HomeBeritaSiswi SMAN 1 Tawangsari...

Siswi SMAN 1 Tawangsari Sukoharjo: Perdamaian Dimulai dari Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- “Bahwa hal-hal yang namanya perdamaian itu tidak bisa diciptakan secara langsung, melainkan harus dimulai dari diri kita sendiri.”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh siswi SMAN 1 Tawangsari Sukoharjo usai mengikuti kegiatan “Diskusi Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Tawangsari Sukoharjo beberapa waktu silam. Dalam kegiatan ini AIDA menghadirkan kisah para korban pengeboman serta mantan pelaku terorisme yang telah bertobat untuk membagikan lika-lika kisah hidup masing-masing.

Baca juga Siswa SMAN 1 Sukoharjo: Terorisme Mengancam Kita Semua

Para penyintas terorisme berhasil bangkit dari keterpurukan pascamusibah yang menimpa mereka dan berdamai dengan kenyataan. Sementara mantan pelaku terorisme mengisahkan awal keterlibatannya dalam jaringan kekerasan, melakukan aksi-aksi ekstrem atas nama perjuangan agama, hingga kemudian bertobat, dan menjalani kehidupan secara normal. Kedua pihak kini bahu-membahu mengampanyekan perdamaian dan semangat ketangguhan kepada khalayak luas demi kemaslahatan bersama.

Salah satu peserta mengaku baru tahu bahwa Indonesia pernah diguncang serangan-serangan bom yang sangat sadis. Pasalnya saat kejadian-kejadian terorisme, seperti Bom Bali 2002, Bom Marriott 2003, dan Bom Kuningan 2004, ia masih belum lahir.

Baca juga Siswa SMAN 1 Bulu Sukoharjo Belajar dari Korban dan Mantan Ekstremis

“Sebagai generasi muda yang tidak mengetahui peristiwa sebelum kita lahir, kita menjadi tahu dan menjadi sadar untuk menjauhi kegiatan yang menuju terorisme dan radikalisme, sehingga kita bisa menjadi generasi yang cinta damai,” ujarnya.

Dalam hematnya, terorisme adalah aktivitas yang sangat merugikan karena dampaknya bukan hanya sehari atau dua hari tapi seumur hidup, bahkan telah mengakibatkan hilangnya nyawa orang-orang tak bersalah. “Jadi terorisme ini adalah hal yang tidak boleh terjadi lagi di Indonesia,” katanya tegas.

Baca juga Pelajar SMAN 1 Bulu Belajar Ketangguhan dari Penyintas

Lebih lanjut ia mengaku bersimpati kepada korban terorisme dan keluarganya, serta mengagumi kebesaran hati mereka yang bisa memaafkan para pelaku. “Kita harus memaafkan dan mau bertobat atas apa yang telah kita lakukan, terutama seperti kasus-kasus terorisme yang ada di Indonesia,” tuturnya mengambil pembelajaran.

Salah satu peserta lain merasa memikul tanggung jawab untuk menyebarkan perdamaian di lingkungan terdekatnya dan menolak segala bentuk kekerasan maupun radikalisme. “Acara ini sangat penting, dapat memberikan pemahaman kepada siswa-siswi di sekolah, karena bisa saja paham-paham ini masuk ke kalangan pelajar,” katanya memungkasi. [VLD-MSY]

Baca juga Kepala SMAN 1 Bulu Sukoharjo: Berhati-Hatilah Belajar Agama

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan...

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...