HomeOpiniNarasi Sebuah Bangsa Hebat

Narasi Sebuah Bangsa Hebat

Oleh: Imam Mujahidin Fahmidi,
Guru Besar Universitas Hasanuddin

Kita butuh narasi yang dapat menjadi sumber inspirasi dunia. Sudah lama bangsa Indonesia yang hebat ini kehilangan narasi.

Dalam sejarah manusia, narasi telah menjadi roh bagi kebangkitan peradaban. Ia bukan sekadar cerita—ia adalah fondasi dari tindakan kolektif, alasan keberadaan, dan peta menuju masa depan.

Kita, Indonesia, kaya akan warisan budaya, mitologi, dan tradisi. Namun, kemiskinan narasi besar yang mengakar di level geopolitik dan peradaban membuat kita berjalan tanpa arah yang jelas.

Baca juga Di Balik Ambruknya Rezim Al-Assad di Suriah

Negara lain, seperti India, Israel, bahkan Palestina, telah membangun narasi besar yang tak hanya membentuk jati diri bangsa mereka, tetapi juga memengaruhi cara dunia memandang mereka.

Pertanyaan mendesak bagi kita adalah: mengapa Indonesia tidak melakukan hal serupa? Bagaimana narasi besar itu dapat mengangkat kita dari bayang-bayang kolonialisme menuju relevansi global?

Belajar dari narasi besar dunia

India, seperti Indonesia, adalah bangsa yang lahir dari peradaban kuno. Perbedaannya terletak pada cara mereka membingkai sejarah dan warisan.

Mereka tidak hanya berhenti pada kebanggaan internal tentang Mahabharata atau Ramayana. Mereka melampaui itu, menawarkan narasi kepada dunia bahwa India adalah gudang spiritualitas, pengetahuan matematika, dan sumber dari banyak agama.

Ketika angka nol diperkenalkan oleh matematikawan India, itu tidak hanya penemuan teknis; itu adalah peradaban yang berbicara kepada dunia tentang kemampuan manusia berpikir abstrak.

Baca juga Pendidikan sebagai Seni Pembudayaan

India juga menempatkan dirinya sebagai pusat spiritualitas global. Yoga, Ayurveda, dan filsafat Hindu-Buddha tak hanya jadi kebanggaan lokal, tetapi ekspor budaya yang mengukuhkan posisi India sebagai pusat moral dan etis dunia.

Bahkan, diaspora mereka, dari Sundar Pichai hingga Satya Nadella, membawa narasi itu ke ruang rapat perusahaan teknologi raksasa di Silicon Valley. Mereka tidak hanya orang India di luar negeri; mereka adalah personifikasi dari narasi besar India.

Contoh lain, lihatlah Israel, sebuah negara kecil di Timur Tengah yang lahir dari abu Holocaust. Dalam narasi mereka, Israel tidak hanya sebuah negara; ia adalah pemenuhan janji Ilahi. Narasi itu sederhana, tetapi kuat: ”Kami adalah bangsa yang dijanjikan.”

Baca juga Catatan Guru untuk Melajukan Pendidikan Indonesia

Dalam narasi ini, tanah yang mereka pijak adalah tanah yang telah mereka dambakan selama ribuan tahun. Ini tidak hanya cerita religius, tetapi narasi geopolitik yang sangat strategis. Narasi inilah yang memungkinkan Israel bertahan di tengah tekanan luar biasa dari negara-negara di sekitarnya.

Namun, narasi besar mereka tidak berhenti pada keagamaan semata. Israel juga memproyeksikan diri sebagai ”Startup Nation”, sebuah bangsa kecil dengan inovasi besar. Mereka menunjukkan bahwa, bahkan negara dengan sumber daya alam yang terbatas, dapat menjadi pusat teknologi dunia. Ini narasi keberanian dan kecerdikan yang membuat mereka relevan di dunia modern.

Sebaliknya, Palestina menawarkan narasi berbeda: narasi tentang penderitaan dan perjuangan. Mereka simbol dari ketidakadilan modern, sebuah bangsa yang kehilangan tanah airnya, tetapi tetap berdiri teguh melawan penindasan.

Baca juga Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Narasi ini memiliki daya tarik moral yang kuat, menggerakkan simpati dan solidaritas dari berbagai penjuru dunia. Meski narasi mereka sering kali dihadapkan pada narasi Israel, ia tetap menjadi dasar dari perjuangan mereka, sebuah alasan untuk tetap eksis meski dalam situasi yang hampir tak mungkin.

Indonesia, dengan segala kekayaan budayanya, seharusnya memiliki modal yang cukup untuk membangun narasi besar. Kita memiliki cerita yang jauh lebih panjang dan kompleks dari Mahabharata—kisah Sawerigading dan I Lagaligo dari tanah Bugis, kisah Ramayana yang diadaptasi dalam wayang kulit, hingga cerita tentang penciptaan dunia dalam mitologi Nusantara.

Namun, apa yang kita lakukan dengan semua itu? Kita membiarkannya menjadi artefak lokal, dipuja dalam museum, tetapi tidak pernah dijadikan narasi kolektif untuk dunia.

Baca juga ”Golden Period” Perang Israel-Iran

Narasi kita tentang ”negara besar”, ”negara hebat” juga sering kali kosong. Apa artinya menjadi negara besar dan hebat jika tidak ada alasan mendasar yang kita tawarkan kepada dunia?

Kita berbicara tentang kekayaan sumber daya alam, tetapi lupa bahwa narasi yang kuat bukan hanya tentang apa yang kita miliki, melainkan apa yang kita representasikan. Kita adalah bangsa dengan 17.000 pulau, 700 bahasa, dan keberagaman yang luar biasa.

Namun, di mana narasi yang mengangkat keberagaman itu menjadi pesan global? Di mana narasi yang mengubah pengalaman kita sebagai bekas jajahan menjadi inspirasi untuk pembebasan dan keadilan dunia?

Baca juga Memperhatikan Ruang Aktual Pendidikan

Narasi besar bukan sekadar cerita; ia adalah alat strategis. Lihatlah bagaimana Amerika Serikat membingkai dirinya sebagai ”Land of the Free” atau bagaimana China membangun narasi tentang ”Kebangkitan Kembali Bangsa Tionghoa”.

Narasi itu memberi mereka arah, alasan untuk bertindak, dan alat untuk memengaruhi dunia.

Indonesia membutuhkan narasi baru yang tidak hanya memuja masa lalu, tetapi juga membayangkan masa depan. Kita harus melampaui retorika ”kita adalah bangsa besar yang hebat” menuju narasi yang lebih substansial.

Mungkin narasi itu adalah tentang bagaimana Indonesia, dengan keberagaman dan kekayaan budayanya, menjadi laboratorium global untuk toleransi. Atau mungkin narasi itu adalah tentang bagaimana kita, sebagai negara maritim, jadi penjaga ekosistem samudra dunia.

Menulis ulang masa depan

Seperti yang diajarkan Bung Karno, narasi besar tidak hanya menjadi alasan untuk bangga, tetapi juga untuk bertindak. Narasi itulah yang seharusnya membebaskan kita dari keresahan kolonialisme dan memberikan kita pijakan di geopolitik.

Dunia tak akan menunggu kita menyelesaikan internalisasi tentang siapa kita. Dunia bergerak maju. Jika kita tak menawarkan narasi yang relevan, kita akan tertinggal sebagai pengamat sejarah.

Narasi itu harus dimulai dari hal sederhana: pendidikan. Generasi muda Indonesia harus diajarkan tentang mitologi kita tidak hanya sebagai cerita rakyat, tetapi juga sebagai landasan filosofi dan strategi. Mereka harus diajarkan bahwa Indonesia tidak hanya negara besar dan hebat, tetapi juga negara yang memiliki misi besar untuk dunia.

Baca juga Pemuda Bela Negara dan Indonesia Emas 2045

India mengajarkan kepada dunia tentang angka nol. Israel mengajarkan tentang keberanian dan inovasi. Palestina mengajarkan tentang perlawanan terhadap ketidakadilan.

Indonesia harus mengajarkan dunia tentang harmoni di tengah keberagaman, tentang bagaimana kita bisa menjadi jembatan antara Timur dan Barat, antara masa lalu dan masa depan.

Narasi besar bukan hanya soal sejarah atau mitologi; ia adalah alasan kita bertindak, alasan kita ada. Tanpa narasi itu, kita hanyalah kumpulan pulau yang terapung di lautan. Dengan narasi itu, kita adalah sebuah bangsa yang memiliki tujuan. Maka, mari kita mulai menulis narasi itu, tidak hanya untuk kita sendiri, tetapi juga untuk dunia.

Sebuah narasi yang membuktikan bahwa Indonesia adalah suara dari harmoni, keadilan, dan masa depan yang lebih baik. Sebuah narasi yang layak untuk dikenang dalam sejarah manusia.

*Artikel ini telah tayang di laman kompas.id edisi Senin 16 Desember 2024

Baca juga Hari Santri dan Pemimpin Baru Indonesia

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran....

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...