HomeSuara KorbanPantang Menyerah Membesarkan Anak

Pantang Menyerah Membesarkan Anak

Tak pernah terbersit dalam pikiran Ni Wayan Rasni Susanti bahwa ia akan ditinggal pergi oleh suaminya selama-lamanya. Apalagi kondisi Rasni saat itu masih memiliki tiga orang anak yang harus dibesarkan. Mau tak mau, wanita asal Bali ini harus berjuang sendiri membesarkan ketiga anaknya lantaran ditinggal meninggal oleh suaminya.

Di tengah trauma dan kesedihan yang tak kunjung sembuh, Wayan pergi mencari pekerjaan. Ia pun mengemban tugas baru. Tidak hanya sebagai ibu, melainkan merangkap sebagai ‘ayah’ yang pergi mencari nafkah. Rasni mendatangi sejumlah tempat untuk melamar pekerjaan. Namun, nasib belum berpihak, tidak ada lowongan pekerjaan yang tersedia baginya.

Rasni tidak menyerah. Ia memutuskan berdagang kecil-kecilan dengan menjual pakaian keliling. Hal yang selalu menguatkan langkah kakinya adalah pesan mendiang suami, agar semua anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi. Mimpi suaminya menjadikan Rasni sebagai seorang ibu yang bertekad kuat dan semangat pantang menyerah.

Baca juga Berdamai Dengan Diri Sendiri

Tidak hanya dihadapkan dengan kerasnya perjuangan mencari nafkah, Rasni juga harus menenangkan ketiga anaknya yang menunjukkan perubahan sikap setelah kehilangan sosok ayah. Anaknya yang pertama acapkali terlihat sedih setelah kehilangan ayahnya. Padahal sebelumnya ia merupakan sosok anak yang riang. Anaknya yang kedua kerap marah ketika melihat Rasni tengah menonton televisi. “Setiap kali saya nonton tv dilarang sama dia. Ibu jangan nonton tv lagi. Dia nangis, masuk kamar lalu mengunci pintu,” tuturnya.

Sementara anak ketiganya yang masih berusia tiga tahun saat ayahnya tiada, dengan polosnya selalu menanyakan kapan ayahnya pulang. Pasalnya selama ini si bungsu biasa menunggu bapaknya pulang kerja sembari membawa oleh-oleh. Setelah ayahnya tiada, ia tetap menunggu di sana, berharap sang ayah pulang membawa oleh-oleh.

Padahal kondisi Rasni sendiri sedang tidak baik-baik saja. Ia sendiri juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bangkit dari sakitnya kehilangan, lebih kurang sepuluh tahun. Proses mencari nafkah, membesarkan anak, dan memulihkan diri berjalan secara bersamaan. Semua kesulitan dan kepedihan yang dialami oleh Rasni itu disebabkan oleh aksi kekerasan bernama terorisme.

Baca juga Keikhlasan yang Berbuah Kedamaian

Pada peristiwa Bom Bali 2002, suami Rasni meninggal dunia. Beberapa jam sebelum kejadian, sang suami pergi berangkat kerja seperti biasa. Sementara Rasni berada di rumah bersama ketiga anaknya. Sekitar pukul 22.30 malam, Rasni yang tengah bersandar di dinding rumahnya mendengarkan suara dentuman sebanyak dua kali. Dentuman yang kedua bahkan membuat dinding rumahnya bergetar.

Usut punya usut, bom tersebut meledak di Sari Club, Legian, tempat suami Rasni bekerja. Rasni diberitahu oleh kakak iparnya bahwa sebuah ledakan bom terjadi di sana. Mendengar kabar tersebut, tubuh Rasni langsung lemas. Seketika itu ia membayangkan, jika ledakan itu saja bisa menggetarkan rumahnya yang berjarak belasan kilometer dari tempat kejadian, sungguh betapa dahsyatnya ledakan itu.

Baca juga ”Saya Bersyukur Merasa Hidup Kembali”

Karena diliputi rasa penasaran, Rasni dan keluarga berusaha mencari tahu keberadaan suaminya, berharap masih selamat dari peristiwa itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Keberadaan sang suami tak kunjung ditemukan. Baru pada tahun 2004, kakak ipar Rasni datang membawa amplop yang berisi serpihan tulang jenazah suaminya.

Aksi terorisme nyatanya telah merenggut kebahagiaan Rasni dan anak-anaknya. Walaupun begitu, ketangguhan Rasni mengalahkan semua kepedihan itu. Kini, ia aktif mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat Indonesia. “Kekerasan dapat merusak orang lain dan sesama. Tanamkan cinta kasih di setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Semoga kita bisa merasakan cinta kasih untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain,” tegasnya.

Baca juga Supriyo Laksono, Bangkit Berkat Kehadiran Keluarga

Most Popular

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...