HomePilihan RedaksiPahlawan untuk Perdamaian

Pahlawan untuk Perdamaian

Indonesia selalu memeringati hari Pahlawan setiap tanggal 10 November. Diinspirasi oleh semangat melawan tentara sekutu di Surabaya pada November tahun 1945, dimana para pemuda, santri, kyai, tentara, perempuan, tua dan muda bahu membahu mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, kepahlawan mempunyai nilai yang sangat mulia dan strategis untuk pembangunan perdamaian di negeri kepulauan ini.

Pertama, kepahlawan mengandung nilai bawaan yakni perlunya persatuan untuk bisa merdeka dari penjajahan. Persatuan telah dirumuskan sebagai satu bahasa, bangsa dan tanah air Indonesia. Demikian halnya dalam mengisi kemerdekaan, merawat dan menjaga perdamaian, maka diperlukan persatuan dan kerjasama seluruh anak bangsa. Dengan damai, pemerintahan dapat berjalan baik, masyarakat bisa bekerja dan hidup tentram.

Kedua, para pahlawan dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka, merupakan teladan untuk kita dan generasi yang akan datang. Mereka memberikan contoh nyata tentang perjuangan dan pengorbanan bagi masyarakat, bangsa dan negara. Mereka layak diberikan kredit dan penghargaan oleh negara atas jasa-jasa mereka, yang sebenarnya mereka tidak bercita-cita untuk menjadi pahlawan. Mereka sejatinya merupakan pejuang perdamaian, termasuk orang tua dan guru-guru kita.

Baca juga Merdeka dari Aksi Kekerasan

Ketiga, pahlawan adalah inspirasi tentang perjuangan tanpa pamrih. Mereka menghabiskan waktunya untuk kebaikan umat dan bangsa. Ada pahlawan yang menghabiskan waktu mereka dengan menimba ilmu, mendirikan lembaga pendidikan seperti pondok pesantren. Ada juga sosok pahlawan yang menjadi pejuang demokrasi, pembela kaum minoritas dan pelopor perdamaian di masyarakat. Sehingga sangat mudah ditemukan pahlawan yang rela mengorbankan nyawa mereka untuk tanah air, demi keadilan dan hak-hak masyarakat. Mereka mengajarkan nilai bahwa perdamaian hanya bisa terjaga dalam kehidupan masyarakat yang cerdas, adil dan setara di antara umat manusia. 

Keempat, jiwa dan semangat kepahlawanan bisa lahir dari berbagai kisah perjuangan, pengorbanan dan penderitaan, termasuk dari para pegiat perdamaian, khususnya orang-orang yang melawan kekerasan dengan tanpa kekerasan. Para penyintas aksi terorisme dan mantan pelaku kekerasan ekstrem bisa kita kategorikan sebagai pahlawan karena semangat dan jiwa mereka dalam menyuarakan perdamaian, terbebasnya anak-anak bangsa dari segala bentuk kekerasan.

Dari korban kita bisa memetik nilai kepahlawanan, yakni kehendak untuk memaafkan sesama anak bangsa, tidak menyimpan dendam, dan berpikir untuk maju bersama-sama mantan pelaku yang pernah menghancurkan hidup mereka. Sementara dari mantan pelaku kekerasan, mereka membawa nilai tentang pentingnya anak bangsa mengoreksi dan memperbaiki segala bentuk pemahaman dan keyakinan yang salah serta menyimpang. Mereka berani mengambil risiko menuai hujatan, celaan dan ancaman fisik dari orang-orang yang masih berada dalam jalan kekerasan.

Indonesia memerlukan sosok-sosok pahlawan dari anak-anak bangsa di berbagai lini kehidupan, di seluruh pelosok tanah air dan dari berbagai lapisan soisal. Jadilah pahlawan untuk perdamaian.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...