HomeOpiniTransformasi Masyarakat Digital

Transformasi Masyarakat Digital

Oleh: Meuthia Ganie-Rochman
Sosiolog Organisasi, Universitas Indonesia

Digitalisasi sudah menjadi bagian hidup masyarakat di seluruh dunia. Koneksi telepon seluler melebihi jumlah penduduk dunia yang 8 miliar jiwa. Pengguna internet lebih dari 5 miliar dan pengguna media sosial hampir 5 miliar.

Di Indonesia, pola yang sama terjadi, yaitu terdapat sekitar 354 juta telepon seluler dan 213 pengguna internet dan 167 juta pengguna media sosial dari jumlah penduduk berkisar 275 juta jiwa (WeAreSocial, 2023).

Teknologi digital dan dalam bentuk lanjutannya, kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI), mempunyai banyak sekali dampak positif, seperti pengelolaan lebih baik dan luas, pertukaran gagasan luas yang menghasilkan lebih banyak inovasi, memfasilitasi kerja sama, prediksi dan penentuan target yang lebih tepat, dan banyak lagi.

Baca juga Inovasi Beragama

Seperti teknologi mana pun, selalu ada sisi positif dan negatif dampaknya. Di Indonesia, arus dominan, terutama pemerintah, masih memandang teknologi digital dari segi positifnya.

Pandangan yang menyuarakan kekhawatiran atas dampak digital sering dikecilkan sebagai ”kelompok orang yang selalu ada di setiap era teknologi yang selalu khawatir atas dampak negatif suatu perubahan besar teknologi”. Bahkan, mereka dilecehkan sebagai kelompok yang ”takut pada kemajuan”.

Penilaian baik buruknya dampak teknologi tergantung dari beberapa kondisi yang ada pada era tersebut dan ini yang akan berdampak ke depan. Poin dasarnya adalah kemampuan semua institusi dan organisasi yang ada untuk melakukan penyesuaian.

Baca juga Beda Idul Fitri Muhammadiyah dan NU Garis Lucu

Tiga sihir

Sebelum membahas kapasitas untuk mengarahkan teknologi, kita bahas dulu beberapa macam gagasan yang menyihir dari teknologi digital/plus AI.

Sihir pertama adalah pandangan bahwa digitalisasi dan AI akan mengefisienkan proses dan selanjutnya menghasilkan pekerjaan-pekerjaan baru. Orang-orang yang berpandangan demikian biasanya melanjutkan dengan usulan agar pemerintah bersama dunia usaha mengembangkan skema-skema baru pelatihan tenaga kerja.

Pelatihan ini dimaksudkan untuk perluasan akses penggunaan teknologi digital. Namun, yang berpandangan demikian lupa bahwa teknologi digital plus AI mempunyai karakter yang sangat berbeda dengan revolusi teknologi lainnya.

Baca juga Jihad Kesantunan Berbahasa Era Demokrasi

Perbedaan pertama adalah bahwa teknologi ini lebih dikembangkan untuk mengefisienkan proses dan mengonsolidasi perusahaan. Teknologi digital bukan dimaksudkan untuk mendampingi kapasitas manusia untuk naik ke karya yang lebih tinggi, melainkan menggantikan apa yang dilakukan manusia.

Artinya, perusahaan-perusahaan akan tidak mau ketinggalan menggunakan teknologi ini sesuai dengan logika dasarnya. Itulah sebabnya, secara konsisten terjadi penurunan penyerapan tenaga kerja di perusahaan. Misalnya, di Amerika Serikat, dari tahun 1970 hingga sekarang, digitalisasi menyebabkan penurunan pekerja dengan keahlian menengah sebesar 15 persen.

Untuk perkembangan terakhir AI, sekitar 300 juta pekerjaan di Eropa dan AS akan bisa diotomatisasikan dengan teknologi chatbot (Diane Coyle, Project Syndicate, 10/4/2023).

Baca juga Kekerasan Pemuda, Cermin Asuhan Keluarga

Jadi, perkembangan digitalisasi plus AI justru tidak mendorong munculnya bidang-bidang pekerjaan baru dengan penyerapan kerja baru yang luas.

Ramifikasi yang ada adalah pemanfaatan teknologi digital plus AI yang tidak membutuhkan banyak tenaga kerja. Ini artinya menghancurkan basis ekonomi dan daya beli dalam jangka panjang.

Perbedaan lain adalah pengembangan teknologi AI bisa dilakukan dalam ruang yang tertutup tanpa infrastruktur fisik yang luas dan mudah terlihat. Pihak mana pun yang mempunyai sumber daya sangat besar—yang bisa saja kekayaannya berasal dari sumber/cara ilegal—membeli sejumlah ahli terbaik di dunia untuk mengembangkan sistem AI-nya sendiri.

Baca juga Ramadhan dan Kesalehan Negara

Perusahaan-perusahaan besar yang resmi, seperti Microsoft dan Google, bisa melontarkan ke ”pasar” begitu saja karena belum ada norma dan aturan untuk harus melalui seleksi prosedur tertentu untuk melontarkan produksinya.

Padahal, kontrol dalam sistem produksi selalu diperlukan untuk mengenali risiko terjadinya dampak buruk.

Persoalan mendasar yang harus dipikirkan adalah bagaimana teknologi ini berisiko menghasilkan ketimpangan dengan struktur sosial ekonomi baru?

Baca juga Kekerasan Budaya

Perluasan akses digitalisasi tidak begitu saja menyelesaikan masalah, seperti yang sering digagas pemerintah. Persaingan yang tidak sepadan (the winners take all) karena perusahaan bermodal besar akan menggunakan AI untuk menguasai pasar, atau perluasan tenaga prekariat tanpa masa depan pasti sudah sering diangkat.

Selain itu, akan muncul bentuk-bentuk struktur ketimpangan baru. Mari kita bayangkan sebuah contoh jika universitas dan lembaga pendidikan tinggi lainnya memperbolehkan penggunaan chatboat oleh para mahasiswa dan periset dalam suatu kerangka prosedur baru, misalnya untuk mencapai analisis yang jauh lebih bermutu. Prosedur baru ini hanya dapat dipenuhi universitas-universitas yang memiliki sumber daya besar, sementara yang lainnya akan masuk dalam kategori ”recehan”.

Sihir kedua adalah terjadi demokratisasi baru karena penggunaan media sosial yang luas. Juga ada harapan untuk terjadi akuntabilitas lebih besar dengan pengembangan e-government. Namun, penggunaan teknologi ini belum menunjukkan suatu arah baru demokratisasi dan akuntabilitas yang inklusif.

Baca juga Manusia Digital dan Ke(tidak)bebasan

Media sosial hanya menghasilkan informasi dan kemudian tanggapan yang reaksioner, sering emosional, tidak membutuhkan komitmen yang mendalam, dan jauh dari deliberasi. Akibatnya, pemerintah pun cenderung bersikap reaksioner.

Sementara, persoalan terkait e-government adalah hampir tidak adanya partisipasi masyarakat dalam konstruksi normatif di dalam aspek pembuatan sistem. Tambahan pula, penarikan data melalui e-government belum disertai dengan mekanisme solid mengarah pada perbaikan birokrasi.

Sihir ketiga adalah anggapan bahwa individu semakin mudah mendapatkan informasi untuk membuat keputusan-keputusan. Itu benar, tetapi terjadi keterlibatan yang berlebihan pada pencarian melalui digital dan melupakan keterlibatan dan pengembangan komitmen di dunia nyata.

Baca juga Pendidikan Tanggung Jawab Bersama

Data dari WeAreSosial menunjukkan, rata-rata orang Indonesia menggunakan media sosial lebih dari tiga jam sehari. Media sosial digunakan untuk antara lain mengisi waktu luang (58 persen) dan mengetahui apa yang sedang ramai dibicarakan (51 persen).

Bisa dibayangkan waktu yang hilang untuk melakukan interaksi berkualitas, memikirkan peningkatan kapasitas diri dan lingkungan, serta mengikuti kegiatan sebagai bagian dari warga negara yang baik.

Sekarang ini, baik anggota masyarakat maupun para elite sosial dan politik hanya menyukai informasi-informasi praktis dan singkat tentang isu-isu dalam masyarakat. Bisa dibayangkan pikiran apa yang bisa dihasilkan dari model mendapat ”pengetahuan” seperti itu.

Baca juga Ruang Merawat Diri

Retransformasi

Bagaimana mengatasi persoalan-persoalan di atas sebagai suatu bangsa yang tidak ingin tenggelam?

Pertama-tama, harus diangkat visi dan gagasan tentang kompetensi hidup dalam era digital. Bukankah belakangan ini konsep ini seakan tenggelam dalam berbagai persoalan tata kelola negara dan polarisasi sosial melalui media sosial?

Bangsa ini harus merumuskan kembali kecakapan individu, organisasi, dan institusional macam apa yang dibutuhkan negara ini. Sering kali kompetensi harus dikaitkan dalam tiga level itu.

Baca juga Internalisasi Kerukunan di Tengah Keragaman

Jika kita bicara tentang seorang pemimpin publik, ia harus juga kompeten dalam memperbaiki lembaga-lembaga yang ada.

Para pemimpin politik dan pembuat kebijakan setidaknya merasa sangat concern dengan tiga sihir digital di atas. Tindakan yang diambil harus melibatkan pihak yang kompeten.

Dalam suatu terbitan Forum Ekonomi Dunia yang membuat 20 kutipan para ahli tentang harapan dunia pascapandemi, ada satu yang menarik perhatian. Memimpikan kepemimpinan yang dapat bekerja sama dengan ilmu pengetahuan. Ini penting mengingat keadaan dunia yang banyak mengalami perubahan membutuhkan model-model pengelolaan baru.

Baca juga Mencari Celah Kebaikan

Kedua, dalam mengembangkan e-government, pemerintah harus memasukkan elemen kesejahteraan inklusif. Artinya, pengembangan sistem tidak hanya melibatkan ahli digital dan sistem data yang tidak memahami aspek sosial kesejahteraan dan transformasi sosial.

Pemerintah juga harus mendorong berbagai bentuk integrasi sistem. Bukan hanya antarlembaga pemerintah, yang seharusnya memang sudah lama terus diupayakan.

Pemerintah harus mendorong kerja sama baru antarberbagai pelaku ekonomi, membuka ruang kewiraswastaan sosial, dan inisiatif organisasi sosial untuk mengembangkan ketahanan sosial ekonomi.

Baca juga Melawan Rasa Takut

Di tingkat lembaga nonpemerintah, kompetensi baru adalah memperkuat jaringan kerja sama antarorganisasi. Lembaga pendidikan mengembangkan program-program dalam dan luar kurikulum dalam kerangka program/proyek pemecahan masalah sosial.

Dengan cara ini, organisasi masyarakat membuat anak muda kembali ke dunia nyata, dunia yang membutuhkan bangunan moral kontekstual dan tindakan kolektif.Penulis pernah mengusulkan gagasan pengembangan big data sebagai alat membangun kesadaran kolektif dan akuntabilitas pejabat publik. Teknologi sungguh tergantung dari cara kita mengendalikan kekuatan yang memanfaatkannya.

*Artikel ini telah terbit di Kompas.id, edisi Selasa, 16 Mei 2023

Baca juga Membangun Budaya Damai Melalui Umpan Balik

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...