HomePilihan RedaksiPenyintas Bom Thamrin Memaafkan...

Penyintas Bom Thamrin Memaafkan demi Ketenangan

Aliansi Indonesia Damai- Pernah terjebak dalam serangkaian aksi teror membuatnya trauma. Empat tahun silam, saat Nurman Permana dan kakaknya tengah menyeberang di perempatan Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, dentuman bom mengguncang lokasi mereka. Suasana berubah mencekam.

Saat perhatian Permana dan pejalan kaki lain tertuju pada ledakan di kedai kopi Starbuck, ledakan kedua terjadi di pos polisi, tepat di belakang mereka berada. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Serpihan bom menancap di lengan dan ketiak Permana. Gendang telinganya luka yang membuat pendengarannya belum pulih sampai sekarang.

Baca juga Dampak Berlipat Korban Terorisme

Meski sempat dihinggapi trauma cukup lama, Permana berhasil melalui masa-masa sulit. Lebih dari itu, Permana mengaku telah memaafkan pelakunya. “Memaafkan pelaku pengeboman itu pasti, biar akunya juga tenang. Jujur awalnya kesel, tapi seiring berjalannya waktu, alhamdulillah sudah tidak,” kata Permana dalam kegiatan dialog interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang digelar AIDA di SMAN 8 Bandar Lampung, beberapa waktu lalu.

Di hadapan 48 siswa-siswi yang bergabung secara daring, Permana menceritakan proses pemaafan itu. Salah satu prosesnya adalah saat bertemu Kurnia Widodo, mantan pelaku terorisme dalam sebuah acara yang digagas oleh AIDA dua tahun lalu. “Saya ngeliat Pak Kurnia ini setiap mau mengisahkan perjalanan pertobatannya selalu diawali dengan meminta maaf kepada korban-korban terorisme. Dan ia tidak pernah melupakan hal itu,” ucapnya.

Baca juga Berbagi Cerita Melawan Trauma

Dari pengalaman itu, Permana meyakini bahwa permintaan maaf Kurnia sangat tulus. Sebagai manusia biasa Permana merasa harus memaafkan dan memilih mengikhlaskan apa yang telah terjadi kepadanya. Menurut Permana, ketika hati terus merasa kesal dengan apa yang telah terjadi, maka tidak akan ada ketenangan hidup.

Selain itu, motivasinya memaafkan pelaku tak lepas dari ikhtiarnya menyambung tali silaturahmi antarpenyintas yang juga telah memaafkan pelakunya. Pertemuan itu saling menguatkan, mendukung, dan membantu penyintas lain yang masih belum pulih dari luka.

Baca juga Bersahabat dengan Mantan Ekstremis

Merespons pertanyaan siswa tentang hikmah yang diperolehnya dari musibah itu, Permana mengatakan bahwa peristiwa itu membuatnya jadi  ingat akan kematian yang bisa datang kapan saja. Sehingga Permana kini menjadi sosok yang lebih bisa menghargai waktu.

Salah seorang siswa mengaku terinspirasi dari sikap pemaafan Permana. “Saya salut banget dengan sikap Kak Permana yang bisa memaafkan dan mengikhlaskan. Misal saya sendiri jika mengalami itu tentu sangat berat,” ucapnya.

Baca juga Semangat Belajar Penyintas Bom

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berempati kala Kritis

Aliansi Indonesia Damai- Pagi menjelang siang, 9 September 2004, di dalam Bus...

‘Kepungan’ Menjaga Harmoni

Usai melaksanakan shalat idulfitri, warga Desa Genito, Windusari, Magelang, Jawa Tengah...

Kala Penyintas Bom Memerjuangkan Hak Asuh

Aliansi Indonesia Damai- “Setelah kejadian itu, Ibu tidak bisa melukiskan perasaan...

Pemaafan Penyintas Bom Thamrin untuk Perdamaian

Marah adalah sifat manusiawi ketika seseorang merasa tidak nyaman atau merasa...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...