HomePilihan RedaksiBangkit Karena Rasa Tanggung...

Bangkit Karena Rasa Tanggung Jawab (Bagian II)

Aliansi Indonesia Damai- Ledakan Bom Bali 2005 memaksa I Ketut Suartana menjalani perawatan di Rumah Sakit Sanglah Denpasar selama hampir satu bulan. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan, gotri menancap di tulang kaki dan perut. Bagian dalam telinganya juga robek akibat kencangnya suara ledakan. “Saat itu kami para korban dapat bantuan tim medis Singapura. Telinga yang robek bisa sembuh, tapi tidak bisa kedengaran seperti semula,” katanya.

Sementara untuk mengambil gotri yang menancap di tubuhnya, Ketut harus menjalani beberapa kali operasi. Operasi pertama dilakukan untuk mengambil gotri di kakinya. Setelah operasi kaki berhasil, Ketut menyiapkan diri untuk operasi selanjutnya guna mengambil gotri di perut. Sayangnya, operasi tersebut urung terlaksana.

Baca juga Bangkit Karena Rasa Tanggung Jawab (Bagian I)

Menurut dokter, lebih berisiko jika gotri di dalam perut diambil mengingat posisinya yang sulit. “Akhirnya lebih baik dibiarin aja. Saya nego sama dokter agar diberi jaminan kalau ada keluhan, pelayanannya nanti dipercepat,” ujar Ketut.

Setelah kondisinya mulai membaik, Ketut diperbolehkan pulang dan melakukan rawat jalan. Meski operasi berhasil, ketika berjalan, kaki Ketut masih terseok-seok. Ketut merasa banyak yang berubah dari hidupnya.

“Sebenarnya kejadian yang saya alami ini adalah titik balik kehidupan saya. Akhirnya saya sebagai seorang ayah yang menjadi tulang punggung tidak bisa seperti biasa. Istri harus bekerja lagi. Saya bersyukur, keluarga dan anak mengerti dan support,” ungkapnya.

Baca juga Penyintas Bom Thamrin Memaafkan demi Ketenangan

Usai 3 bulan menjalani proses pemulihan, Ketut memaksakan diri untuk bekerja kembali. Beruntung, pihak Menega Café, tempatnya bekerja, memahami kondisi fisiknya. Melihat Ketut berjalan terpincang-pincang, pihak manajemen menempatkannya di posisi kasir.

“Saya dilema. Saya punya hutang untuk upacara anak kedua saya. Saya bingung apakah saya bisa bekerja. Masih ada trauma juga. Tapi setelah 3 bulan saya paksakan diri saya kerja lagi,” tutur pria 48 tahun ini.

Baca juga Dampak Berlipat Korban Terorisme

Hingga kini, luka Ketut masih membekas. Gotri masih bersarang di perutnya. Kaki dan telinganya pun tak bisa kembali normal seperti sedia kala, namun hidup harus tetap berlanjut. Ia memilih untuk bangkit. Ia meyakinkan dan memberanikan diri untuk tetap menjalani hidup dengan baik, mengingat tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

Pengalaman pahit membuat Ketut terus menyimpan harapan agar kejadian yang menimpanya tak akan pernah terulang kembali. “Untuk ke depannya saya berharap ada kedamaian dan tak ada lagi kejadian seperti  itu. Semoga pelaku tidak ulangi lagi apa yang mereka perbuat. Tidak ada gunanya saling menyakiti,” katanya.

Baca juga Bersahabat dengan Mantan Ekstremis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...