HomeInspirasiAspirasi DamaiPemaafan Penyintas Bom Thamrin...

Pemaafan Penyintas Bom Thamrin untuk Perdamaian

Marah adalah sifat manusiawi ketika seseorang merasa tidak nyaman atau merasa dirugikan dengan situasi dan kondisi yang ia alami. Meski manusiawi, namun ternyata ada hal yang lebih bermanfaat dan lebih mulia yang bisa dilakukan selain marah, yakni mengikhlaskan dan memaafkan.

Terlalu lama menyimpan amarah hanya akan menyakiti diri sendiri. Sedangkan mengikhlaskan apa yang terjadi lalu kemudian memaafkan, justru akan membuat hidup menjadi lebih baik, bagi kesehatan mental diri sendiri maupun kedamaian sekitar.

Baca juga Keutamaan Memaafkan

Pengalaman inilah yang pernah dialami oleh Nurman Permana, salah satu korban Bom Thamrin. Pagi menjelang siang, 14 Januari 2016, bom meledak di pos polisi perempatan Plaza Sarinah, saat ia dan kakaknya, Agus Kurnia, tengah menyeberang jalan. Akibatnya beberapa serpihan bom melukai lengan dan ketiaknya. Gendang telinga Nurman pun mengalami cedera dan belum bisa pulih seperti sedia kala.

Dalam sebuah kegiatan bersama AIDA, Permana mengaku pernah merasa sangat kesal dengan perbuatan para teroris. Karena mereka telah membuat dirinya mengalami masa-masa sulit yang cukup lama, baik trauma psikis maupun serangkaian perawatan untuk luka fisiknya. Namun lambat laun ia menyadari bahwa selama masih menyimpan amarah dengan apa yang  telah ia alami, selama itulah hidupnya tidak tenang.

Baca juga 2021: Instrospeksi untuk Kemaslahatan

Tidak hanya Permana yang merasakan dampak baik dari ikhlas memaafkan. Kakaknya, Agus Kurnia, semula juga sangat marah dengan ketidakadilan yang ia terima. Namun dengan seringnya bersilaturahmi dengan para penyintas bom lainnya, kemarahan dan traumanya pun mereda.

Pada pertengahan tahun 2018, ia mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan mantan pelaku terorisme yang telah bertobat dan beralih menyebarkan perdamaian. Pada pertemuan itulah Agus Kurnia membuat keputusan terbaiknya, yaitu memaafkan mantan pelaku terorisme dan bertekad satu suara untuk mensyiarkan perdamaian demi masa depan Indonesia yang lebih damai.

Baca juga Menaklukkan Hati dengan Hati

Membuang rasa dendam dan amarah, sehingga menyembuhkan diri sendiri juga telah dirasakan manfaatnya oleh Chairil Islami,  juga korban Bom Thamrin. Bahkan harapannya sangat besar. Dengan mengikhlaskan dan memaafkan maka akan tercipta kedamaian masa depan.

“Awal-awal saya memang merasa emosi dan dendam. Saya pikir itu manusiawi. Namun setelah bertemu dan berdialog, mereka punya itikad baik untuk meminta maaf. Maka sebagai sesama muslim, saya juga harus memaafkan. Semoga dunia dan Indonesia lebih damai,” ucapnya berharap.

Baca juga Dari Penyintas Muda untuk Perdamaian Indonesia

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berempati kala Kritis

Aliansi Indonesia Damai- Pagi menjelang siang, 9 September 2004, di dalam Bus...

‘Kepungan’ Menjaga Harmoni

Usai melaksanakan shalat idulfitri, warga Desa Genito, Windusari, Magelang, Jawa Tengah...

Kala Penyintas Bom Memerjuangkan Hak Asuh

Aliansi Indonesia Damai- “Setelah kejadian itu, Ibu tidak bisa melukiskan perasaan...

Ujian Ketangguhan Iman

Aliansi Indonesia Damai- Josuwa Ramos masih menikmati status barunya sebagai seorang...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...