HomeBeritaForum Perdamaian Dunia: 'Jalan...

Forum Perdamaian Dunia: ‘Jalan Tengah’ Tak Mestinya Disimplifikasi

Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban, Din Syamsuddin (tengah, memegang pengeras suara), berbicara dalam Forum Perdamaian Dunia Ketujuh di Jakarta. [dok. detik.com]
Dian Septiari

THE JAKARTA POST/JAKARTA

Pendekatan “jalan tengah” mestinya tak didefinisikan menggunakan interpretasi yang simplistik, terutama dalam politik, akademisi dan tokoh agama mengatakan pada Rabu, hari kedua acara dwi tahunan ketujuh Forum Perdamaian Dunia.

Indonesia diperkenalkan sebagai contoh baik konsep “jalan tengah”, yang didefinisikan sebagai suatu pendekatan yang menekankan etika dan moralitas, berdasarkan tradisi dan pengalaman dalam mempromosikan perdamaian melalui Pancasila, ideologi nasionalnya.

Baca juga: Forum Perdamaian Dunia Usulkan Jalan Tengah Untuk Tangkal Ekstrimisme

Utusan khusus presiden untuk dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban, Din Syamsudin mengatakan dalam upacara pembukaan forum pada Selasa bahwa dunia tidak boleh terjebak dalam ekstremitas berdasarkan keyakinan agama atau ideologi nasional dan sebaliknya harus mengambil jalan tengah.

Muhammad Hossein Mozaffari, seorang profesor hukum internasional dan direktur Pusat Dialog Antaragama dari Organisasi Budaya dan Relasi Islam Iran, mengatakan jalan tengah tak sama jarak di antara dua ekstremitas.

“Jalur tengah tidak sama dalam jarak dari kedua sisi spektrum. Ia memiliki dinamisme, menawarkan kita banyak gagasan dan pilihan serta alternatif yang harus anda jelajahi,” katanya pada pengarahan setelah hari kedua berakhir.

Seorang profesor ilmu politik di Universitas Paris, Delphine Alles, mengatakan dalam pengarahan bahwa jalan tengah tidak boleh digunakan untuk mengklaim bahwa hanya ada satu solusi.

Alles mengatakan, terutama dalam kasus politik, jalan tengah menanggung risiko digunakan sebagai cara mendiskreditkan oposisi dengan menghadirkan solusi politik seolah-olah tidak ada alternatif.

“Ini adalah cara melegitimasi ide-ide yang mengatakan, ‘Baiklah ini jelas, ini adalah pusat, ini netral.’ Sering sekali berkaitan dengan politik teknokratik,” kata dia.

Saat bicara pada diskusi panel, Alles mengatakan konsep jalan tengah dapat digunakan untuk menghindari pluralisme dan ia mendefinisikannya sebagai arbitrer, mengutip sebuah contoh jalan tengah yang gagal di Suriah, di mana pemerintahannya mencari legitimasi dengan menjelekkan mereka yang berada di ujung ekstrem spektrum.

Dia mengatakan penting untuk mempertahankan gagasan menjadi masuk akal karena, dalam politik yang kompleks, ada banyak aktor dan masalah yang perlu dipahami dengan benar, tidak disimplifikasi. “Kita seharusnya mempromosikan jalan tengah sebagai sebuah metode, bukan akhir.”

Mantan menteri luar negeri Alwi Shihab mengatakan jalan tengah Indonesia, yang diwujudkan dalam Pancasila, ditantang oleh radikalisme.

“Ideologi-ideologi baru yang akhir-akhir ini dibawa dari Timur Tengah, yang melemahkan Pancasila dan persatuan kita mulai menembus (masyarakat kita),” ujarnya kepada wartawan, menambahkan bahwa organisasi Islam yang ada seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan Washliyah berdasarkan pada ajaran Wasatiyyat, atau moderasi.

Pada bulan Mei, Indonesia mengadakan konferensi Wasatiyyat Islam di Bogor, Jawa Barat, di mana sekitar 100 ulama muslim dari seluruh dunia berkomitmen untuk mempromosikan Wasatiyyat Islam, yang dikatakan telah dipraktikkan sepanjang sejarah, sejak era Nabi Muhammad.

Sarjana Muslim Azyumardi Azra mengatakan karena Pancasila, kekerasan politik dan pemberontakan sangat jarang terjadi di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Muslim lainnya di Timur Tengah.

Di samping implementasi pendekatan jalan tengah dalam politik, para peserta juga menghadiri panel-panel terpisah tentang agama, ideologi nasional dan ekonomi.

Dalam kasus kepentingan nasional, panel-panel mengidentifikasi bahwa, untuk beberapa negara, kepentingan nasional bertentangan dengan nilai-nilai universal, seperti kemanusiaan, membuat jalan tengah menjadi pendekatan yang menantang untuk dipromosikan pada tataran praktis.

Alwi, yang juga utusan khusus presiden untuk Timur Tengah, mengatakan kepentingan nasional Indonesia terkandung dalam sila ketiga Pancasila, persatuan.

“Pancasila adalah faktor pemersatu antara banyak kelompok etnis dan agama,” katanya. [MSZ]

 

Artikel ini diterjemahkan dari The Jakarta Post edisi 16 Agustus 2018

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...