HomeOpiniPerempuan dan Kekerasan

Perempuan dan Kekerasan

Oleh: Novi
Mahasiswa Kajian Terorisme, Sekolah Kajian Stratejik Global Universitas Indonesia

Keterlibatan perempuan dalam kelompok terorisme dan prokekerasan sudah berlangsung cukup lama. Di Rusia, sejak masa gelombang anarkis kelompok Narodnaya Volya, perempuan berperan sebagai tokoh kunci dalam pembunuhan gubernur jenderal St. Petersburg. Sementara dalam kelompok prokekerasan yang berbasis keagamaan, perempuan telah mengisi berbagai peran, mulai sekadar pendukung hingga pelaku aksi teror dalam pemberontakan (Banks, 2019). Pengebom bunuh diri perempuan pertama yang berhasil melancarkan serangannya adalah seorang gadis Lebanon yang dikenal sebagai The Bride of the South.

Peristiwa ini membuka peluang perempuan Lebanon bertindak atas nama organisasi terorisme untuk melakukan aksi bunuh diri (Knop, 2007: 398). Selain itu, ada juga fenomena baru dalam aksi pemberontakan di Rusia, yakni black widows, di mana perempuan-perempuan Chechnya yang kehilangan pasangan laki-laki dalam perang melawan Rusia ingin melakukan balas dendam. Munculnya ‘black widows’ pada musim panas bersamaan dengan pecahnya intifada di Palestina bulan September 2000 yang dicirikan oleh penggunaan bom bunuh diri oleh perempuan (Russell, 2009).

Baca juga Bunuh Diri dan Terorisme

Dalam konteks Indonesia, keterlibatan perempuan dalam aksi-aksi terorisme merupakan fenomena baru. Kejadiannya beragam, mulai dari rencana teror bom panci yang menargetkan Istana Negara yang mana pelakunya adalah perempuan pada tahun 2016, Bom Surabaya Mei 2018, sampai dengan bom bunuh diri di Sibolga Sumatera Utara pada awal 2019 yang dilakukan oleh perempuan dengan melibatkan anaknya dalam kedua serangan terakhir. Gelombang terorisme keempat menjadi aktor yang berorientasi pada perkembangan zaman, yakni kefanatikan, martir, di mana mereka menggunakan dalil agama sebagai justifikasi untuk memusnahkan manusia.

Beberapa faktor

Ada banyak faktor yang menyebabkan perempuan terlibat dalam aksi terorisme. Global Government Forum pada tahun 2018 menyebutkan bahwa ketidaksetaraan ekonomi, kurangnya kepemimpinan oleh perempuan, serta kemiskinan, menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya ekstremis perempuan.

Fauziya Abdi Ali, presiden organisasi Women in International Security Kenya, yang bekerja untuk Journey to Extremism UNDP mengatakan, banyak perempuan bergabung dengan kelompok teror karena mereka kekurangan layanan penting seperti akses ke air dan listrik. Selain itu, pembalasan dendam terhadap kelompok ataupun individu menjadi kesempatan besar bagi perempuan untuk bergabung dengan kelompok teror.

Baca juga Peta Terorisme Pasca-Baghdadi

Banyak sekali keuntungan yang diharapkan oleh para teroris laki-laki terkait keikutsertaan perempuan dalam kelompok ekstremis. Ketika mereka melakukan objektvikasi perempuan dengan persenjataan, maka secara otomatis hal itu menjadi promosi terorisme sekaligus melanggengkan tujuan. Selain itu meningkatnya ketakutan dan memperluas jumlah calon yang direkrut adalah alasan perempuan terlibat dalam terorisme. Media juga memiliki peranan penting dalam melakukan rekrutmen dan menebar rasa takut (Banks, 2019).

Perempuan sering menjadi korban dan selamat dari beberapa kekejaman yang dilakukan oleh teroris. Seperti halnya dalam bentuk perang dan konflik yang lebih konvensional, di mana pemerkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya terus menjadi alat perang. Para ekstremis brutal menggunakan kekerasan seksual untuk mengendalikan perempuan dan mengerahkan kekuasaan atas kelompoknya. Mereka juga digunakan sebagai “mesin produksi” yang melahirkan generasi jihadis dengan menikahi kombatan.

Baca juga “Secarius” di Abad Informasi

Serangan yang dilakukan perempuan memang tidak bisa dibenarkan, akan tetapi mereka memiliki alasan tersendiri. Perempuan umumnya dimotivasi oleh alasan pribadi dan bukan karena alasan ideologis. Bloom (2011) dalam bukunya Bombshell: Women and Terrorism mengatakan bahwa perempuan Palestina yang terlibat dalam terorisme merasa diberdayakan dan menikmati “rasa pembebasan”.

Perempuan dan terorisme merupakan fenomena yang tidak baru. Perempuan memang ikut terlibat dalam aksi terorisme, tetapi banyak faktor yang menjadikan mereka sebagai korban. Perempuan bukan hanya korban tetapi juga memainkan peran penting dalam mengembangkan strategi untuk melawan terorisme dan ekstremisme. Peran mereka antara lain membentuk komunitas dan membangun nilai-nilai perdamaian dalam keluarga, mengidentifikasi dan mengintervensi tanda-tanda awal radikalisasi, serta menggunakan berbagai bentuk media untuk mempromosikan narasi-narasi perdamaian.

Baca juga Menghentikan Spiral Terorisme

Most Popular

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan...

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...