HomeBeritaIbroh dari Kisah Penyintas...

Ibroh dari Kisah Penyintas dalam Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi terorisme menimbulkan dampak kerusakan yang nyata bagi kehidupan manusia, terutama kepada para korban. Akibat aksi terorisme, banyak orang tak bersalah harus kehilangan nyawa, meninggalkan keluarga dan orang-orang terkasih. Bagi korban yang selamat, serangan teror menyebabkan luka serta trauma yang tidak bisa sembuh dalam waktu singkat, bahkan masih terasa setelah belasan tahun berlalu. Diperlukan upaya bersama untuk membangun kesadaran bahwa perdamaian sangat penting dijaga.

Demikianlah pesan yang mengemuka dalam kegiatan Halaqah Alim Ulama bertema “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh” yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Surakarta akhir Agustus lalu. Acara tersebut terselenggara berkat kerja sama AIDA dengan Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan. Lebih dari 100 orang perwakilan ormas Islam, pondok pesantren, dan takmir masjid se-Solo Raya mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias.

Seorang penyintas terorisme dihadirkan sebagai salah satu pembicara dalam Halaqah Alim Ulama. Josuwa Ramos, penyintas aksi teror bom di daerah Kuningan, Jakarta Selatan yang terjadi pada 9 September 2004, diminta untuk berbagi pengalaman hidupnya.

Baca juga Meneladani Akhlak Nabi dalam Kisah Penyintas

Josuwa menceritakan, dirinya sedang bekerja sebagai petugas keamanan di Kedutaan Besar Australia di Jakarta saat peristiwa bom itu terjadi. Ia mengingat, serangan itu menghancurkan banyak mobil dan motor yang melintas di jalan raya, serta menimbulkan kerusakan di banyak gedung. Selamat dari tragedi mengerikan itu baginya merupakan sebentuk kasih sayang Tuhan kepadanya.

Sungguh cobaan berat dirasakan Josuwa sejak Bom Kuningan terjadi. Pasalnya, musibah itu datang saat ia baru sekitar sebulan memeluk Islam. Dalam hati dan pikirannya berkecamuk pertanyaan yang menyangsikan keputusannya untuk menjadi mualaf. Di satu sisi, ia sedang mempelajari Islam, apa saja ajarannya, bagaimana peribadatannya, seperti apa akhlak nabinya, dan sebagainya. Akan tetapi, di sisi lain, ada segelintir orang yang mengaku dilegitimasi oleh ajaran Islam dalam melancarkan aksi teror yang membuatnya terluka.

Sekitar seminggu sebelum kejadian, Josuwa mengingat ada sejumlah orang berjubah mendatangi Kedubes Australia dan menanyakan beberapa hal. “Saya awalnya tidak mengenal siapa mereka. Mereka berjubah dan bertanya-tanya tentang jumlah pekerja asli Indonesia di sini. Karena hal itu terkait dengan kebijakan Kedutaan Besar Australia, saya tidak menjawab. Namun, setelah kejadian, saya mengetahui bahwa itu merupakan pelaku, Nordin M. Top,” tutur pria asal Medan yang kini menetap di Jakarta itu.

Baca juga Alim Ulama Harapan Perdamaian Bangsa

Setelah mengalami kejadian itu, Josuwa mengaku trauma bila melihat orang berpakaian jubah dan memakai ikat kepala. Ia juga merasa kecewa terhadap segelintir orang Islam yang berpemahaman sangat ekstrem, yang sampai hati melukai bahkan membunuh orang lain, termasuk kepada sesama muslim sendiri. Luka yang dideritanya paling parah adalah di bagian kaki di mana sebuah serpihan logam menembus di antara dengkul dan tulang keringnya. “Hingga kini, saya masih meminum obat-obatan untuk memulihkan rasa sakit yang saya terima di kaki kiri saya,” terangnya.

Meneladani Nabi

Akibat ledakan Bom Kuningan, Josuwa menjalani perawatan di dua rumah sakit, di Indonesia dan Singapura. Selama masa pengobatannya hingga saat ini, ia mengaku kesabarannya terus diuji saat dihadapkan dengan berbagai penderitaan akibat tragedi itu. Meskipun tidak mudah, ia memilih untuk bersabar atas apa yang terjadi. Ia juga mengaku telah ikhlas, tidak memendam dendam kepada pelaku. Baginya, seorang muslim harus bersabar, kuat, dan mampu memaafkan kesalahan orang lain.

Sikap luhur itu ia pelajari dari akhlak teladan seluruh umat Islam, yakni Nabi Muhammad Saw. Dari buku-buku yang ia baca serta dari nasihat guru yang mengajarkan Islam kepadanya, Rasulullah Saw. ialah pribadi yang pemaaf walaupun kerap kali dizalimi. Saya belajar Islam dari guru-guru saya. Dari sana saya belajar kisah Nabi Muhammad Saw., bahwa Nabi saja memaafkan. Meski tidak bisa sempurna, tetapi saya mencoba untuk mengikuti Nabi,” katanya.

Sejak awal 2019, Josuwa aktif berkontribusi dalam upaya mengampanyekan perdamaian dalam berbagai kegiatan AIDA. Ia telah bersatu menjadi Tim Perdamaian bersama orang-orang yang telah bertobat dari dunia terorisme. Bersama mantan pelaku terorisme yang telah bertobat, ia gigih mengajak berbagai kalangan untuk melestarikan perdamaian, termasuk ke kalangan tokoh agama. Josuwa berharap para ulama dapat menyampaikan kepada umat tentang nilai-nilai Islam yang menekankan perdamain. [FS]

Baca juga Empati Tokoh Agama kepada Penyintas

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....