Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya.
“Kalau pengalaman saya dan teman-teman itu bisa sembuh karena dukungan keluarga. Keluarga menjadi faktor paling penting dalam penyembuhan. Banyak juga teman-teman saya yang sadar karena keluarganya menginginkan sembuh,” tutur Choirul dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 4 Samarinda, Kalimantan Timur yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Agustus 2024 silam.
Menurut Choirul jika ada seseorang yang terpapar ekstremisme lebih baik keluarganya diberikan pemahaman sehingga nanti bisa menyampaikan ke orang tersebut. Berdasarkan pengalaman dirinya, dalam keluarga ada ikatan batin yang kuat antara anak dengan ibunya.
Baca juga: “Kasih Sayang Orang Tua Mengalahkan Itu Semua”
Choirul mengaku dahulu selama tiga hari berturut-turut sosok ibundanya hadir dalam mimpinya. Awalnya ia mengabaikan dan menganggap hal itu hanya bunga tidur semata. Setelah tiga malam mimpi serupa terjadi terus, dia mulai gelisah.
Choirul mendapatkan kabar dari kakaknya bahwa ibunda tercinta telah meninggal dunia. Dari momen itu Choirul mulai berpikir kritis terhadap keputusannya berada di dunia kekerasan, bergabung dengan kelompok teroris. Salah satu yang menggelitik pikirannya adalah mengapa hubungannya dengan keluarga menjadi terputus sejak dirinya menganut paham keagamaan yang ekstrem. [AS]
