HomeOpiniInovasi Beragama

Inovasi Beragama

Oleh: Aji Sofanudin
Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan, Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Presiden Joko Widodo belum lama ini membentuk Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui Peraturan Presiden No 12 Tahun 2023 tentang Kementerian Agama.

Sebelumnya, di beberapa kampus UIN dan IAIN juga telah dibentuk rumah moderasi. Publik pun menjadi bertanya, lembaga ini untuk apa? Apa perbedaan badan moderasi dengan rumah moderasi?

Di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) juga terdapat deputi bidang moderasi beragama. Di Kementerian Agama, hampir semua program mengusung tema moderasi beragama.

Baca juga Beda Idul Fitri Muhammadiyah dan NU Garis Lucu

Ada program masjid pelopor moderasi beragama, kemah moderasi, penyuluh agama moderat, dan tafsir Al Quran tematik moderasi beragama. Bahkan computer assisted test (CAT) pendaftaran aparatur sipil negara (ASN) pun harus memenuhi indeks moderasi beragama. Ada kesan, ”apa pun makanannya, minumannya moderasi beragama”.

Moderasi vs inovasi beragama

Mafhum bahwa moderasi berasal dari bahasa Latin, moderatio, yang berarti ’ke-sedang-an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan)’. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan moderasi sebagai ’pengurangan kekerasan, penghindaran keekstreman’.

Dengan demikian, jika moderasi digabung dengan beragama menjadi moderasi beragama, yang berarti sikap menghindari keekstreman dalam praktik beragama.

Baca juga Jihad Kesantunan Berbahasa Era Demokrasi

Moderasi beragama dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan pada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan (inklusif).

Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama. Moderasi beragama penting sebagai strategi kebudayaan dalam merawat keindonesiaan.

Sebagai bangsa yang sangat heterogen, sejak awal para pendiri bangsa sudah berhasil mewariskan satu bentuk kesepakatan dalam berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang nyata berhasil menyatukan semua kelompok agama, etnis, bahasa, dan budaya.

Baca juga Kekerasan Pemuda, Cermin Asuhan Keluarga

Meskipun moderasi beragama memiliki nilai-nilai positif, hal itu tidak cukup efektif untuk memajukan bangsa. Moderasi adalah sesuatu yang sudah lama dipraktikkan masyarakat Indonesia. Moderasi efektif untuk menciptakan persatuan bangsa, tetapi tidak cukup efektif untuk memajukan bangsa. Indonesia sudah 77 tahun lebih merdeka, tetapi belum menunjukkan sebagai negara yang maju.

Narasi moderasi beragama perlu beranjak dan naik level menjadi inovasi beragama. Inovasi beragama merupakan upaya kreatif dalam memadukan nilai-nilai agama dengan perkembangan zaman dan tuntutan sosial yang berkembang.

Inovasi beragama bertujuan untuk menjawab tantangan-tantangan baru dalam kehidupan masyarakat, baik yang terkait dengan perkembangan teknologi, kebudayaan, sosial, maupun ekonomi. Inovasi beragama dilakukan dengan mengembangkan cara-cara baru dalam beribadah (ibadah ghoiru mahdzoh) dan spirit agama untuk mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Baca juga Ramadhan dan Kesalehan Negara

Sayang, dalam internal ajaran agama sendiri masih ada pemahaman agama yang justru menghambat inovasi.

Dalam kitab Arbain Nawawi, sebuah kitab kuning yang sangat luas diajarkan di berbagai madrasah dan pesantren, terdapat hadis yang sering dipahami sebagai ajaran yang melarang berinovasi. ”Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan agama, maka hal itu ditolak”.

Hadis kelima dari Arbain Nawawi ini sering dianggap sebagai hadis yang melarang untuk bersikap kreatif, menciptakan sesuatu yang baru, ataupun berinovasi. Padahal, konteks hadis tersebut adalah ”menciptakan sesuatu yang baru” dalam konteks mengadakan/membuat ritual baru dalam beragama.

Mendorong inovasi beragama

Ibadah dalam Islam dibagi dua: ibadah mahdzoh dan ibadah ghoiru mahdhoh. Ibadah mahdzoh adalah ibadah yang tata cara, cara-cara, dan upacaranya telah ditentukan Allah SWT. Karena itu, tak diperlukan inovasi, seperti shalat lima waktu, puasa, zakat, dan haji.

Baca juga Kekerasan Budaya

Sayang, hadis ”larangan inovasi” ini dipahami sebagai larangan berinovasi kepada seluruh aspek beragama sehingga berimplikasi pada paham keagamaan yang ”satu warna” atau ”Islam ori”. Ekspresi Islam hanya monolitik, katakanlah Islam versi Arab, yakni Islam yang sesuai dengan tradisi masyarakat Arab. Tidak salah, tetapi menjadi kurang tepat dalam konteks pembangunan masyarakat Indonesia.

Justru yang perlu didorong sesungguhnya adalah inovasi beragama. Inovasi beragama sejatinya sudah dipraktikkan pada sebagian kecil dimensi, yakni dimensi ajaran dan ”tambahan” praktik ritual beragama.

Katakanlah, model seperti pemakaian sarung, tahlilan, haul, berbagai upacara keagamaan dalam shalat (shalat Jumat, Tarawih, dan lain-lain), tradisi keagamaan menyambut puasa, Lebaran, dan ”tambahan” praktik keagamaan lainnya. Secara faktual hal ini sudah dipraktikkan lama di Indonesia dan dipelopori Nahdlatul Ulama.

Baca juga Manusia Digital dan Ke(tidak)bebasan

Inovasi keagamaan lain di bidang pendidikan dan kesehatan, misalnya, dipelopori oleh Muhammadiyah. Muhammadiyah menerapkan inovasi ”HIS met de Quran”, sekolah Belanda yang disisipi pendidikan Al Quran, kini hampir semua diikuti oleh ormas keagamaan lain, bahkan oleh sekolah milik pemerintah: SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi.

Masuknya pendidikan agama dalam setiap jalur, jenis, dan jenjang pendidikan merupakan ”amal jariah” Muhammadiyah. Demikian juga di bidang kesehatan yang bermula dari Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang semangatnya adalah menolong menyediakan kesehatan bagi kaum duafa.

Inovasi mestinya perlu meluas ke bidang ekonomi. Dalam skala mikro, pemerintah perlu hadir terhadap berbagai bentuk, misalnya olahan makanan yang dibuat oleh masyarakat.

Baca juga Pendidikan Tanggung Jawab Bersama

Pada bulan Ramadhan, kebutuhan akan kurma meningkat. Mestinya pemerintah mendorong, misalnya, inovasi torakur (tomat rasa kurma) yang sudah muncul di Semarang, Jawa Tengah. Rasanya sama persis dengan kurma, yang berbahan dasar tomat. Hal ini, misalnya, untuk mengurangi ketergantungan pada impor kurma dari Tunisia.

Pemerintah perlu mendorong diversifikasi olahan buah- buahan yang melimpah di Indonesia. Pisang, pepaya, mangga, rambutan, merupakan beberapa contoh buah yang belum dioptimalkan. Dari sisi jenis, sangat banyak sekali variasinya.

Pemerintah perlu membuat ekosistem yang mendukung ekosistem inovasi di Tanah Air. BRIN perlu menjadi lead dan memiliki peran penting untuk menciptakan ini. Periset BRIN perlu didorong untuk melakukan hal-hal seperti ini, tidak hanya fokus pada tuntutan publikasi global.

Baca juga Ruang Merawat Diri

Sejatinya, Indonesia memiliki sejarah melakukan inovasi fundamental. Selain menciptakan pesawat N-250 Gatot Kaca era BJ Habibie, Indonesia sebelumnya berhasil membuat inovasi sosial yang luar biasa, yakni Pancasila di era Bung Karno. Pancasila sudah final dan tidak perlu dibenturkan dengan agama, misalnya dengan membuat narasi bahwa ”agama adalah musuh Pancasila”.

Umat perlu didorong menjadi masyarakat yang mandiri sehingga dapat menjalankan agamanya secara paripurna. Dalam konteks Islam, umat perlu didorong bisa menjalankan semua rukun Islam, selain shalat dan puasa, juga perlu didorong supaya berzakat dan haji. Bagaimana bisa zakat dan haji kalau umat Islam miskin?

Oleh karena itu, umat perlu didorong untuk menjadi cerdas (intelektual), kaya (berharta), dan berkuasa (memiliki kemerdekaan). Kemampuan adab dan ilmu yang tinggi, penguasaan ekonomi yang kokoh, serta kemampuan politik yang canggih merupakan kebutuhan untuk kemajuan bangsa dan negara. Bisa dimulai dengan inovasi beragama. Wallahualam.

*Artikel ini dikutip dari Kompas.id, edisi Kamis 11 Mei 2023

Baca juga Internalisasi Kerukunan di Tengah Keragaman

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...