HomeOpiniMisi Perdamaian PBB Berhasil...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian

Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026

Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao di ujung utara Republik Afrika Tengah—menjadi bukti nyata mengapa misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa sangat penting meskipun keberhasilan seperti ini jarang menjadi berita utama internasional.

Pada tahun 2024, sebagai respons terhadap dampak konflik yang terus meluas di Sudan selaku negara tetangganya, misi perdamaian PBB di Republik Afrika Tengah—yang dikenal sebagai Minusca—mendirikan pangkalan sementara di Am-Dafock untuk melindungi komunitas warga yang kehilangan tempat tinggal dan para pengungsi sekaligus menciptakan stabilitas yang dibutuhkan bagi penyaluran bantuan kemanusiaan yang menyelamatkan nyawa.

Tahun lalu, ketegangan antarkelompok di wilayah tersebut memaksa lebih dari 11.000 orang untuk mencari tempat perlindungan di dekat pangkalan PBB tersebut. Menanggapi hal ini, pasukan perdamaian Minusca memfasilitasi dialog lintas batas yang menghasilkan penandatanganan kesepakatan damai antara komunitas Afrika Tengah dan Sudan. Kesepakatan ini berkontribusi pada kembalinya hampir seluruh keluarga pengungsi tersebut dan pemulihan kembali aktivitas lintas batas.

Ini hanyalah salah satu contoh nyata dari apa yang disebut sebagai investasi untuk perdamaian.

Di saat konflik semakin banyak, perpecahan politik semakin dalam, dan masyarakat semakin terancam, pasukan perdamaian PBB tetap menjadi salah satu alat paling efektif dan hemat biaya yang dimiliki komunitas internasional untuk mendukung perdamaian dan keamanan.

Setiap hari, lebih dari 50.000 personel perdamaian dari unsur sipil, militer, dan kepolisian bertugas di bawah bendera PBB di beberapa lingkungan yang paling rumit dan berbahaya di dunia. Pada Hari Internasional Pasukan Perdamaian PBB, kita menghormati dedikasi dan pengorbanan para perempuan dan laki-laki ini atas pengabdian dan pengorbanan mereka, yang bekerja dalam kondisi yang sangat sulit demi melindungi warga sipil dan membantu mencegah ketidakstabilan yang lebih luas.

Tahun ini, kita memberikan penghormatan kepada 59 personel perdamaian yang gugur dalam tugas selama 12 bulan terakhir—sebuah pengingat nyata akan risiko yang dihadapi di tempat-tempat seperti Lebanon, Abyei, dan Republik Demokratik Kongo. Kita juga mengenang lebih dari 4.500 personel perdamaian yang telah gugur sejak tahun 1948 ketika misi perdamaian PBB pertama kali diterjunkan ke Timur Tengah.

Selama hampir delapan dekade berjalan, misi perdamaian PBB telah berulang kali diuji. Hari ini, tantangan yang muncul dari dunia yang semakin terpecah, maraknya disinformasi (berita bohong), dan perkembangan teknologi yang sangat cepat, diperparah oleh kendala keuangan serius yang memberikan tekanan besar pada seluruh operasi perdamaian PBB.

Keterlambatan dan ketidaklengkapan pembayaran iuran wajib dari negara-negara anggota telah memaksa kami untuk mengurangi ruang gerak di seluruh 11 operasi perdamaian, bahkan sembilan misi di antaranya terpaksa memulangkan sejumlah besar pasukan mereka. Kontrak kerja telah dipotong, sementara kegiatan patroli, pelatihan, dan dukungan operasional telah dikurangi.

Hal ini berdampak langsung pada kemampuan pasukan perdamaian PBB untuk tetap hadir di lapangan dan menjalankan berbagai kegiatan yang sangat diandalkan oleh masyarakat demi perlindungan serta stabilitas mereka. Di Republik Demokratik Kongo, pengurangan personel polisi berkontribusi pada penurunan aktivitas patroli sekitar 30 persen sehingga membatasi akses ke daerah terpencil dan berisiko tinggi.

Di Sudan Selatan, penutupan kantor lapangan di Torit dan Aweil telah menghambat upaya pendekatan politik dan diplomasi pencegahan konflik, serta menurunkan kemampuan misi perdamaian dalam mempertahankan perlindungan terhadap aktivitas warga sipil di komunitas sekitar. Di Sahara Barat, keterbatasan kapasitas operasional telah mengurangi kemampuan misi perdamaian untuk mengawasi beberapa wilayah secara bersamaan sehingga meningkatkan risiko adanya pelanggaran hukum yang tidak terdeteksi.

Di Republik Afrika Tengah, pengurangan jadwal penerbangan telah membatasi kemampuan untuk memantau dan memverifikasi situasi hak asasi manusia (HAM) di daerah terpencil.

Inilah keterbatasan yang nyata dari apa yang bisa dicapai ketika sumber daya tidak sebanding dengan mandat yang telah ditetapkan oleh Dewan Keamanan PBB untuk operasi perdamaian meskipun mereka sudah bekerja keras untuk menerapkan efisiensi dan meningkatkan kinerja mereka. Namun, terlepas dari tantangan besar tersebut, pasukan perdamaian PBB terus memberikan perubahan nyata bagi kehidupan jutaan orang di seluruh dunia.

Salah satu aspek misi perdamaian yang paling sering diabaikan adalah pemantauan gencatan senjata. Di wilayah seperti Siprus dan di sepanjang Dataran Tinggi Golan, pasukan perdamaian PBB mencegah ketegangan lokal agar tidak meluas menjadi konflik yang lebih besar dan menciptakan ruang aman yang dibutuhkan agar jalur diplomasi dan dialog politik bisa terus berjalan. Misi perdamaian bukanlah tujuan akhir. Tujuan utamanya adalah politik: untuk meredam kekerasan, mendukung proses politik, dan membantu masyarakat beralih dari situasi konflik menuju perdamaian yang abadi.

Ketika perdamaian berhasil dicapai, itu karena kesepakatan politik berjalan dengan baik dan masyarakat diberikan kesempatan untuk membangun kembali kehidupan mereka. Pasukan perdamaian PBB membantu menciptakan kondisi ini agar proses tersebut bisa berjalan.

Di Sudan Selatan, pasukan perdamaian PBB mendukung jalannya pengadilan keliling yang menegakkan keadilan bagi masyarakat yang kehilangan akses ke sistem hukum formal, untuk membantu memutus rantai kekerasan dan budaya kebal hukum (impunitas).

Di Abyei, tim pendekatan masyarakat bekerja sama dengan warga lokal untuk mendeteksi ketegangan sejak dini dan mencegah perselisihan agar tidak semakin membesar. Di Republik Demokratik Kongo dan banyak lokasi lainnya di dunia, tim aksi ranjau PBB telah membantu membersihkan bahaya ledakan yang mengancam nyawa warga sipil maupun pasukan perdamaian sendiri.

Misi perdamaian PBB juga membantu menjaga agar jalur bantuan kemanusiaan tetap terbuka dan mudah diakses. Di Bentiu, Sudan Selatan, pasukan perdamaian PBB merawat tanggul yang melindungi lebih dari 300.000 orang dari bencana banjir besar dan menjaga infrastruktur penting yang menghubungkan masyarakat paling rentan dengan bantuan kemanusiaan serta layanan dasar.

Semua upaya ini membutuhkan tekad politik, kemitraan yang berkelanjutan dengan aktor regional, nasional, dan lokal, serta dukungan yang pasti dari masyarakat internasional. Misi perdamaian PBB berhasil karena negara-negara di seluruh dunia menyumbangkan personel, keahlian, sumber daya, dan dukungan politik untuk mendukung perdamaian.

Berinvestasi dalam perdamaian bukan hanya kewajiban moral semata. Ini adalah sebuah kebutuhan strategis. Biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan konflik dan stabilisasi selalu jauh lebih rendah daripada biaya yang harus ditanggung akibat konflik, pengungsian, dan ketidakstabilan regional. Ketika misi perdamaian terpaksa dikurangi skala operasinya, dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat yang mereka layani, bahkan hingga ke wilayah luar.

Para perempuan dan laki-laki yang bertugas di bawah bendera PBB tidak bisa membangun perdamaian ini sendirian. Namun, kerja keras mereka terus membuktikan bahwa bahkan di lingkungan paling sulit sekalipun di dunia, perdamaian tetap mungkin diwujudkan jika komunitas internasional memilih untuk bertindak bersama demi mendukungnya.

Bagi jutaan orang yang hidup di tengah konflik, kehadiran pasukan perdamaian PBB dapat menjadi penentu antara rasa takut dan rasa aman, antara keterasingan dan bantuan, serta antara keputusasaan dan harapan. Perdamaian tidak terjadi secara kebetulan. Kita harus memilih untuk berinvestasi di dalamnya.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...