HomePilihan RedaksiPengabdian Tak Kenal Keterbatasan

Pengabdian Tak Kenal Keterbatasan

Aliansi Indonesia Damai– Pagi itu, 9 September 2004, dengan gagah seorang pemuda anggota Direktorat Pengamanan Obyek Vital (Pam Obvit) Polda Metro Jaya sedang bersiaga di depan gedung Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Dia lah Asep Wahyudi, pria berdarah Sunda yang masih berusia 20 tahun kala itu. Impiannya untuk berkarier di kepolisian masih tinggi. Ia tak menyana bahwa hari itu akan menjadi titik balik perubahan hidupnya.

Sembari bertugas, Asep mengobrol seperti biasa dengan kawannya. Sekitar pukul 10.00 WIB, ia dan kawannya melihat mobil box mencoba memasuki area gedung kedutaan. Awalnya ia mengira akan terjadi tabrakan. Ketika hendak menghampiri mobil tersebut, ledakan dahsyat terjadi.

Baca juga Ibu Korban Bom: Kenapa Membunuh Anak Saya?

Asep terlempar ke selokan. Ia mencoba merangkak dan berteriak meminta tolong, namun tak ada yang mendengar. Suasana porak poranda. Orang-orang bersimbah darah. Beberapa bangunan hancur. Rerentuhan kaca ada di mana-mana. Pandangan Asep menjadi gelap. Ia tak sadarkan diri.

Ia mendapatkan perawatan intensif  selama dua minggu di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit di Singapura. Asep tak sadarkan diri selama 9 bulan. Ketika sadar, ia justru mengalami amnesia. Butuh waktu 2 tahun untuk menyembuhkan ingatannya. Bahkan ia sempat lupa bahwa ia adalah seorang polisi.

Baca juga Ujian Ketangguhan Iman

Ledakan dahsyat itu menciptakan luka yang juga dahsyat di tubuh Asep. Ia harus menjadi disabilitas seumur hidup. “Sampai saat ini saya mengalami cacat seumur hidup, mata saya nggak bisa lihat satu, telinga saya nggak bisa denger satu. Jalan saya jadi pincang, nggak bisa lurus,” kata Asep sambil terbata-bata saat membagi kisahnya di salah satu kegiatan AIDA.

Asep tak lagi bisa menjalani hidupnya seperti sedia kala. Bahkan untuk bernafas saja, ia harus mendapatkan sokongan selang oksigen. Saraf pernafasan Asep pada bagian trakea terganggu dan membuatnya sering tersengal-sengal saat berbicara. Hingga 16 tahun berlalu, pengobatan dan perawatan masih harus ia jalani.

Baca juga Anakku Penguatku

Bukan hanya itu, karena keterbatasan fisiknya, Asep dua kali gagal menjalani bahtera rumah tangga. “Saya dua kali mengalami kegagalan rumah tangga karena istri saya tidak menerima kondisi saya seperti ini. Dua kali menikah gagal. Yang kedua kali ini, kabur lagi istri saya karena fisik saya tidak normal seperti orang normal,” katanya.

Penderitaan tak hanya dirasakan Asep, tapi juga keluarga Asep. Beruntung keluarga Asep tak henti memberikan suntikan semangat agar Asep bisa bertahan di balik keterbatasan fisiknya saat ini. Kakak perempuan Asep, Teti, selalu mendampingi Asep di masa-masa terpuruknya.

Baca juga Berbagi Cerita Melawan Trauma

“Untuk melangsungkan hidup saja, Asep susah, Pak. Karena rumah tangga tidak hanya tuntutan materi. Saya sebagai keluarga merasa kasihan, sudah 16 tahun saya ngurus asep dengan ketidaksempurnaan Asep. Sebagai kakak saya selalu merasakan penderitaan Asep,” ujar Teti tak kuasa menahan air matanya.

Untuk mengembalikan semangatnya, kini Asep ditugaskan di Polsek Sumedang Selatan. “Setidaknya bisa menghibur diri, untuk bisa menempatkan posisinya bahwa dia seorang aparat. Karena saat kejadian kan Asep masih bujangan. Masih banyak harapan yang dicita-citakan. Tapi sejak kejadian itu harapan-harapannya pupus diganti dengan penuh perjuangan,” ujar Teti.

Baca juga Dukungan Kerabat untuk Pemulihan Korban Bom Kuningan

Asep berharap tak akan ada lagi yang merasakan penderitaan seperti yang ia rasakan. “Jangan terulang lagi ulah mereka seperti saya korbannya. Menderita seumur hidup saya. Saya menyayangkan ulang mereka berbuat zalim sesama manusia,” kata Asep.

Semangat dalam diri Asep terus coba ia tumbuhkan. Ia tetap ingin menjalani pengabdiannya sebaik mungkin sebagai seorang polisi. Ia telah memimpikan menjadi seorang polisi sejak ia masih kecil. Kini, meski kondisinya terbatas, pengabdiannya tak pernah ada batas.

Baca juga Menepis Amarah Membangun Damai

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....