana kalau saya melakukan sesuatu yang akan membantu saya dalam situasi ini?

Langkah-langkah di atas dapat membantu mengurangi dominasi kritik batin Anda, namun perlu latihan yang konsisten. Menumbuhkan lebih banyak sikap welas asih, suportif, menyemangati dan hangat terhadap diri sendiri akan membantu mengelola kritik batin di saat-saat sulit. Jika sulit pada awalnya, ikuti langkah ketiga, yang akan memungkinkan Anda memasuki tataran welas asih yang diarahkan ke diri sendiri.

*Artikel ini terbit di Kompas.id edisi Sabtu, 20 Mei 2023

Baca juga Manusia Digital dan Ke(tidak)bebasan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta,...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs,...

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...