HomeBeritaBersatu Membawa Misi Perdamaian

Bersatu Membawa Misi Perdamaian

Penyintas bom terorisme bersalaman dengan mantan pelaku terorisme sebagai simbol rekonsiliasi dalam Pelatihan Tim Perdamaian di Bandar Lampung, Minggu (19/3/2017).

Dengan suara lirih dan penuh penghayatan Kurnia Widodo menyampaikan permohonan maaf kepada para penyintas bom terorisme atas perilaku masa lalunya bergabung dengan kelompok teror. Sesaat setelahnya dia merangkul I Gusti Ngurah Anom, penyintas Bom Bali, 12 Oktober 2002.

Momen itu terjadi dalam kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bandar Lampung, pertengahan Maret lalu. Selain Kurnia dan Anom, kegiatan di kota penghasil kain tapis ini juga diikuti I Wayan Sudiana (penyintas Bom Bali 2002), Agus Suaersih (penyintas Bom JW Marriott 2003), Nanda Olivia Daniel, dan Sarbini (penyintas Bom Kuningan 2004). Ketika Kurnia dan Anom berpelukan para hadirin yang berada di ruangan tampak terharu menyaksikan proses rekonsiliasi antara mantan pelaku dan korban terorisme tersebut.

Kurnia mengaku terharu akan kebesaran jiwa penyintas yang mampu memaafkan dirinya yang pernah dipidana karena terlibat kelompok teroris jaringan Bandung. “Korban bom sangat luar biasa bisa memaafkan saya,” ucapnya. Ia membeberkan ketika masih bergelut dalam dunia kekerasan dirinya tak peduli dan tak memikirkan dampak aksi teror. Dia didoktrin bahwa orang-orang di luar kelompoknya adalah kafir, biar pun beragama Islam, keislaman mereka diragukan dan wajib diperangi. Akan tetapi, Kurnia berubah setelah bertemu dengan penyintas aksi teror. Dia mengaku sedih hingga tak jarang menitikkan air mata bila mendengarkan kisah penyintas berjuang mengobati luka akibat ledakan bom.

Bagi dia pertemuan dengan penyintas terorisme di Bandar Lampung merupakan yang ketiga kalinya. Sebelumnya, dia pernah berinteraksi dengan penyintas dalam kegiatan AIDA di Tasikmalaya dan Bandung, Jawa Barat. Dia mengaku pertemuannya dengan penyintas aksi teror telah mengubah pola pikirnya secara bertahap untuk meninggalkan ideologi ekstrem. “Interaksi dengan mereka juga memunculkan empati saya, ternyata kekerasan dan dendam tidak menyelesaikan masalah. Saya ingin bersatu dengan para penyintas membawa misi perdamaian,” ucapnya.

Dalam kegiatan pelatihan yang berlangsung selama dua hari itu, Anom berbagi kisah hidupnya sebagai penyintas serangan teror Bom Bali 2002. Waktu itu sepulang kerja menjadi penjaga keamanan di Restoran Kuta Plaza dia singgah sejenak untuk membeli air minum dari penjual di tepi Jalan Raya Legian. Tiba-tiba, terjadi ledakan tak jauh dari tempatnya berada. Seketika dia tiarap. Sesaat kemudian dia bangkit bergegas menghampiri motornya untuk menjauh dari lokasi. Tanpa diduga, terjadi ledakan lagi dengan kekuatan yang lebih besar hingga membuat mata kirinya mengalami gangguan penglihatan permanen dan gendang telinga kirinya rusak. Sepeda motornya juga hancur.

Meskipun mengalami berbagai penderitaan itu dia mengaku tidak lagi memiliki dendam terhadap mantan pelaku terorisme. “Agama saya tidak mengajarkan kekerasan. Jika pelaku meminta maaf maka saya akan memaafkan secara tulus untuk berdamai,” ujar Anom.

Penyintas Bom Kuningan 2004, Nanda Olivia Daniel dan Sarbini, juga berbagi kisah dalam kegiatan tersebut. Pagi hari, 9 September 2004, Nanda sedang naik bus kota menuju kampusnya di kawasan Kuningan. Ketika bus yang ditumpanginya berhenti di seberang kantor Kedutaan Besar Australia, Kuningan, Jakarta Selatan, tiba-tiba ledakan sangat keras terjadi, membuatnya terhempas dan terjatuh dari bus. Ledakan bom itu menyebabkan luka serius di jari tangan, gendang telinga, dan pundaknya. Dia harus menjalani perawatan medis sekitar delapan bulan untuk memulihkan kesehatannya. Sementara itu, Sarbini menceritakan dirinya terkena ledakan bom saat sedang bekerja memasang jaringan kabel di Plaza 89, gedung di seberang Kedutaan Besar Australia. Ledakan menyebabkan tubuhnya terpental hingga mengalami luka parah di bagian dahi dan harus mendapatkan puluhan jahitan.

Pelatihan Tim Perdamaian juga menghadirkan penyintas Bom JW Marriott 2003, Agus Suaersih. Ibu satu anak itu terkena ledakan bom saat sedang bekerja di Restoran Syailendra Hotel JW Marriott Jakarta. “Saat itu tamu sangat banyak dan waiting list. Bom meledak saya terlempar tujuh meter. Alhamdulillah posisi saya di belakang pilar sehingga tidak mengalami luka parah atau luka bakar,” tutur wanita yang biasa disapa Ade ini. Ledakan itu, lanjut dia, mengakibatkan luka patah di tulang hidung, koyak di pipi kanan, luka di kepala, serta luka bakar di punggung dan kaki.

Sebagai penyintas terorisme, Wayan, Anom, Nanda, Sarbini, dan Ade tak memiliki dendam terhadap Kurnia bahkan telah memaafkannya. “Saya tidak benci pada pelaku. Saya sering dinasihati ustaz bahwa setiap musibah apa pun ada hikmahnya jadi kita ambil saja hikmahnya,” kata Sarbini.

Direktur AIDA, Hasibulllah Satrawi, mengatakan kegiatan yang melibatkan penyintas dan mantan pelaku ini merupakan modal awal untuk membentuk Tim Perdamaian yang akan berbagi kisah kepada masyarakat luas, terutama generasi muda di sekolah-sekolah. Penyampaian kisah mereka dinilai penting guna menanamkan semangat melestarikan perdamaian di masyarakat.

Korban dan mantan pelaku yang telah berekonsiliasi dan menjadi Tim Perdamaian dijadwalkan melakukan safari kampanye perdamaian di lima sekolah di Bandar Lampung, yaitu SMA Taman Siswa, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 8, dan SMAN 9. [AS]

* Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XIII Juli 2017.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...