HomePilihan RedaksiMenepis Amarah Membangun Damai

Menepis Amarah Membangun Damai

Aliansi Indonesia Damai- Ledakan dahsyat yang terjadi enam belas tahun silam tidak mudah dilupakan oleh Sudjarwo. 9 September 2004, dirinya tengah bertugas sebagai tenaga keamanan di kantor Kedutaan Besar Australia, kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Tubuh Jarwo, sapaan akrab Sudjarwo, terpental. Suasana pagi menjelang siang itu berubah menjadi gelap gulita. Gumpalan asap membumbung tinggi.

Telinganya mendadak mendengung. Ia bingung dengan apa yang terjadi. Saat membuka mata, Jarwo merasakan darah mengucur dari kepalanya. Dia melihat rekan-rekannya sesama petugas keamanan tergeletak. “Pengalaman buruk itu tidak pernah saya alami sebelumnya selama hidup saya. Tidak ada yang berharap melihat kondisi kacau dan parah seperti itu,” ujarnya mengingat peristiwa kelam.

Baca juga Jalan Panjang Pemaafan Penyintas Bom

Tak lama setelahnya, Jarwo menyadari bahwa lengannya terluka parah. Selang beberapa saat, ia mendapatkan bantuan dan dilarikan ke Rumah Sakit. “Ada gotri dan serpihan yang menancap di lengan kanan. Luka yang saya rasakan kala itu sangat panas dan seakan tubuh terbakar,” tuturnya.

Untuk memulihkan cederanya, ia harus menjalani fisioterapi tangan kirinya selama satu tahun. Terapi itu dilakukan untuk bisa menggerakan kembali tangan kirinya. “Pencabutan beberapa proyektil dan pen di lengan kiri. Beberapa anggota tubuh diimplan dengan tulang pinggul,” cerita Sudjarwo menggambarkan kondisinya saat itu.

Baca juga Pemaafan dalam Keimanan

Selain itu, perbaikan otot syaraf pun dilakukan di beberapa bagian tubuhnya. Sebagian proyektil yang tertancap di tubuhnya tidak bisa diangkat hingga sekarang karena justru membahayakan kesehatannya.

Usia Jarwo kala itu masih sangat muda, awal 20-an. Ia merasa putus asa untuk meneruskan hidup. Harapan-harapannya seolah telah hilang. Ia mengalami titik terendah dalam hidupnya.

Ketika melihat pemberitaan tentang para pelaku bom, ia merasa dendam dan marah. Ia merasa tak bersalah namun justru menjadi korban. “Di awal-awal saya sangat dendam kepada para pelaku. Sumpah serapah saya ucapkan kepada para pelaku bom,” Jarwo mengenang amarahnya.

Baca juga Ilham Perdamaian

Berkat dorongan dari keluarga, kolega, dan teman-temannya yang terus menerus memberikan semangat, ia mencoba pulih dan berusaha melawan segala luka. Ia juga mendapatkan motivasi dari sesama penyintas bom. Ia merasa bersyukur justru setelah mengetahui keadaan para korban lain yang lebih parah, bahkan ada yang meninggal dunia. “Namun mereka lebih kuat dan menguatkan,” katanya.

Pada titik itu, Jarwo tersadar untuk bangkit. Kini ia bersama penyintas terorisme lain serta mantan pelaku terorisme yang telah insaf aktif mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat luas.

Baca juga Korban Bom Kuningan Berdamai dengan Kenyataan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...