HomeBeritaSinergi Korban dan Media...

Sinergi Korban dan Media untuk Indonesia Damai

Puluhan wartawan dari berbagai media massa nasional menyadari pemberitaan terkait isu terorisme selama ini sangat kurang memuat perspektif korban. Mereka berkomitmen akan menempatkan suara korban sebagai bagian tak terpisahkan dari pemberitaan isu terorisme. Demikian sepenggal hasil pelaksanaan Short Course “Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media” di Jakarta akhir Mei lalu.

Dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) itu para jurnalis media cetak dan elektronik menerima materi yang mengupas tuntas hal terkait korban terorisme dari sejumlah narasumber. Selama dua hari, Rabu s.d. Kamis (25 s.d. 26/5/2016), para peserta menyelami realitas kehidupan korban, memahami fakta pemberitaan media, serta mengambil pelajaran dari rekonsiliasi korban dan mantan pelaku terorisme.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, dalam sambutannya menjelaskan bahwa sinergi korban dan media massa berpeluang menciptakan Indonesia yang lebih damai. Ia mengatakan, media memiliki dua peran penting untuk mengangkat perspektif korban. Pertama, media dapat memberikan ruang bagi korban sebagai duta perdamaian. Korban adalah cermin utuh sadism kekerasan terorisme dan suara mereka menjadi narasi kuat untuk membangun Indonesia damai. Kedua, media menempati posisi strategis dalam membantu korban mendapatkan haknya sesuai Undang-Undang (UU) yang selama ini belum dipenuhi negara.

“Sangatlah penting kehadiran korban di media untuk memposisikan mereka sebagai duta perdamaian. Lebih dari itu, segenap elemen bangsa termasuk media memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong pemenuhan hak-hak korban yang seakan terabaikan selama ini,” ujarnya.

Salah satu pemateri, pakar komunikasi dan media, Agus Sudibyo, menyampaikan perlunya membuat penguatan laporan jurnalistik berdasarkan perspektif korban. Dalam pandangannya, model pemberitaan media massa masih mengandalkan jargon names make news, menyuguhkan berita berdasarkan nama besar tokoh dari kelompok elite. Korban terorisme dinilai merupakan kalangan awam (ordinary people) sehingga sangat jarang diberi ruang. Selainitu, pengajar Akademi Televisi Indonesia itu menilai motif media massa membuat berita tak jarang hanya mengejar sensasi, mengesampingkan etika dan kurang memperhitungkan dampak pada masyarakat luas.

Frame berita dalam isu terorisme terlalu sering melihat sisi konflik antara aparat dan kelompok teroris. Sangat jarang media melihat dari sisi-sisi yang menarik terkait orang-orang yang menjadi korban dari aksi itu, termasuk tentang hak mereka sebagai korban yang ternyata belum diperhatikan negara,” kata dia.

Dalam kursus dua hari itu, para peserta juga mendapatkan materi Panduan Pemberitaan Isu Terorisme dari jurnalis senior dan anggota Dewan Pers, Nezar Patria. Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa pada pinsipnya wartawan terikat prinsip jurnalisme untuk tidak menyiarkan adegan yang dapat menimbulkan kesan glorifikasi dari aksi terorisme. Pemuatan foto atau adegan hanya diperbolehkan bila bertujuan untuk menyampaikan pesan kemanusiaan bahwa terorisme selalu menimbulkan kekejian dan menelan korban jiwa.

“Disadari atau tidak, jika tidak diiringi kehati-hatian media massa terkadang berperan menggandakan teror. Siaran live media elektronik rentan menjadi factor pembesar aksi terror sehingga rasa takut yang timbul di masyarakat semakin menjadi,” ujarnya.

Materi dari peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Solahudin, tentang peta ekstremisme dan strategi media jaringan teroris juga semakin memperkaya sudut pandang para peserta. Dalam presentasinya, Solahudin menjabarkan peta jaringan ekstremis serta perkembangan mereka di Indonesia.

 

Belajar dari Rekonsiliasi Korban dan Mantan Pelaku

Dalam kegiatan Short Course, para wartawan juga mendapatkan sesi tatap muka secara eksklusif dengan korban dan mantan pelaku terorisme. Pada satu sesi, peserta melakukan talk show dengan tiga korban terorisme, Hayati Eka Laksmi (korban Bom Bali 2002); Wahyu Sri Rejeki dan Nanda Olivia Daniel (korban Bom Kuningan 2004). Para korban berbagi pengalaman hidup saat mengalami tragedy ledakanbom di hadapan peserta. Dari penuturan kisah korban, para peserta mendapatkan wawasan baru.

“Terus terang sayaspeechless, tidak tahu harus bagaimana atau harus menulis apa setelah mendengar kisah para korban ini. Saya yakin teman-teman jurnalis sepemikiran dengan saya bahwa kedepan kita harus semakin intens mendorong pemerintah memenuhi hak-hak korban melalui produk-produk jurnalistik di media kita masing-masing,” kata peserta dari The Jakarta Post.

Pada sesi lain, peserta mendapatkan materi Belajar dari Rekonsiliasi Korban dan Mantan Pelaku. Narasumber dalam sesi ini adalah Vivi Normasari, korban Bom JW Marriott 2003, dan Ali Fauzi, mantan anggota jaringan teror. Di hadapan para wartawan Vivi dan Ali mempresentasikan perjalanan hidup masing-masing yang membawa keduanya kini bersatu dalam Tim Perdamaian AIDA.

Usai Vivi dan Ali menyampaikan presentasi, terjadi diskusi dinamis dalam sesi itu. Sebagian peserta mengaku kagum akan ketegaran hati Vivi sebagai korban yang memaafkan mantan pelaku. Sebagian yang lain penasaran dengan Ali yang mampu berlepas diri dari jaringan teroris dan kini aktif mengampanyekan perdamaian bersama korban.

“Secara pribadi dan mewakili teman-teman media, saya mengapresiasi AIDA yang bisa menyatukan suara korban dan mantan pelaku untuk menyebar luaskan perdamaian bagi bangsa ini,” kata peserta dari Metro TV. (TS) [SWD]

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA edisi IX Juli 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...