HomeBeritaCukup Anak Saya, Jangan...

Cukup Anak Saya, Jangan Ada Korban Lagi

HUJAN deras mengguyur kawasan permakaman umum di Desa Putak, Kecamatan Loa Janan Ulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Selasa (15/11). Ratusan pelayat dari kalangan masyarakat, ormas, dan orang-orang yang berempati mengantarkan Intan Olivia Marbun, 2, di peristirahatan terakhir. Bocah berusia dua tahun itu merupakan salah satu korban ledakan bom molotov di halaman Gereja Oikumene, Samarinda, Minggu (13/11). Tampak hadir di permakaman Kapolda Kaltim Irjen Safaruddin dan Pangdam VI Mulawarman Mayjen TNI Johny Lumban Tobing beserta jajaran.
Kedua orangtua Intan, Anggiat Banjarnahor dan Siana Susanti, tabah mengantarkan jenazah putri mereka sampai tepi liang lahat. Seusai pembacaan doa dan pujian yang dipimpin pendeta, peti jenazah Intan Olivia ditimbun dengan tanah sebagai penanda berakhirnya prosesi pemakaman. Nenek Intan terus menangis di tepi liang kubur. Ia belum rela melepas kepergian cucunya yang lucu itu. Anggiat Banjarnahor, ayah kandung Intan, meminta aksi kekerasan yang menewaskan anaknya tidak terulang lagi. Apalagi, itu menimpa anak-anak Indonesia lainnya. “Cukup anak saya. Jangan ada korban lagi,” ujar Anggiat dengan wajah murung.
Ledakan bom molotov yang mengusik Minggu yang tenang itu telah melukai anak-anak yang sedang bermain di depan halaman gereja. Mereka ialah Intan Olivia, 2, warga Gang Jati, Samarinda, Kelurahan Harapan Baru, Anita Kristabel, 2, warga Jl Cipto Mangunkusumo, Alvaro, 4, warga Loa Janan Ilir, dan Triniti, 3, warga Gang Jati Samarinda. Ledakan bom melukai empat anak tersebut. Menurut keterangan Alimer Samosir, jemaah gereja Oikumene, saat ia membuka pintu terdengar empat ledakan keras. Partikel ledakan itu mengenai tubuh anak-anak. “Ada dua anak yang mengalami luka bakar serius di tubuh dan wajah mereka. Anak-anak itu menangis kesakitan saat kami bawa ke ruang perawatan khusus anak-anak di RSU IA Moeis,” ujar Alimer.
Suasana cukup memilukan karena terdengar jeritan tangis kesakitan anak-anak. Orangtua mereka tidak kalah sedih saat melihat anak mereka mengalami luka bakar. Intan kemudian dilarikan ke RSU AW Syahranie, Samarinda, untuk mendapat penanganan cepat. Namun, luka bakar yang menimpa Intan mencapai 80% dan disertai pembengkakan pada paru-paru karena menghirup udara kotor saat ledakan. Nyawa bocah lucu itu tidak tertolong. Ia menutup mata untuk selama-lamanya. Presiden Joko Widodo menyatakan keprihatinan dan menyebut meninggalnya Intan di luar batas kemanusiaan. (Syahrul Karim/N-3) [SWD]
Tulisan ini pernah dimuat di harian Media Indonesia, edisi Rabu, 16 November 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...