HomePilihan RedaksiBersahabat dengan Mantan Ekstremis

Bersahabat dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- Namanya Ni Luh Erniati. Akrab disapa Erni. Saat ini dipercaya oleh para penyintas Bom Bali sebagai Ketua Isana Dewata, komunitas penyintas Bom Bali 2002 dan 2005. Suami Erni, I Gede Badrawan, meninggal dunia dalam serangan bom di kawasan Legian, Kuta, Bali, 12 Oktober 2002.

Bagi Erni, kepergian suami untuk selamanya ibarat kehilangan separuh jiwa. Tak mudah baginya menerima kenyataan itu. Ia bertahun-tahun mengalami gejolak batin. Sebagai ikhtiar penyembuhan psikis, ia menjalani konseling bersama psikolog. Selain menyembuhkan dirinya sendiri, ia juga dituntut membesarkan kedua anaknya tanpa figur ayah.

Baca juga 18 Tahun Bom Bali: Cinta untuk Mereka yang Tiada (Bag. I)

Saking terpuruknya, Erni bahkan sempat merasa kakinya seolah mengambang ketika berdiri. Namun saat itu, salah seorang temannya berpetuah, “Ni Luh, kamu jangan mati sebelum benar-benar mati.” Ia lantas mengulang-ulang kata-kata itu setiap batinnya bergolak.

Setelah upayanya untuk berdamai dengan diri sendiri menuai hasil, ia mencoba meluaskan hatinya untuk memaafkan segala yang terjadi, termasuk mengampuni mantan pelaku terorisme. Tak sekadar memaafkan, ia bahkan menjalin persahabatan dengan Ali Fauzi Manzi, mantan pelaku ekstremisme kekerasan, yang juga adik dari trio pelaku Bom Bali 2002 (Ali Ghufron, Amrozi, Ali Imron).

Baca juga 18 Tahun Bom Bali: Cinta untuk Mereka yang Tiada (Bag. II-Terakhir)

Bagi Erni, bersahabat dan menjalin silaturahmi dengan mantan pelaku menjadi salah satu terapi untuk mengokohkan batinnya. Ia bisa menceritakan perasaan sakitnya kepada Ali Fauzi secara langsung. Awal bertemu dengan Ali Fauzi, ia merasa masih ada yang mengganjal dalam dirinya. Namun setelah keduanya saling bercerita, perasaan itu mulai luntur. Ia mulai memahami kisah Ali Fauzi dan pada akhirnya memilih memaafkannya.

“Saya mempelajari kisahnya. Saya sadar setiap orang punya kesalahan. Tidak ada orang yang tak punya salah. Tapi setiap orang punya kesempatan memperbaiki diri. Akhirnya kami saling memaafkan. Sambil menitip satu harapan agar tidak terulang lagi kejadian seperti di masa lalu,” kata Erni.

Baca juga Jalan Panjang Kebangkitan Korban Bom Bali 2002: Penyembuhan Luka (Bagian I)

Usai pertemuan pertama, Erni dan Ali Fauzi benar-benar menjadi sahabat. Erni bahkan sempat mendatangi kediaman Ali di Lamongan. “Saya memang niat bersilaturahmi, berkunjung ke rumah Pak Ali karena saya kebetulan sedang di Lamongan. Ketika di sana, saya bahkan disambut keluarga besarnya. Saya banyak mendengar kisah-kisahnya,” ujar Erni mengenang kunjungannya beberapa tahun silam.

Silaturahmi itu bukan hanya tanda saling memaafkan. Namun juga komitmen mereka untuk saling menjaga perdamaian. “Kini kami menjadi satu tim menyuarakan perdamaian bersama AIDA,” katanya.

Baca juga Jalan Panjang Kebangkitan Korban Bom Bali 2002: Upaya Kebangkitan (Bagian II-Terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...