Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam. Sudirman memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme.
“Jujur sebagai korban sangat berat, tidak ada satu orang pun yang tidak marah jika diperlakukan seperti itu. Kita yang niatnya untuk bekerja tiba-tiba di bom, apa salah kita?” ujar Sudirman dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 2 Makassar, Sulawesi Selatan, yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), September 2024 lalu.
Meski sempat marah namun Sudirman tidak ingin menyimpan rasa dendam dan kebencian berlarut-larut. Menurut dia, mendendam dan benci yang berkepanjangan justru akan memperburuk kondisi dirinya.
Baca juga: Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik
“Satu hal yang paling penting buat saya adalah menyimpan dendam dan kebencian akan menimbulkan kebencian yang baru dan tidak membuat saya sembuh,” tutur Sudirman.
Sudirman menjelaskan alasan dirinya tidak mendendam namun memilih sikap memaafkan pelaku/mantan pelaku. Menurut dia memaafkan itu mampu menciptakan kebaikan.
“Saya membuka diri dengan memaafkan untuk kemaslahatan lingkungan yang lebih baik, dengan memaafkan saya bisa melanjutkan masa depan saya. Dan dengan memaafkan saya juga bisa berkontribusi menyebarkan perdamaian dan menciptakan duta-duta perdamaian,” tegas dia.
Ia mengajak generasi muda untuk menjadi duta-duta perdamaian untuk mengawal negeri ini menjadi lebih baik tanpa kekerasan. [AS]
