HomeOpiniNilai Kepahlawanan dalam Rekonsiliasi...

Nilai Kepahlawanan dalam Rekonsiliasi Korban dan Mantan Pelaku

Oleh: Muhammad Saiful Haq, mahasiswa Pascasarjana UIN Jakarta

“Mereka (para penyintas) adalah pahlawan-pahlawan saya.”

Ali Fauzi, seorang mantan pelaku terorisme, mengatakan itu dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Jakarta (24/1/2018).

Dia mengaku pertemuannya dengan korban-korban terorisme membantunya untuk menyadari kekeliruan ideologi yang dia yakini sebelumnya. Saat pertama kali bertemu korban dia mengaku larut dalam kesedihan, tak mampu membayangkan betapa besar penderitaan akibat ledakan bom. Penyesalan pun muncul dalam diri Ali Fauzi. Mewakili saudara dan kawan-kawannya yang pernah terjerumus ke dunia kekerasan, ia telah memohon maaf kepada korban.

Tim Perdamaian AIDA, Ali Fauzi
Tim Perdamaian AIDA, Ali Fauzi

 

Secara perlahan perubahan cara pandang mendorongnya untuk hijrah dari jalan kekerasan menuju kedamaian. Bukannya saling mendendam, di antara korban dan mantan pelaku terorisme justru terbentuk rekonsiliasi. Bersama AIDA, kini korban dan mantan pelaku sering berduet mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat luas. Dari itu pria asal Lamongan ini menyebut korban terorisme adalah pahlawan baginya.

Dalam kehidupan selalu ada pahlawan pada masanya, yaitu orang yang berani berkorban membela sesuatu yang diyakini berharga bagi bangsanya. Bila di masa lalu pahlawan adalah yang berjuang di medan pertempuran mengusir penjajah, dalam konteks kekinian nilai-nilai kepahlawanan dapat diserap dari persatuan antara korban dan mantan pelaku terorisme.

Satu sisi korban dan mantan pelaku seakan terlihat saling berseberangan. Namun, di sisi lain rekonsiliasi kedua pihak mencerminkan semangat dan keberanian untuk memulai dialog, menghilangkan kecurigaan dan kebencian, menghindari penggunaan kekerasan, serta meneguhkan komitmen untuk bersama-sama membangun perdamaian.

Karakter tangguh jelas terlihat dalam diri kedua pihak. Korban mampu melampaui penderitaan akibat terorisme untuk bangkit berdaya menjadi seorang penyintas (survivor). Sikap mantan pelaku mengajarkan kejujuran yang luhur. Dia menyadari kekeliruan masa lalunya kemudian mau mengakui kesalahan itu, serta mampu mengupayakan perbaikan-perbaikan. Semangat bina damai yang ditunjukkan korban dan mantan pelaku menyiratkan pesan-pesan positif yang menjadi esensi kehidupan berkemajuan.

Dari penyintas, kita dapat meneladani bahwa keburukan yang ditimpakan manusia tidak semestinya dibalas dengan tindakan serupa. Penyintas bom mencontohkan, penderitaan yang diciptakan pelaku teror justru dibalas dengan memberikan cinta. Hasilnya, mantan pelaku bisa meninggalkan dunia kekerasan dan kini berjuang di jalan kedamaian.

Menurut sebuah riwayat hadis, cinta kepada sesama sangat terkait dengan keimanan. Sabda Rasulullah Saw.: “Tidaklah beriman seseorang dari kalian, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim). Saudara dalam hadis tersebut dapat dipahami secara luas, tidak hanya sesama muslim, tetapi sesama bangsa Indonesia, atau sesama umat manusia.

Mencintai sesama artinya menebar kedamaian dalam kehidupan ini. Menciptakan perdamaian dan terus melestarikannya berarti memberikan manfaat bagi orang banyak. Berupaya sekuat tenaga dengan mengorbankan segala sumber daya untuk memberikan kemanfaatan bagi sebanyak-banyaknya manusia oleh sebab itu merupakan karakter kepahlawanan yang kontekstual dengan masa kini.

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama” (HR. Ahmad, Al-Tabrani, Al-Daruqutni.). Sabda Rasulullah di atas sekaligus menegaskan firman Allah dalam Al-Quran.

“Bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah: 148).

Dalam konteks saat ini, selaras dengan semangat Hari Pahlawan pada 10 November setiap tahunnya, kita dapat memaknai ayat tersebut dengan berlomba-lomba memberikan manfaat bagi khalayak umum, termasuk menyebarkan perdamaian di kehidupan bermasyarakat.

Keteladanan nilai kepahlawanan dalam Islam juga dapat dipandang dari figur Rasulullah yang mengutamakan jalan kedamaian dalam mengajak manusia kepada kebenaran.

Mari kita perkuat semangat kepahlawanan dalam diri kita dengan memberikan kebaikan kepada sebanyak-banyaknya orang.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...