HomeBeritaPerspektif Korban Pada Isu...

Perspektif Korban Pada Isu Terorisme Belum Banyak Disentuh Media

Perspektif korban pada peliputan isu atau peristiwa terorisme di negeri ini ternyata masih belum banyak disentuh oleh media massa. Sehingga perkembangan keberadaan serta bagaimana kondisi korban sejatinya tidak banyak diketahui.

“Padahal keberadaan mereka ini sangat penting. Bukan saja sebagai bukti bahwa telah terjadi peristiwa kekerasan yang dialami warga negara, tetapi sekaligus untuk membuktikan atau menunjukkan bahwa negara bertanggungjawab terhadap apa yang menimpa warganya. Ini sangat penting,” terang Hasibullah Satrawi Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA).

Lebih lanjut Hasibullah Satrawi menjelaskan bahwa media lebih banyak membahas peristiwa yang terjadi, bagaimana komentar pakar, statement aparat keamanan, hingga wawancara para tokoh agama. “Kalaupun tentang korban, masih sebatas identifikasi saja,” kata Hasibullah.

Padahal, para penyintas atau survival peristiwa kekerasan terorisme tersebut masih harus melanjutkan hidupnya. Bagaimana para penyintas ini kemudian melanjutkan hidup dengan berbagai perubahan pasca terjadinya peristiwa kekerasan itulah yang masih belum banyak disentuh.

“Media di tengah derasnya arus informasi memang tidak sempat melanjutkan atau mendalami perspektif korban pada peristiwa kekerasan terorisme. Butuh sourche, dan effort yang tidak kecil. Ini juga persoalan. Hak-hak para penyintas ini wajib juga dipenuhi oleh negara pasca peristiwa terjadi,” lanjut Hasibullah.

Dan media, tegas Hasibullah punya kekuatan untuk mensupport penyampaian hak-hak para penyintas ini melalui media masing-masing. “Ini penting sekali. Dan itulah perspektif korban yang kami maksud,” kata Hasibullah.

Wayan Leniasti, 38 tahun istri dari Kadek Sukerna satu diantara korban bom Bali pertama, pasca meninggalnya sang suami harus berjuang melanjutkan hidup demi dua anak dan keluarganya. Padahal Kadek Sukerna adalah satu-satunya tulang punggung keluarga.

“Setelah peristiwa itu, kami tetap harus hidup. Anak-anak harus makan, keluarga juga. Saya sendiri harus terus bekerja. Bahkan sampai saya lulus S2, tetap harus berusaha sendiri dan mengerjakannya sendiri, semua kami perjuangkan sendiri,” ujar Leni sapaan Wayan Leniasti.

Bahkan Leni mengisahkan harus bayar 300 ribu rupiah untuk ongkos ambulan yang membawa jenazah suaminya ketika itu dari RSUD Sanglah menuju rumahnya di Singaraja. “Kami juga heran. Di tengah derita kami saat itu ternyata ada aturan yang seperti itu,” lanjut Leni.

Media sebagai ujung tombak pemberi informasi kepada masyarakat luas, diharapkan Hasibullah mampu menjadi penghubung antara para penyintas peristiwa kekerasan terorisme dengan negara, dalam rangka pemenuhan hak-hak para penyintas sendiri.

“Ke depan nanti, kami berharap media mampu melakukan peliputan dari perspektif korban, dalam hal ini hak-hak mereka sebagai warga negara, serta tanggung jawab negara terhadap warganya. Dan kami dari Aida akan dengan senang hati memberikan support,” tegas Hasibullah Satrawi saat menjadi nara sumber dalam short course yang diikuti sejumlah wartawan di Surabaya.(tok/rst) [SWD]

 

Artikel ini pernah dimuat di suarasurabaya.net pada Senin, 24 Oktober 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...