HomeOpiniBunuh Diri dan Terorisme

Bunuh Diri dan Terorisme

Oleh Trias Kuncahyono
Wartawan Kompas 1988-2018.

Apa yang mendorong seseorang nekat melakukan terorisme bunuh diri? Pertanyaan itu selalu muncul setiap terjadi aksi bom bunuh diri, seperti yang beberapa hari silam terjadi di Polrestabes Medan, Sumatera Utara.

Apa yang mendorong seseorang nekat melakukan terorisme bunuh diri? Pertanyaan itu selalu muncul setiap terjadi aksi bom bunuh diri, seperti yang beberapa hari silam terjadi di Medan, Sumatera Utara. Orang, masyarakat banyak, ingin mengetahui latar belakang pelaku: Mengapa orang itu mencari mati?

Tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut di atas. Menurut Robert A Pape dalam Dying to Win, The Strategic Logic of Suicide Terrorism (2005), salah satu rintangan untuk mengetahui alasan seseorang melakukan aksi terorisme bunuh diri adalah kecenderungan berpikir bahwa semua pelaku terorisme bunuh diri memiliki alasan yang sama. Dengan kata lain, sebenarnya, para pelaku terorisme bunuh diri memiliki alasan berbeda-beda mengapa mereka melakukan aksi serangan bunuh diri; mengapa mereka mencari mati seperti itu.

Baca juga Pahlawan, Maafkanlah Kami

Ada yang kesulitan ekonomi (kemiskinan) menjadi alasan melakukan terorisme bunuh diri. Ada pula yang karena dorongan keyakinan agama. Ada lagi yang karena alasan ideologi. Ada juga karena balas dendam atau juga karena keputusasaan hidup atau merasa diperlakukan tidak adil. Berbagai alasan bisa menjadi pendorong seseorang melakukan tindakan terorisme bunuh diri: bisa faktor internal ataupun eksternal.

Yang menarik, apa pun alasan yang mendorong mereka melakukan tindakan itu adalah mereka mau menjadikan dirinya sebagai senjata. Pilihan ini adalah langkah pertama untuk memasuki wilayah kematian. Sebab, menurut seorang analis terorisme Israel, Boaz Ganor, dalam Suicide Attacks in Israel’ in Countering Suicide Terrorism (2000), ”Serangan bunuh diri adalah metode operasional, di mana tindakan serangan sangat tergantung setelah kematian pelaku.”

Apakah yang mereka lakukan adalah sebuah bentuk pengorbanan diri? François Géré dalam Suicide Operations: Between War and Terrorism (2007) berpendapat, filosofi sukwan bunuh diri melampaui pengorbanan diri tentara (pengorbanan diri adalah bagian tradisi militer) karena tindakan mereka didasarkan pada sebuah paradoks: di satu sisi tindakan pengorbanan diri seperti itu adalah altruistik; di disi lain mereka perlu menegasikan kemanusiaan dirinya sendiri dan orang lain.

Baca juga Peta Terorisme Pasca-Baghdadi

Di sinilah unsur kemanusiaan ditiadakan, ditinggalkan. Dengan kata lain, mereka para pelaku penyerangan (bom) bunuh diri tidak mempertimbangkan aspek-aspek kemanusiaan, nilai-nilai kemanusiaan mereka langgar begitu saja. Mereka tutup mata. Yang penting, dia mati dan orang lain juga mati demi tercapainya tujuan. Karena itu, pilihan ini merupakan langkah pertama memasuki domain kematian.

Dengan melakukan tindakan itu, ”Mereka meninggalkan kehidupan mereka dan sekarang menjadi bagian dari gudang senjata yang tersedia untuk operasi masa depan yang dirancang dan direncanakan para pemimpin mereka. Bentuk kedua reifikasi adalah target manusia. Musuhnya diperlakukan sebagai sesuatu (thing), hama, tanpa jenis kelamin (tak peduli lagi laki atau perempuan), tak peduli tua atau muda.” (François Géré: 2007).

Di luar kewajaran

Bahwa terorisme bunuh diri muncul di negeri ini, Indonesia, sebenarnya ”aneh”. Sebab, lingkungan yang memungkinkan munculnya terorisme bunuh diri, menurut Leonard Weinberg dan Ami Pedahzur dalam Suicide Terrorism (2010), adalah masyarakat yang terbelah dan terpolarisasi menurut garis etnis dan agama.

Baca juga Kisah Korban dan Mantan Pelaku: Role Model Rekonsiliasi

Lebanon dapat menjadi contoh. Bahkan, di kalangan para ahli terorisme, Lebanon dipandang sebagai titik awal lahirnya gelombang terorisme bunuh diri, yakni pada awal tahun 1980-an. Terorisme bunuh diri di Lebanon pada waktu itu lebih dikaitkan dengan pendudukan tentara asing: AS dan Perancis. Jadi, di sini, faktor pendudukan tentara asing juga menjadi pendorong aksi terorisme bunuh diri.

Masyarakat Irak, misalnya, terpecah belah menjadi komunitas Shiah, Arab Sunni, dan Kurdi. Mereka tidak bisa bersatu. Setelah runtuhnya kekuasaan Presiden Saddam Hussein dan semasa pendudukan pasukan koalisi pimpinan AS terjadi saling serang, juga menggunakan serangan bom bunuh diri, di antara komunitas itu.

Kalau mengacu pada pendapat Leonard Weinberg dan Ami Pedahzur, kecil kemungkinan terorisme bunuh diri muncul di Indonesia. Sebab, masyarakat Indonesia —sekalipun kadang terjadi konflik bernuansa etnis, sektarian— secara umum tidak terpecah-pecah, tidak terbelah, dan tidak terpolarisasi seturut garis etnis dan agama.

Baca juga Negara dan Kompensasi Korban Terorisme

Apalagi, budaya martyrdom (kemartiran, kesyahidan), seperti diungkapkan oleh Leonard Weinberg dan Ami Pedahzur, tidak ada di negeri ini. Beda dengan masyarakat Shiah di Irak, misalnya, yang merayakan kehidupan individu dengan mengorbankan diri untuk tujuan yang lebih tinggi.

Di daerah konflik, kematian akibat kekerasan adalah hal biasa, yang bisa ditemui setiap hari. Orang yang hidup di lingkungan seperti itu, di beberapa negara Timur Tengah, cenderung menerima kematian secara lebih alami. Tetapi, budaya semacam itu cenderung dimanfaatkan oleh para pemimpin kelompok militan dengan balutan agama untuk keuntungan kelompok.

Akan tetapi, mengapa terorisme bunuh diri terjadi di Indonesia? Sejumlah bom bunuh diri terjadi di Indonesia: Bom Bali I (2002) dan II (2005), bom JW Marriott (2003), bom Kedubes Australia (2004), bom Masjid Az-Dzikra Cirebon (2011), bom Sarinah (2016), bom Mapolresta Solo (2016), dan bom Kampung Melayu (2017). Aksi-aksi bom bunuh diri tersebut dilakukan oleh pelaku pria, baik sendiri maupun berkelompok.

Radikalisasi keluarga

Aksi bom bunuh diri tidak hanya terjadi di Indonesia. Tetapi, yang lebih menarik adalah muncul pola baru dalam pelaksanaan bom bunuh diri di negeri ini. Serangan bom bunuh diri di Surabaya (2018) tidak seperti serangan-serangan sebelumnya yang dilakukan oleh pria, tetapi dilakukan bersama keluarga: suami, istri, dan anak. Sebelumnya, seorang perempuan, yakni Dian Yulia Novi, pernah akan menyerang Istana di Jakarta pada 2016, tetapi aksinya digagalkan pihak kepolisian.

Baca juga Terorisme Pasca-UU Nomor 5 Tahun 2018

Pada 2018, terjadi penyerangan terhadap Gereja Santa Maria Tidak Bercela, Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya. Dalam serangan ini, Dita Oepriyanto sebagai pelaku utama melakukan aksinya bersama istri dan empat anaknya. Aksi berikutnya ialah ledakan bom yang terjadi di sebuah unit rusunawa di Sidoarjo dan di Polrestabes Surabaya. Aksi-aksi tersebut juga dilakukan oleh satu keluarga bersama istri dan anak-anaknya.

Apa yang terjadi di Surabaya itu adalah sebuah fenomena baru: serangan bom bunuh diri dilakukan oleh sebuah keluarga. Pola Surabaya itu ditiru —meski belum terlaksana oleh pelaku bom bunuh diri di Medan; istri berencana menyerang Bali. Ini membuktikan bahwa teroris mampu meradikalisasi seluruh anggota keluarga. Sungguh sangat membahayakan. Terorisme masuk keluarga.

Pelibatan perempuan dalam aksi teror dilakukan karena perempuan cenderung tidak dicurigai ataupun diperiksa secara teliti oleh aparat ketika memasuki sasaran. Sementara pelibatan anak-anak merupakan suatu cara untuk memanipulasi karena orangtua yang membawa anak lebih jarang diperiksa oleh aparat keamanan. Cara-cara baru seperti itu perlu diantisipasi lebih jauh agar tidak berulang. Apalagi, kecil kemungkinan bahwa peradikalisasi keluarga tidak hanya menyasar satu keluarga; bisa jadi sudah terbentuk sebuah jaringan.

Baca juga Hari Santri dan Spirit Keindonesiaan

Para pelaku teror, teroris, selalu mencari cara-cara baru untuk mewujudkan keinginannya, termasuk pelibatan keluarga dalam aksi serangan bom bunuh diri. Serangan bom bunuh diri pun tidak muncul mendadak, tetapi merupakan sebuah proses dalam mencari cara-cara penyerangan baru.

Sebagai sebuah taktik teror, serangan bom bunuh diri merupakan salah satu serangan yang paling mematikan dan mengerikan. Secara strategis, serangan bom bunuh diri merupakan cara yang relatif murah dan efektif untuk mengacaukan situasi politik, ekonomi, dan militer suatu wilayah dan telah menjadi salah satu ancaman utama bagi upaya pemeliharaan perdamaian dan kedamaian.

Dan, kalau serangan berhasil, sulit dilacak. Sebab, pelaku tewas dalam serangan itu dan tidak seperti dalam aksi teror lainnya, tidak memerlukan sumber daya atau risiko yang didedikasikan untuk rencana pelarian. Begitu terbunuh, ia tidak dapat ditangkap dan diinterogasi kemudian mengungkapkan siapa yang mengirimnya. Karena itu, terorisme bunuh diri sungguh sangat membahayakan.

* Artikel ini dimuat di kompas.id, 16 November 2019

Baca juga “Secarius” di Abad Informasi

Most Popular

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...