HomeInspirasiSuara Mantan PelakuKasih Ibu Selamatkan Mantan...

Kasih Ibu Selamatkan Mantan Pelaku

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Mata Choirul Ihwan berkaca-kaca saat menceritakan pengalaman kelamnya di dunia terorisme dalam sebuah kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat pertengahan Oktober 2018 lalu. Choirul mengatakan bahwa kasih sayang ibunya menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme.

Saat masih begabung dengan kelompok teroris dan bersembunyi di hutan di wilayah Sulawesi pada tahun 2011, Choirul mengaku selama tiga hari berturut-turut sosok ibundanya hadir dalam mimpi. Awalnya ia mengabaikan dan menganggap hal itu hanya bunga tidur semata. Setelah tiga malam mimpi serupa terjadi terus, dia mulai gelisah.

Dia memutuskan untuk turun gunung, keluar hutan agar bisa menghubungi keluarganya di Madiun, Jawa Timur yang sudah dia tinggalkan sekitar tiga tahun. Panggilan teleponnya diterima oleh seorang kakaknya. Alangkah terkejutnya Choirul ketika sang kakak mengabarkan bahwa beberapa jam sebelumnya ibunda tercinta meninggal dunia.

Dari momen itu Choirul mulai berpikir kritis terhadap keputusannya berada di dunia kekerasan, bergabung dengan kelompok teroris. Salah satu yang menggelitik pikirannya adalah mengapa hubungannya dengan keluarga menjadi terputus sejak dirinya menganut paham keagamaan yang ekstrem. Sebelum meninggalkan rumah untuk berpetualang bersama kelompok teroris, bungsu dari lima bersaudara ini mengumpulkan seluruh saudaranya di rumah orang tua, kemudian dia mengafirkan mereka semua.

Pengalamannya ‘didatangi’ ibu dalam mimpi membuat doktrin-doktrin ekstrem yang pernah dia terima dari kelompoknya mulai runtuh. Dia tidak pernah percaya yang namanya firasat. Menurutnya intuisi seperti itu adalah hal yang tidak berdasar. Namun, dia meyakini ikatan batin dan kasih sayang antara ibu dan anak memang tak bisa dipisahkan. Kasih sayang orang tua telah memanggilnya ‘pulang’, meninggalkan dunia kekerasan untuk meniti jalan perdamaian.

Bergabung Dengan Kelompok Teroris

Pengalaman hidup Choirul sungguh menarik. Dia berasal dari keluarga yang moderat. Sejak kecil dididik agama Islam dengan kultur yang tradisionalis. Bapaknya seorang kiai kampung dan ibunya merupakan pengurus organisasi Islam tradisional. Namun, jiwa mudanya yang berapi-api tidak terpuaskan dengan ajaran Islam yang biasa saja hingga dirinya tergiur ke jalan ekstremisme.

Pada 1998 sejak masih SMA, Choirul bergabung dengan sebuah partai dakwah, yang menurutnya sesuai dan bisa menjadi oase pelepas dahaga jiwanya. Dia merasa menemukan ‘keluarga’ yang pas dengan dirinya. Rasa persaudaraan, solidaritas, dan semangat beragama yang tinggi menjadi motivasinya bergabung dengan kelompok ini. Dalam ‘keluarga’ baru ini dia mendapatkan jalan untuk mengaktualisasikan diri menjadi pribadi muslim sejati.

Beberapa tahun kemudian, Choirul tidak lagi nyaman berada di kelompok ini. Menurutnya ada yang salah dengan partai dakwah yang diikutinya. Partai ini masih berada di lingkaran demokrasi, sistem bernegara yang menurutnya tidak sesuai dengan Islam.

Tahun 2000 ia bergabung dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Namun, lagi-lagi jiwa ‘petarung’ yang membara dalam dirinya masih tidak puas dengan kelompok barunya ini.

Tak lama setelah ikut HTI, tahun 2001 ia pindah ke kelompok yang lebih keras, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Dia anggap kelompok ini bisa menjadi kendaraan untuk mencapai cita-citanya, yaitu berjihad di jalan Allah dalam arti berperang mengangkat senjata. Namun, menurutnya sudah cukup lama tergabung dalam kelompok ini ia tak juga dikirim untuk berperang.

Ketidakpuasan Choirul kemudian mulai terjawab ketika ia menjalin pertemanan dengan seseorang di media sosial pada tahun 2008. Dia masuk ke lingkup kelompok ekstrem yang sangat eksklusif bernama Jamaah Thaliban Melayu. Dari kelompok ini dia mencapai puncak pribadi yang ekstrem. Ia benar-benar melepas semuanya demi keyakinannya. Keluarga, anak, dan istri yang menurutnya tersesat di jalan kekafiran, berada di bayang-bayang thagut, dia tinggalkan demi apa yang ia yakini sebagai perjuangan di jalan agama yang sesuai dengan kelompoknya.

Tahun 2010 Choirul sempat akan mengikuti pelatihan paramiliter di Pegunungan Janto Aceh, namun batal lantaran terendus Densus 88. Dia kemudian pergi ke Sulawesi Barat untuk bergabung dengan teman-temannya di Mamuju. Pada 2012 dia pindah ke Jakarta untuk membuat bengkel perakitan senjata. Sepak terjang Choirul akhirnya terhenti setelah ditangkap aparat keamanan di Bekasi, pada Agustus 2013. Dalam persidangan, ia divonis hukuman penjara 4 tahun.

Jalan Pertaubatan

Dalam masa hukuman, Choirul mengalami fase pertobatan lebih lanjut. Pertama, paham ekstremisme yang membuat hubungan persaudaraan dengan keluarganya terputus, hingga puncaknya saat dia kehilangan ibu, mendorongnya untuk mengkritisi doktrin-doktrin yang pernah diterimanya. Dia mulai terbuka untuk membaca literatur keagamaan yang tidak diajarkan kelompoknya. Fase berikutnya adalah saat ia dipertemukan oleh AIDA dengan salah seorang korban aksi teror bom di Hotel JW Marriott Jakarta yang terjadi pada tahun 2003. Melihat kondisi korban yang mengalami luka bakar sangat parah, Choirul mengaku merasa terpukul.

“Saya kaget, ketika didatangi korban. Saya meminta maaf langsung kepada beliau, meski saya bukan pelaku langsung Bom JW Marriott, tapi saya pernah mendukung,” ujarnya.

Dia mengaku sangat takjub akan kelapangan hati korban yang mau dan mampu memaafkan mantan pelaku teror. Kebesaran hati korban membuatnya merasa kecil mengingat perbuatannya di masa lampau.

“Akhirnya saya banyak belajar dari beliau. Banyak sekali mendapatkan inspirasi yang positif,” jelasnya.

Kini usai lepas dari menjalani hukuman Choirul berniat untuk menyusun lembaran baru. Belajar dari masa lalunya, dia ingin berbagi pesan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar menghindari paham keagamaan yang menyimpang. Menurutnya, hal terpenting bagi generasi muda adalah jangan pernah meragukan kasih sayang keluarga. Choirul muda, dalam kenangannya, terjerembab ke lembah kelam terorisme karena awalnya mengabaikan kasih sayang keluarga.

“Saya berpesan agar selalu berpikir positif terhadap keluarga, dan jangan pernah meragukan kasih sayang keluarga. Ini yang saya rasakan. Saya meragukan kasih sayang mereka. Padahal terbukti, merekalah yang telah merawat saya hingga besar. Dan, ketika saya melakukan kesalahan besar hingga mengafirkan mereka, juga akhirnya mereka yang menerima saya kembali tanpa ada dendam di hati mereka,” kata dia.

Kini Choirul kembali ke kehidupan normal. Bahkan bersama para korban terorisme ia menjadi anggota Tim Perdamaian AIDA untuk menyemai pesan-pesan damai dan semangat ketangguhan kepada masyarakat, agar tak ada lagi Choirul-Choirul lain yang terjerumus ke dunia terorisme. [KAN]

 

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....