HomeOpiniKekerasan Pemuda, Cermin Asuhan...

Kekerasan Pemuda, Cermin Asuhan Keluarga

Oleh: Syaifudin
Dosen Sosiologi FIS UNJ

Publik saat ini sedang membahas perilaku kekerasan anak pejabat pajak di Jakarta. Dalam video yang tersebar, pemuda itu menghajar korban yang sudah terkapar tidak berdaya.

Tindak kekerasan ini lalu menyeret orangtuanya beserta kekayaannya yang fantastis. Pejabat pajak itu dicopot jabatannya dan kini menjalani pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi atas dugaan ketidakwajaran kekayaan.

Inilah suatu realitas sosial bahwa kekerasan melekat pada kehidupan pemuda dengan berbagai motifnya. Hal ini senada dengan hasil penelitian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2020. Bahwa setiap tahun terjadi 200.000 pembunuhan anak muda usia 12-29 tahun. Ada 84 persen kasus melibatkan laki-laki usia muda atau remaja laki-laki. WHO menyatakan kekerasan pada anak muda menjadi isu kesehatan global yang harus mendapat perhatian serius.

Baca juga Ramadhan dan Kesalehan Negara

Menurut WHO, bentuk kekerasan di kalangan pemuda lebih sering terjadi di perkotaan dalam bentuk kekerasan fisik, perundungan, kekerasan seksual, hingga pembunuhan.

Friedmann (1971) dalam buku Youth and Society menjelaskan bahwa perilaku anak muda dalam sistem keluarga yang kacau atau disfungsi cenderung terpengaruh. Ia akan didominasi perasaan tidak aman, tidak terlindungi, dan kurang perhatian serta kasih sayang. Hal ini mendorong kerentanan mental dalam pergaulan, termasuk cara ia berinteraksi sosial.

Kondisi kerentanan mental ini memicu anak muda mengalami krisis identitas sehingga tidak dapat membedakan apakah perilaku sosialnya bertentangan dengan nilai dan norma yang ada atau malah masuk ranah kriminal.

Baca juga Kekerasan Budaya

Semua itu berkaitan dengan pola asuh orangtua dan kondisi masyarakat digital saat ini. Apalagi pada masyarakat perkotaan, orang tua disibukkan dengan rutinitas pekerjaan dan aktivitas sosial sehingga kurang perhatian, peran, dan fungsi pada anak. Tentunya ada juga orang tua sibuk, tetapi peran dan fungsinya terhadap anak tetap berjalan baik. Hal ini tergantung bagaimana orang tua menempatkan diri pada anak.

Pola asuh jadi cermin

Pola asuh orang tua dapat dimaknai sebagai sikap dan perilaku orang tua dalam kontak sosial dengan anak saat pengasuhan untuk membentuk perilaku anak sesuai nilai dan norma. Pola asuh keluarga ini, khususnya di perkotaan, setidaknya ada empat.

Baca juga Manusia Digital dan Ke(tidak)bebasan

Pertama, pola pengasuhan otoriter (authoritarian parenting). Pada pola ini, umumnya orang tua membatasi, mendesak anak mengikuti arahan mereka, dan memberikan hukuman jika melanggar.

Kedua, pola pengasuhan demokratis (authoritative parenting). Pada pola ini, umumnya orang tua membangun komunikasi yang baik dengan anak.

Selain itu, orang tua turut melibatkan diri dan berdiskusi tentang masalah yang dialami anak dan mengajarkan anak kemandirian dengan tanggung jawab dan kasih sayang.

Baca juga Pendidikan Tanggung Jawab Bersama

Ketiga, pola pengasuhan yang membiarkan (permissive indulgent). Pada pola ini, umumnya orang tua sangat memanjakan anak dan sedikit mengendalikan mereka. Pola ini membiarkan anak melakukan apa saja sehingga anak tidak pernah belajar mengendalikan perilaku.

Keempat, pola asuh mengabaikan (permissive indifferent). Pada pola ini, umumnya orang tua tidak terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka. Orang tua tipe ini tidak memiliki banyak waktu untuk bersama anak-anak mereka sehingga anak tidak terbangun kecakapan sosialnya.

Baca juga Ruang Merawat Diri

Perilaku pelaku mencerminkan pola asuh yang membiarkan (permissive indulgent), membuat pelaku terbiasa flexing dan bertindak arogan di luar kontrol dirinya.

Rumah sebagai pendidik utama

Pelaku generasi Z ini biasanya sulit menghadapi tekanan sosial, insubordinat, manja, sombong, dan arogan. Tidak heran jika pelaku sering flexing kendaraan dan gaya hidup mewah.

Fenomena ini juga terjadi pada generasi alfa sehingga dapat menjadi imitasi sosial yang tidak baik bagi individu-individu lain. Apalagi, mereka identik dengan fear of missing out (FOMO). Artinya, mereka merasa dirinya kurang pergaulan, takut dicap tidak gaul oleh temannya, dan cemas jika belum mencoba tren yang sedang viral di internet.

Baca juga Internalisasi Kerukunan di Tengah Keragaman

Becermin dari beberapa kasus yang terjadi terkait dinamika sosial pada generasi Z dan alfa, maka penting mengembalikan peran rumah sebagai sekolah utama anak menginternalisasi nilai dan norma yang baik.

Harus diakui, gagalnya pendidikan anak terutama karena hilangnya peran rumah dalam pendidikan anak. Maka, persepsi bahwa pendidikan anak hanya di sekolah dan orang tua menyimpan harapan besar terhadap sekolah harus dihapuskan.

Justru rumah menjadi sekolah pertama dan tempat bernaung bagi anak. Melalui rumah, orangtua memainkan peran di tengah kesibukan pekerjaan dan aktivitas sosial. Jika peran orangtua berfungsi dengan baik, anak juga akan berkembang dengan baik pribadi dan perilakunya.

Baca juga Mencari Celah Kebaikan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...